
Beijing, Nusantara Info: Fenomena unik tengah melanda generasi muda di China dalam upaya mencari belahan jiwa. Di tengah kompleksitas dunia kencan modern, muncul sebuah tren baru yang tidak biasa, yakni “rekomendasi mantan pasangan”.
Melalui tren ini, mantan kekasih diperlakukan layaknya kandidat profesional yang sedang melamar pekerjaan.
Alih-alih sekadar berbagi cerita putus cinta, para pemuda China justru membagikan profil terperinci mantan pasangan mereka secara daring, lengkap dengan deskripsi kepribadian, kelebihan, kekurangan, hingga rekam jejak hubungan masa lalu. Tujuannya bukan untuk membuka aib, melainkan membantu sesama pencari cinta dalam menyaring risiko dan ekspektasi saat menjalin hubungan baru.
Bermula dari Unggahan Viral
Dikutip dari South China Morning Post (SCMP), Senin (9/2/2026), tren ini bermula dari sebuah unggahan di media sosial yang mengungkapkan frustrasi dalam mencari pasangan ideal.
“Adakah saudari-saudari yang bisa merekomendasikan mantan mereka untukku? Aku benar-benar tidak mengerti kenapa kencan itu begitu sulit,” tulis pengguna tersebut.
“Jika aku tidak segera menemukan pria normal, mungkin aku perlu mulai minum obat herbal untuk menyeimbangkan diriku,” lanjutnya.
Unggahan tersebut tak disangka menuai perhatian luas. Kolom komentar pun dipenuhi respons warganet yang mulai “mempromosikan” mantan pasangan mereka, layaknya perekrut sumber daya manusia yang menawarkan talenta berpengalaman.
“Bagaimana dengan pacar saya saat ini? Jika kami putus, saya akan memberi tahu Anda. Dia sebenarnya cukup murah hati,” tulis salah satu komentar bernada bercanda.
Dari situlah, frasa “merekomendasikan mantan” dengan cepat menjadi viral dan memicu gelombang unggahan serupa di berbagai platform media sosial China.
Promosi Layaknya Resume Kerja
Bagi sebagian warganet, tren ini tidak sekadar lelucon. Banyak yang menyusunnya secara serius, bahkan dengan format menyerupai resume atau curriculum vitae (CV). Informasi yang dibagikan ditulis ringkas, sistematis, dan objektif.
“Lahir tahun 1995, tinggi 183 cm, bekerja di perusahaan milik negara, stabil secara emosional, bisa memasak. Kekurangan: agak manja. Patut dipertimbangkan,” bunyi salah satu unggahan.
Untuk meningkatkan kredibilitas, beberapa pengguna bahkan menambahkan keterangan layaknya catatan akademis atau profesional, seperti: “Berdasarkan pengalaman langsung selama tiga tahun.”
Tak sedikit pula yang menyusun dokumen khusus berjudul “Panduan Pengguna untuk Mantan Pacar”, berisi kebiasaan, karakter, hingga tips menghadapi pasangan tersebut, agar dapat dijadikan referensi oleh calon pasangan barunya kapan saja.
Cerminan Realitas Kencan Modern
Fenomena ini dinilai mencerminkan kegelisahan generasi muda China terhadap dunia kencan yang semakin kompleks, kompetitif, dan penuh ketidakpastian. Tekanan sosial untuk menikah, standar ekonomi yang tinggi, serta maraknya pengalaman hubungan yang mengecewakan membuat sebagian anak muda mencari pendekatan yang lebih rasional dan transparan.
Dengan membuka “rekam jejak” hubungan secara sukarela, para pelaku tren ini berharap calon pasangan dapat membuat keputusan yang lebih matang, alih-alih terjebak dalam ekspektasi semu.
Menariknya, tren ini tidak selalu berujung pada candaan. Beberapa warganet mengaku benar-benar berhasil menemukan pasangan melalui metode tersebut.
Kisah Sukses dari Dunia Maya
Salah satu kisah yang beredar menceritakan seorang perempuan yang pindah ke luar negeri setelah berpisah secara baik-baik dengan kekasihnya. Ia kemudian merekomendasikan sang mantan kepada perempuan lain yang tinggal di kota yang sama melalui platform daring.
Setelah berkenalan dan bertemu, keduanya ternyata merasa cocok dan memutuskan untuk menjalin hubungan. Kisah tersebut kian memperkuat daya tarik tren “rekomendasi mantan” di kalangan pencari cinta.
Meski menuai pro dan kontra, fenomena ini menunjukkan bagaimana generasi muda China terus bereksperimen mencari cara baru dalam membangun hubungan, bahkan dengan pendekatan yang memadukan logika, humor, dan keterbukaan—sesuatu yang sebelumnya jarang ditemukan dalam urusan asmara. (*)






