Shadow

Keraton Yogyakarta Kembali Memanas, Inilah Parwa Budaya yang Jadi Pemicu

Bagikan

Keraton Yogyakarta Kembali Memanas, Inilah Parwa Budaya yang Jadi Pemicu
Foto: Instagram Kratonjogja

Yogyakarta (23/1/2021):  Beberapa hari ini media memberitakan kondisi Keraton Yogyakarta yang kembali memanas. Pemicunya adalah dhawuh dalem  Sultan Hamengku Buwono X yang mencopot GBPH Prabukusumo dan GBPH Yudhaningrat dari jabatannya di Keraton Yogyakarta.

Ndawuh dalem  berbentuk surat itu tertanggal  2 Desember 2020 dan ditandatangani Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Isinya ; GBPH Prabukusumo dicopot dari jabatannya sebagai Penghageng (pimpinan/kepala) Kawedanan Hageng Punakawan Nitya Budaya. Posisi GBPH Prabukusumo ini digantikan oleh putri keempat Sultan HB X, GKR Bendara.

Keraton Yogyakarta Kembali Memanas, Inilah Parwa Budaya yang Jadi Pemicu
Foto: Instagram Kratonjogja

Lalu GBPH Yudhaningrat dicopot dari jabatannya sebagai penghageng (pimpinan/kepala) Kawedanan Hageng Punakawan Parwa Budaya. Jabatan GBPH Yudhaningrat ini digantikan oleh putri sulung Sultan HB X, GKR Mangkubumi.

Ndawuh dalem untuk pencopotan GBPH Yudhaningrat, berikut ini:

GUSTI KANGJENG RATU MANGKUBUMI

HAMEMAYU HAYUNING BAWONO LANGGENG ING MATARAM

Wakil Penggedhe, Kawedanan Hageng Punakawan PARWABUDAYA KARATON

NGAYOGYAKARTA HADININGRAT Ingsun kersakake dadi Penggedhe Kawedanan Hageng Punakawan PARWABUDAYA KARATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT

Sabanjure kalungguhane GUSTI BANDARA PANGERAN HARYA Drs. Haji YUDANINGRAT, MM minangka Penggedhe ana ing Tatarakite Peprintahan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, ingsun jabel.

Keraton Yogyakarta Kembali Memanas, Inilah Parwa Budaya yang Jadi Pemicu
GKR Mangkubumi, Foto: Tepas Tandha Yekti

Apakah Kawedanan Hageng Punakawan Parwa Budaya?  Parwa Budaya ini merupakan salah satu dari empat kawedanan hageng yang ada di lingkup keraton. Jadi, keraton itu  memiliki tata pemerintahan yang merujuk pada Tata Rakit Paprentahan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Inilah panduan bagi pelaksanaan tata pemerintahan lengkap  dengan struktur, tugas dan fungsi masing-masing Departemen (Kawedanan Hageng) dan Dinas (Tepas). Raja Keraton Yogyakarta dibantu empat departemen operasional yang disebut Kawedanan Hageng Punakawan dan satu Departemen Administrasi. Keempat Kawedanan  Hageng tersebut adalah (1) Kawedanan Hageng Parwa Budaya; (2) Kawedanan Hageng Punakawan Nitya Budaya; (3) Kawedanan Hageng Punakawan Parasraya Budaya; dan (4) Kawedanan Hageng Panitra Pura.

Keraton Yogyakarta Kembali Memanas, Inilah Parwa Budaya yang Jadi Pemicu
Foto: Instagram Kratonjogja

Parwa Budaya itu merupakan departemen Inti Budaya dengan tugas, fungsi dan kewenangannya mengurusi dan mengatur pelaksanaan kebijakan di bidang agama, adat dan kebudayaan. Sekarang kawedanan ini dikomandani Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng Ing Mataram.

Keraton Pusat Budaya

Lewat fungsi-fungsi Parwa Budaya itu mau ditegaskan bahwa Keraton Yogyakarta itu merupakan pusat budaya. Beberapa budayawan mengemukakan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Keraton Yogyakarta merupakan pusat kebudayaan Jawa yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tidak hanya menjadi tempat tinggal raja dan keluarganya semata, Keraton juga menjadi kiblat perkembangan budaya Jawa, sekaligus penjaga nyala kebudayaan tersebut. Maka, tak mengherankan sampai sekarang masih banyak yang ingin menjadi abdi dalem keraton semata-mata ingin ikut melestarikan budaya Jawa.

Baca Juga :  Dukung Perekonomian Jawa Bagian Selatan, YIA Layani Impor 27 Ton Vanili dari Papua Nugini
Keraton Yogyakarta Kembali Memanas, Inilah Parwa Budaya yang Jadi Pemicu
Foto: Instagram Kratonjogja

Laporan penelitian tahun 2005, Agus Sudaryanto yang saat itu sebagai Dosen Hukum Adat Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, melakukan wawancara dengan sejumlah abdi dalem. Mereka  yang mempunyai pangkat lurah ke bawah menyatakan bahwa salah satu alasan menjadi abdi dalem adalah agar mereka dapat memahami dan menjalani sopan santun (unggah- ungguh) menurut budaya Jawa. Para abdi dalem ini menyadari bahwa sekarang ini sopan santun yang bersumber dari budaya Jawa sudah mulai luntur dan banyak yang tidak dimengerti oleh orang Jawa itu sendiri. Padahal sopan santun yang ada di kalangan orang Jawa itu sebenarnya sangat halus dan mempunyai nilai yang luhur. Hal ini dikarenakan orang Jawa selalu berpegang pada rasa dalam sikap dan tindakannya (wong Jawa kuwi papaning rasa).

Keraton Yogyakarta Kembali Memanas, Inilah Parwa Budaya yang Jadi Pemicu
SrI Sultan Hamengku Buwono X, Foto: Tepas Tandha Yekti

Pada laporan berjudul HAK DAN KEWAJIBAN ABDI DALEM DALAM PEMERINTAHAN KERATON YOGYAKARTA disebutkan sopan santun atau tatakrama (suba sita) tidak dapat dipisahkan dengan masalah budi pekerti. Orang Jawa dikatakan berbudi pekerti luhur bila mampu menerapkan tatakrama secara baik dan benar atau tepat. Jika penerapan tatakrama kurang tepat, maka dapat dikatakan bahwa seseorang itu sudah tidak atau belum berjiwa Jawa (wong Jawa ning ora njawani atau ilang Jawane).

Sebagai orang Jawa hendaknya mau merendahkan diri, merasa bodoh, dan berwatak atau bersikap menerima. Hal ini tidak berarti bodoh itu tidak tahu, orang yang tahu dirinya bodoh sesungguhnya dia cerdas. Apalagi didasari watak dan perilaku mau mengakui diri, mau menerima kenyataan bahwa semua kejadian yang dijalani dan menimpa kepada manusia itu sesungguhnya kehendak Tuhan.

Keraton Yogyakarta Kembali Memanas, Inilah Parwa Budaya yang Jadi Pemicu
Ilustrasi Abdi Dalem, Foto: Instagram Kratonjogja

Apa yang dikemukakan abdi dalem itu hanyalah bagian kecil dari peranan Keraton Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan. Masih banyak yang patut dilestarikan budaya adiluhung Jawa. Di sinilah ditunggu peran GKR Mangkubumi yang bakal menggerakkan Parwa Budaya. (**)

BESOK : Keraton Yogyakarta Kembali Memanas, Penggedhe Nadya Budaya Juga Jadi Pemicu


Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *