
Jakarta, Nusantara Info: Nama Jeffrey Epstein kembali menjadi sorotan, bukan hanya karena kasus kejahatan seksual yang menjeratnya, tetapi juga misteri besar di balik asal-usul kekayaannya yang mencapai ratusan juta dolar AS. Bagaimana seorang pria yang pernah putus kuliah dan memulai karier sebagai guru bisa menjadi bagian dari lingkaran elite keuangan dunia?
Lahir dari keluarga kelas pekerja di Coney Island, New York, Epstein memulai langkahnya secara tidak biasa. Ia sempat bekerja sebagai guru matematika dan fisika sebelum mendapatkan peluang langka masuk ke bank investasi ternama, Bear Stearns, melalui koneksi yang dimilikinya. Di sana, ia dengan cepat naik hingga menjadi mitra terbatas pada 1980—sebuah pencapaian signifikan bagi seseorang tanpa latar belakang akademik yang kuat di bidang keuangan.
Namun, jejak karier Epstein setelah keluar dari Bear Stearns pada pertengahan 1980-an justru semakin sulit dilacak. Berbeda dengan pelaku Wall Street pada umumnya, aktivitas bisnisnya cenderung tertutup dan minim transparansi.
“Ia seperti teka-teki. Banyak orang membicarakannya, tetapi hampir tidak ada jejak nyata aktivitas investasinya,” ujar jurnalis senior Fox Business, Charles Gasparino, dalam dokumenter Jeffrey Epstein: Filthy Rich.
Dugaan Awal: Skema Gelap dan Manipulasi Finansial
Salah satu titik terang muncul dari pengakuan Steven Hoffenberg, mantan CEO Towers Financial Corporation, yang kemudian terbukti menjalankan skema Ponzi senilai 460 juta dolar AS. Hoffenberg menyebut Epstein sebagai “rekan dalam kejahatan” yang terlibat dalam manipulasi saham dan praktik ilegal lainnya pada akhir 1980-an.
Meski Hoffenberg dihukum 20 tahun penjara setelah skema tersebut runtuh pada 1993, Epstein tidak pernah didakwa. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai sejauh mana keterlibatannya—dan seberapa besar keuntungan yang ia kumpulkan dari aktivitas tersebut.
Peran Kunci Les Wexner
Lonjakan kekayaan Epstein diduga kuat berkaitan dengan hubungannya dengan miliarder ritel Les Wexner, pemilik Victoria’s Secret dan The Limited. Pada awal 1990-an, Epstein berhasil memposisikan diri sebagai penasihat keuangan pribadi Wexner dan bahkan memperoleh kendali luas atas aset-asetnya.
Dari hubungan ini, Epstein memperoleh akses terhadap properti mewah, jet pribadi, hingga aliran dana dalam jumlah besar. Namun, hubungan tersebut berakhir pada 2007 setelah Wexner menyadari adanya penyalahgunaan dana dalam skala besar.
Dalam dokumen hukum terbaru, jaksa AS menyebut Epstein diduga mencuri atau menyalahgunakan ratusan juta dolar dari Wexner. Ia juga dilaporkan membeli aset milik Wexner dengan harga jauh di bawah nilai pasar, termasuk properti dan jet pribadi, lalu mengalihkannya menjadi miliknya sendiri.
Pada 2008, Epstein mengembalikan sekitar 100 juta dolar melalui penyelesaian tertutup—tanpa proses pengadilan terbuka. Namun, ia tetap mempertahankan sebagian besar kekayaan yang telah dikumpulkannya.
Jaringan Elite dan Kredibilitas Semu
Kepercayaan dari Wexner menjadi modal penting bagi Epstein untuk membangun jaringan elite. Ia memanfaatkan nama-nama besar untuk meningkatkan kredibilitasnya, menarik klien-klien kaya, dan memperluas pengaruhnya di dunia keuangan.
Tokoh-tokoh ternama, termasuk miliarder Leon Black, diketahui pernah berada dalam lingkarannya. Meski berbagai tudingan praktik eksploitatif sempat beredar, hanya Wexner yang secara terbuka menuduh adanya pencurian langsung.
Peran Bank Besar
Meski telah terdaftar sebagai pelaku kejahatan seksual pada 2008, Epstein tetap memiliki akses ke sistem keuangan global. JPMorgan diketahui menjadi bank utamanya selama lebih dari satu dekade, sebelum akhirnya memutus hubungan pada 2013.
Bank tersebut kemudian menyetujui penyelesaian gugatan senilai total 365 juta dolar AS terkait kasus Epstein, tanpa mengakui kesalahan. Setelah itu, Deutsche Bank mengambil alih sebagai mitra perbankannya hingga akhirnya juga mengakhiri hubungan tersebut dan membayar penyelesaian sebesar 75 juta dolar AS.
Aset Ratusan Juta Dolar dan Warisan Kontroversial
Saat ditangkap pada Juli 2019 atas tuduhan perdagangan seks anak di bawah umur, kekayaan Epstein diperkirakan mencapai 577 juta dolar AS. Aset tersebut mencakup uang tunai, investasi di hedge fund dan private equity, saham, serta properti di berbagai lokasi prestisius seperti New York, Palm Beach, Paris, dan Kepulauan Virgin AS.
Namun, nilai kekayaan tersebut terus tergerus oleh biaya hukum, pajak, dan penyelesaian dengan para korban. Upaya untuk menelusuri asal-usul kekayaannya pun masih berlangsung hingga kini.
Investigasi mendalam The New York Times pada Desember 2025 menyimpulkan bahwa kekayaan Epstein bukan dibangun dari keahlian finansial semata, melainkan melalui praktik manipulatif.
“Epstein bukan jenius keuangan, melainkan manipulator dan pembohong ulung,” tulis laporan tersebut.
Misteri yang Belum Sepenuhnya Terjawab
Jeffrey Epstein meninggal dunia di dalam sel tahanannya pada Agustus 2019, meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Meski sebagian fakta mulai terungkap, asal-usul pasti kekayaannya masih menyisakan teka-teki besar.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap dunia keuangan global, transparansi dan akuntabilitas tetap menjadi tantangan—terutama ketika kekuasaan, uang, dan jaringan elite saling berkelindan. (*)






