Gratis untuk Publik, SBI Hadirkan Pagelaran Wayang Orang “Basukarna” di Gedung Kesenian Jakarta

Bagikan

Gratis untuk Publik, SBI Hadirkan Pagelaran Wayang Orang “Basukarna” di Gedung Kesenian Jakarta
Press Conference Pagelaran Wayang Orang Basukarna di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat (16/1/2026). (Foto: Nusantara Info/Rizki Indriyanah)

Jakarta, Nusantara Info: Setelah sempat terhenti akibat pandemi Covid-19, Satya Budaya Indonesia (SBI) kembali menghidupkan panggung seni tradisi dengan mempersembahkan Pagelaran Wayang Orang berlakon “Basukarna” di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Sabtu (17/1/2026), pukul 16.00–18.00 WIB.

Pagelaran ini bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga menjadi momentum kebangkitan SBI sekaligus menandai penyelenggaraan pagelaran ke-24 sejak komunitas seni lintas profesi tersebut berdiri pada 1 Maret 2006.

Ketua Penyelenggara Pagelaran Wayang Orang Basukarna, Exacty Sukamdani Sryantoro, mengatakan bahwa pementasan ini didukung oleh kolaborasi penari dari beragam latar belakang profesi. Mereka terdiri atas pengusaha, dokter, arsitek, pengacara, notaris, hingga pecinta seni budaya yang bersinergi dengan seniman profesional Bharata.

“Sebagai komunitas seni lintas profesi, SBI berkomitmen melestarikan seni budaya Nusantara, khususnya Wayang Orang. Tahun ini, Satya Budaya Indonesia bangkit kembali sebagai wujud dedikasi berkelanjutan terhadap seni tradisi,” ujar Exacty dalam Press Conference Pagelaran Wayang Orang Basukarna di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat (16/1/2026).

Exacty menjelaskan, pemilihan lakon Basukarna dilandasi refleksi atas kondisi sosial dan moral bangsa saat ini. Nilai-nilai integritas, kejujuran, komitmen, keberanian menyuarakan kebenaran, serta tanggung jawab moral menuju bangsa yang bermartabat menjadi pesan utama yang ingin disampaikan melalui medium seni.

“Pemilihan lakon Basukarna ini karena kami melihat dinamika masyarakat dan menyuarakannya melalui seni,” terangnya.

Konferensi pers tersebut turut menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Wiryanti Sukamdani, Noni Sri Ayati Purnomo, dan Mudjo Setiyo. Sebagai sutradara pagelaran, Mudjo Setiyo mengungkapkan bahwa lakon Basukarna merupakan banjaran atau biografi singkat tokoh Karna.

Menurut Mudjo, cerita menggambarkan perjalanan hidup Karna sejak kelahiran, masa remaja, hingga memperoleh kedudukan sebagai wujud pengabdiannya di Astina. Kisah berlanjut pada peran penting Karna sebagai senopati Kurawa dalam perang Bharatayuda.

Baca Juga :  Papua Masuk Nominasi TPAKD Award 2025, Gubernur Matius Tegaskan Komitmen Wujudkan Ekonomi Inklusif di Tanah Papua

“Pada puncak perang Bharatayuda, Basukarna berhadapan dengan takdir ketika harus menghadapi Arjuna, saudara kandungnya dari satu ibu, Dewi Kunthi. Dalam duel penentuan itu, kehormatan, persaudaraan, dan ajal bertemu di satu medan perang. Demi menjunjung kehormatan dan kesetiaan, Basukarna tetap berdiri di pihak Kurawa dan rela gugur sebagai simbol pengorbanan serta keteguhan prinsip,” ungkapnya.

Pagelaran Wayang Orang Basukarna mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai bagian dari upaya menjadikan Jakarta sebagai kota budaya dan pariwisata. Dukungan juga datang dari pihak swasta, yakni Bluebird Group, Sahid Group, dan Djarum Foundation.

“Dengan adanya kolaborasi antara seniman, komunitas, dan pemerintah diharapkan mampu memperkuat ekosistem seni pertunjukan tradisional di Jakarta,” ujar Wiryanti Sukamdani.

Tak hanya menjadi tontonan yang menghibur, pagelaran ini juga diharapkan menjadi tuntunan moral sekaligus ruang pembelajaran nilai-nilai luhur budaya bangsa bagi masyarakat luas, khususnya generasi muda sebagai penerus bangsa.

Sebagai informasi, Pagelaran Wayang Orang Basukarna ini tidak memungut biaya masuk atau menjual tiket masuk, melainkan menggalang donasi untuk para seniman Bharata. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait