Durian Thailand Kuasai Pasar China, Petani Gunakan AI dan Sensor untuk Jaga Kualitas

Bagikan

Durian Thailand Kuasai Pasar China, Petani Gunakan AI dan Sensor untuk Jaga Kualitas
Ilustrasi durian Thailand menguasi pasar China. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, NUSANTARA INFO: Di balik derasnya pasokan durian Thailand ke pasar China, teknologi mulai memainkan peran penting. Kamera pengawas, sensor, sistem pendataan digital, hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) digunakan petani untuk menjaga kualitas sekaligus memastikan perjalanan buah dapat ditelusuri dari kebun hingga konsumen.

Perubahan tersebut terlihat di Chanthaburi, salah satu sentra produksi durian Thailand. Di wilayah ini, petani mulai mengubah pola pengelolaan kebun tradisional menjadi pertanian berbasis data.

Salah satunya dilakukan Nuttawoot Chanrueng. Petani yang juga menjabat Presiden Chanrueng Community Enterprise itu melengkapi kebun durian keluarganya dengan kamera, sensor, dan sistem pendataan yang sebagian besar didatangkan dari China.

Kini, setiap pohon durian di kebunnya memiliki rekam jejak digital. Kondisi pertumbuhan, kelembapan tanah, hingga potensi serangan hama dapat dipantau dan dicatat melalui sistem tersebut.

Melansir CGTN, Sabtu (3/10/2026), teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya petani Thailand meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga konsistensi kualitas buah yang dikirim ke pasar internasional.

Tradisi Bertemu Data

Bagi Nuttawoot, penggunaan teknologi tidak berarti meninggalkan pengetahuan yang diwariskan generasi sebelumnya. Sebaliknya, pengalaman bertani tersebut diterjemahkan ke dalam data agar lebih mudah dipantau dan dianalisis.

“Kami mengambil kebijaksanaan orang tua kami dan kami tidak meninggalkannya, tapi menyesuaikan metode mereka agar sesuai dengan kebutuhan kami,” ujar Nuttawoot.

Ia mengatakan pengelolaan kebun yang sebelumnya didasarkan pada pengamatan dan pengalaman kini dapat diubah menjadi data numerik.

“Kami mengamati bagaimana mereka mengelola sesuatu dan mengubahnya menjadi data numerik yang jelas yang semuanya dapat ditampilkan dalam grafik seperti ini,” lanjutnya.

Teknologi Internet of Things (IoT) dan AI memungkinkan kondisi kebun dipantau secara lebih terukur. Data dari sensor dapat membantu mendeteksi perubahan kondisi tanaman lebih awal, sementara sistem digital mendukung pencatatan aktivitas budidaya.

Menurut Nuttawoot, teknologi dari China cukup diminati petani karena relatif terjangkau, mudah diakses, dan mudah digunakan. Teknologi yang telah tersedia juga dapat diterapkan secara bertahap sebelum dikembangkan lebih lanjut dengan sistem AI.

Pasar China Jadi Taruhan Besar

Digitalisasi tersebut menjadi semakin penting karena China merupakan pasar utama durian Thailand. Besarnya nilai perdagangan membuat kualitas, keamanan, dan kemampuan menelusuri asal-usul produk menjadi faktor penting bagi eksportir.

Data bea cukai China yang dikutip South China Morning Post menunjukkan Thailand mengekspor durian senilai hampir 3,79 miliar dollar AS ke China pada paruh pertama 2026. Nilai tersebut setara sekitar Rp70 triliun berdasarkan angka konversi yang digunakan dalam laporan.

Nilai ekspor tersebut menyumbang sekitar 81 persen dari total impor durian China pada periode yang sama.

Besarnya pasar tersebut sekaligus menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Thailand. Ketergantungan terhadap pasar China membuat produsen harus mampu menjaga kualitas dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan pasar tujuan.

Baca Juga :  Menhub: Angkutan Umum Perkotaan Indonesia Berkembang Pesat dalam 10 Tahun Terakhir

Kloz Hirunburana, Ketua Asosiasi Komersial untuk Keberlanjutan Pertanian Thailand, mengatakan aspek ketertelusuran atau traceability menjadi perhatian penting di pasar China.

Menurut dia, konsumen dan pasar China ingin mengetahui asal-usul makanan, bagaimana produk tersebut ditanam, serta riwayat produksinya.

Karena itu, teknologi digital menjadi salah satu instrumen bagi petani untuk memenuhi tuntutan tersebut.

AI Mulai Digunakan untuk Menilai Kematangan

Pemanfaatan AI dalam industri durian Thailand tidak hanya berlangsung di tingkat perkebunan. Perusahaan swasta dan lembaga penelitian juga mengembangkan teknologi untuk meningkatkan proses pemeriksaan buah.

Seperti dilaporkan The Nation pada Mei 2026 dengan mengutip Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, Riset, dan Inovasi Thailand, AI mulai digunakan untuk membantu menilai tingkat kematangan durian.

Peneliti juga mengembangkan sistem yang dapat menentukan tingkat kematangan durian tanpa harus membelah buah.

Teknologi tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan pada pemeriksaan secara konvensional yang dilakukan dengan membuka buah untuk mengetahui tingkat kematangannya.

Bagi komoditas ekspor, kemampuan menentukan kematangan secara lebih konsisten menjadi penting karena durian harus melewati proses distribusi sebelum sampai ke konsumen.

Dengan pemeriksaan berbasis teknologi, penilaian kualitas dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih terukur sekaligus membantu mengurangi risiko buah tidak sesuai dengan standar pasar.

Lebih dari 10.000 Petani Masuk Ekosistem Digital

Digitalisasi pertanian durian Thailand juga mendapat dukungan pemerintah. Melalui inisiatif Digital Durian, lebih dari 10.000 petani disebut telah dibantu untuk mengadopsi teknologi digital.

Program tersebut dijalankan dengan dukungan Badan Promosi Ekonomi Digital Thailand.

Implementasinya mencakup berbagai aspek, mulai dari pencatatan aktivitas budidaya secara digital, smart water management atau pengelolaan air berbasis teknologi, hingga sistem yang mendukung ketertelusuran produk.

Dengan sistem tersebut, data mengenai durian dapat dibangun sejak berada di kebun hingga masuk ke rantai pasok dan akhirnya diterima konsumen.

Perubahan ini menunjukkan bahwa persaingan komoditas pertanian tidak lagi hanya bergantung pada produktivitas dan luas lahan. Kemampuan menghasilkan produk yang konsisten, memenuhi standar pasar, serta menyediakan informasi mengenai asal-usul produk juga semakin penting.

Bagi Thailand, teknologi menjadi salah satu cara untuk mempertahankan posisi duriannya di pasar China yang bernilai besar.

Dari kebun di Chanthaburi, kamera, sensor, IoT, dan AI kini menjadi bagian dari ekosistem produksi durian. Pengetahuan tradisional tetap digunakan, tetapi pengambilan keputusan semakin diperkuat oleh data.

Perpaduan tersebut menjadi strategi Thailand menghadapi tuntutan pasar ekspor yang semakin menekankan kualitas, efisiensi, dan ketertelusuran produk. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait