Shadow

Congklak, Permainan Tradisional yang Penuh Unsur Kebudayaan, Namun Terlupakan

Bagikan

Congklak, Permainan Tradisional yang Penuh Unsur Kebudayaan, Namun Terlupakan
Sumber Foto: Istimewa

Jakarta (13/5/2022): Seiring perkembangan zaman dan semakin majunya teknologi, membuat permainan tradisional berangsur-angsur mulai ditinggalkan, bahkan terlupakan. Teknologi yang semakin canggih, membuat banyak orang memilih memainkan gadgetnya.

Tak ayal, hal ini juga terjadi terhadap generasi muda Indonesia yang dikenal dengan sebutan generasi millennial. Terbawa arus perkembangan zaman dan teknologi, banyak dari mereka yang tak mengenal permainan tradisional Indonesia. Mereka lupa, bahwa Indonesia memiliki begitu banyak permainan tradisional yang penuh dengan unsur kebudayaan, salah satunya adalah permainan tradisional

Congklak merupakan salah satu dari 2.600 permainan tradisional yang ada di Indonesia dan menjadi warisan budaya. Permainan ini memiliki banyak nama, di Jawa dikenal dengan sebutan dhakon. Di Sumatera dikenal dengan sebutan congkak, sedangkan di Lampung permainan ini popular dengan nama dentuman lamban. Sementara di kawasan Sulawesi, permainan ini dikenal dengan istilah maggaleceng. Sementara dalam bahasa Arab, congklak disebut mancala, dalam bahasa Inggris, mancala memiliki makna ‘untuk bergerak’.

Permainan congklak bisa dimainkan oleh anak-anak dan dewasa, baik perempuan maupun laki-laki. Namun saat ini, permainan congklak lebih sering terlihat dimainkan oleh kaum perempuan, terutama anak-anak yang berusia 6 – 12 tahun.

Sejarah Permainan Congklak

Dikutip dari laman Indonesia.go.id, permainan congklak telah lama berkembang di Asia, khususnya di kawasan Melayu. Menurut sejarah, congklak pertama kali masuk dan berkembang di Indonesia dibawa oleh bangsa Arab yang datang untuk berdagang dan berdakwah. Arkeologi dan beberapa ahli percaya, bahwa congklak berasal dari Timur Tengah lalu menyebar ke Afrika. Kemudian, congklak berkembang di Asia oleh pedagang Arab.

Saat masuk ke Indonesia, permainan ini sering dimainkan oleh anak para bangsawan yang sering bertemu dengan para pedagang tersebut.

Baca Juga :  Revolusi Toilet ala Menteri Sandiaga, Pertimbangkan Aspek Budaya

Banyak ahli yang menduga, bahwa permainan congklak mungkin merupakan papan permainan tertua yang ada di dunia. Permainan congklak diperkirakan telah ada sejak 7000 hingga 5000 SM.

Congklak, Permainan Tradisional yang Penuh Unsur Kebudayaan, Namun Terlupakan
Sumber Foto: Istimewa

Manfaat Permainan Congklak

Permainan tradisional satu ini memiliki banyak manfaat. Berdasarkan hasil sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang psikolog independent asal Inggris, yaitu Dr Linda Papadopoulos menyebutkan, bahwa permainan tradisional sangat penting untuk anak. Menurutnya, permainan-permainan tersebut sangat penting untuk perkembangan fisik dan mental.

“Permainan tradisional juga dapat melatih kepercayaan diri dan ketahanan mental. Hal itu harus dimiliki oleh anak-anak agar pembentukan imej anak baik. Pembentukan imej anak sangat penting agar mentalnya tidak mudah goyah akibat perkataan negatif dari teman sebayanya,” jelasnya.

Ketika bermain congklak, anak-anak akan dilatih jujur, sabar, berhitung dan strategi. Kegiatan mengambil biji congklak dan memasukkannya ke tiap lubang melatih anak untuk mengasah kemampuan motorik halusnya. Selain itu, kegiatan tersebut juga dapat membuat tangan anak menjadi lebih luwes sehingga anak akan lebih siap dalam belajar menulis.

Tak hanya itu saja. Bermain congklak juga mampu mengasah otak kiri, karena dalam permainan ini, pemain harus mengumpulkan biji congklak yang lebih banyak dari lawannya agar dapat menang. Hal inilah yang membuat anak harus mengatur strategi dan melakukan perhitungan dalam proses permainan tersebut agar dapat memenangkannya. (*)


Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *