
Tim Kemendagri dan relawan bersama warga terdampak bencana di Aceh berpose bersama paket bantuan dari Kemendagri Peduli Bencana, Sabtu (27/12/2025). (Foto: Humas Ditjen Bina Adwil)
Banda Aceh, Nusantara Info: Pj Gubernur Aceh Safrizal ZA periode 2024-2025 menegaskan tradisi peumulia jamee adat Geutanyoe, yang berarti memuliakan tamu, tetap dijalankan oleh warga Aceh di masa suka maupun duka. Tradisi ini kembali terlihat nyata ketika relawan datang membantu korban bencana banjir dan longsor.
Safrizal mencontohkan saat PON di Aceh pada September 2024, masyarakat diajak mengamalkan pesan entadu bahwa memuliakan tamu bisa dilakukan dalam kondisi apapun, dengan niat tulus mengharap pahala dari Allah SWT.
“Kalbu saya selalu bergetar menyaksikan warga terdampak banjir masih sempat menyajikan air kelapa atau durian kepada relawan yang membantu. Padahal tanpa diberikan, relawan paham kondisi. Pemberian ini sebagai tanda ucapan terima kasih,” ujar Safrizal, Sabtu (27/12/2025) di Banda Aceh.
Safrizal yang sejak 27 November 2025 berada di Sumatra Utara dan Aceh menuturkan kisah mengharukan petugas maritim shipping yang membawa alat berat ke Pidie Jaya untuk menertibkan tebing sungai. Meski lelah, warga terdampak bencana masih menyuguhkan air kelapa muda kepada petugas.
“Di video saya saksikan setelah personel TNI menurunkan bantuan di Gayo Lues, warga termasuk perempuan berlarian ke helikopter memberikan durian sebagai tanda terima kasih. Padahal personel TNI tidak perlu diberikan karena itu sudah kewajiban negara. Namun warga tetap berpatokan pada peumulia jamee adat geutanyoe,” jelas Safrizal, yang juga menjabat Dirjen Bina Adwil Kemendagri.
Safrizal juga menceritakan pengalaman relawan Farwiza Farhan, yang masuk dalam TIME100 Next 2022, yang menangis tersedu-sedu saat warga terdampak bencana memberikan air kelapa muda sebagai tanda terima kasih.
“Di lapangan, warga terdampak bencana tetap memuliakan tamu yang datang dari jauh membawa bantuan. Mereka memberikan apa yang ada di sekitarnya seperti air kelapa muda, durian, dan lain-lain. Kita fokus pada percepatan pembangunan hunian sementara yang mencapai sekitar 500 ribu pengungsi di tiga provinsi,” kata Safrizal.
Mengutip BNPB, hingga Sabtu (27/12/2025), jumlah korban meninggal dunia tercatat 1.137 jiwa, sementara 163 orang masih hilang. Sebanyak 457 ribu warga mengungsi akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi sejak awal Desember. Dampak bencana meliputi 52 kabupaten/kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Tradisi peumulia jamee adat geutanyoe kembali menunjukkan nilai kearifan lokal Aceh, di mana warga tetap menebarkan keramahan meski sedang dilanda musibah. Keramahan ini diyakini meningkatkan semangat relawan dan memberi kesan mendalam bagi mereka yang membantu korban bencana. (*)






