
Jakarta, Nusantara Info: Kasus child grooming kembali menjadi sorotan publik setelah aktris Aurelie Moeremans mengungkap pengalamannya melalui buku Broken Strings. Kisah pribadi ini menegaskan bahwa ancaman terhadap anak tidak selalu tampak secara fisik, melainkan bisa muncul secara bertahap, tersembunyi, dan sering kali tidak disadari oleh korban maupun orang di sekitarnya.
Apa Itu Child Grooming?
Secara umum, child grooming adalah proses manipulasi yang dilakukan oleh orang dewasa untuk membangun kedekatan emosional dengan anak di bawah umur dengan tujuan eksploitasi, khususnya seksual.
Pelaku, yang dikenal sebagai child groomer, tidak selalu orang asing. Mereka bisa berasal dari lingkungan dekat anak, seperti anggota keluarga, guru, senior, teman dekat, atau orang yang dikenal melalui media sosial dan platform permainan daring.
Berbeda dengan kekerasan seksual yang terlihat secara langsung, child grooming sering berlangsung lama, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Pelaku pada tahap awal biasanya menunjukkan diri sebagai sosok ramah, perhatian, dan dapat dipercaya, sehingga anak tidak merasa berada dalam bahaya.
Modus Bertahap yang Sulit Disadari
Setelah kepercayaan anak terbentuk, pelaku mulai menjalankan modus eksploitasi perlahan. Bentuknya beragam, mulai dari komunikasi privat, ajakan bertemu, permintaan foto bernuansa seksual, hingga sentuhan fisik ringan atau tindakan seksual.
Anak yang sudah memiliki ikatan emosional dengan pelaku cenderung kesulitan menolak. Mereka bisa merasa bingung, takut kehilangan sosok yang dianggap penting, dan tidak jarang menjadi korban pemerasan emosional (blackmail) agar tetap bungkam.
Penting digarisbawahi, persetujuan anak dalam konteks ini tidak sah. Perbedaan usia, kekuasaan, dan pengetahuan membuat anak rentan dimanipulasi dan diarahkan sesuai kehendak pelaku.
Ancaman Child Grooming di Era Digital
Perkembangan teknologi membuka peluang bagi pelaku child grooming untuk beraksi secara daring. Media sosial, aplikasi pesan instan, dan gim online yang memungkinkan interaksi satu lawan satu menjadi ruang rawan.
Anak sering mengira berinteraksi dengan teman sebaya, sementara orang tua tidak menyadari risiko yang mengintai. Minimnya pengawasan dan literasi digital memperbesar peluang anak menjadi korban.
Pelaku grooming kerap memosisikan diri sebagai satu-satunya figur yang bisa dipercaya anak, memvalidasi keluhan anak terhadap orang tua, atau menciptakan kesan lebih memahami anak daripada orang dewasa di sekitarnya.
Anak yang kurang perhatian atau merasa tertekan di rumah lebih rentan menjadi target. Karena itu, pencegahan tidak cukup dengan membatasi pergaulan anak secara berlebihan. Pendekatan efektif adalah membangun komunikasi terbuka dan relasi hangat antara anak dan keluarga. Anak harus merasa aman bercerita tanpa takut dimarahi.
Selain itu, edukasi batasan diri sejak dini sangat penting, mulai dari memahami bagian tubuh pribadi hingga informasi yang tidak boleh dibagikan, baik secara langsung maupun daring.
Luka yang Bisa Bertahan Lama
Pengakuan Aurelie Moeremans menjadi pengingat bahwa dampak child grooming dapat bertahan hingga dewasa. Rasa malu, bersalah, dan trauma sering membuat korban memilih diam bertahun-tahun.
Peran orang tua, keluarga, dan lingkungan sangat krusial. Membangun hubungan yang sehat, penuh kepercayaan, dan saling menghargai menjadi langkah penting untuk menutup celah bagi pelaku. Kesadaran kolektif dan edukasi berkelanjutan menjadi kunci agar anak tumbuh di lingkungan aman, baik di dunia nyata maupun digital. (*)






