Ahli Saraf AS: Kecerdasan Gen Z Menurun, Milenial Jadi Generasi Terakhir yang Lebih Unggul

Bagikan

Ahli Saraf AS: Kecerdasan Gen Z Menurun, Milenial Jadi Generasi Terakhir yang Lebih Unggul
Sejumlah remaja dan generasi muda tampak menggunakan telepon pintar secara bersamaan. Ketergantungan pada layar digital dan konsumsi konten instan disebut para ahli saraf berpotensi memengaruhi rentang perhatian, daya ingat, serta kemampuan berpikir kritis Generasi Z di era teknologi. (Foto: Istimewa)

Jakarta, Nusantara Info: Selama puluhan tahun, dunia meyakini bahwa setiap generasi baru akan tumbuh lebih cerdas dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, asumsi tersebut kini mulai dipertanyakan.

Sejumlah ahli saraf di Amerika Serikat (AS) mengeluarkan peringatan serius bahwa Generasi Z (Gen Z) justru menjadi generasi pertama yang mengalami penurunan kecerdasan dan perkembangan kognitif dibandingkan generasi milenial.

Fenomena ini menempatkan generasi milenial sebagai kelompok terakhir yang mencatatkan tren peningkatan kecerdasan antargenerasi. Temuan tersebut memicu kekhawatiran global, terutama di tengah masifnya penggunaan teknologi digital dalam sistem pendidikan modern.

Ahli saraf asal Amerika Serikat, Jared Cooney Horvath, mengungkapkan bahwa penurunan kognitif Gen Z bukan terjadi secara tiba-tiba. Dalam kesaksiannya di hadapan Komite Senat Amerika Serikat, Horvath menyoroti peran besar teknologi pendidikan atau Education Technology (EdTech) sebagai pemicu utama melemahnya fungsi kognitif generasi muda.

Menurut Horvath, Gen Z mengalami penurunan pada hampir seluruh aspek kognitif inti, mulai dari rentang perhatian, daya ingat, kemampuan literasi dan numerasi, hingga kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.

“Jika Anda melihat datanya, begitu negara-negara mengadopsi teknologi digital secara luas di sekolah, kinerja akademik dan kognitif akan menurun secara signifikan,” ujar Horvath, seperti dikutip dari Wion.

Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa kemerosotan tajam kemampuan kognitif mulai terlihat sejak sekitar tahun 2010, periode ketika perangkat digital dan platform pembelajaran berbasis layar mulai mendominasi ruang kelas. Ironisnya, secara statistik, Gen Z justru menghabiskan waktu belajar di sekolah lebih lama dibandingkan generasi sebelumnya.

Jebakan Video Pendek dan Jawaban Instan AI

Horvath menjelaskan, otak manusia secara biologis tidak dirancang untuk menyerap informasi melalui potongan video pendek, ringkasan instan, atau jawaban cepat berbasis kecerdasan buatan (AI). Ketergantungan berlebihan pada konten visual singkat dan teknologi instan dinilai telah menggerus proses berpikir mendalam yang menjadi fondasi kecerdasan manusia.

Baca Juga :  Program 1000 Sarjana Kabupaten Mappi: Mendorong Masa Depan Cerah dari Selatan Papua

“Lebih dari setengah waktu terjaga seorang remaja saat ini dihabiskan untuk menatap layar,” terang Horvath.

Kondisi tersebut berdampak pada melemahnya kemampuan fokus jangka panjang dan berkurangnya kapasitas otak dalam mengolah ide-ide kompleks. Menurutnya, pemahaman mendalam tidak bisa diperoleh melalui konsumsi konten cepat, melainkan melalui membaca buku fisik, diskusi tatap muka, serta interaksi langsung dengan guru dan teman sebaya.

Horvath menekankan bahwa proses belajar manusia telah berevolusi selama ribuan tahun melalui interaksi sosial nyata. Otak manusia tumbuh optimal ketika dihadapkan pada dialog, perdebatan, dan pembacaan mendalam, bukan sekadar menelusuri poin-poin ringkasan di layar digital.

Fenomena Global, Bukan Hanya AS

Masalah ini ternyata bukan fenomena lokal. Horvath menyebutkan, tren serupa ditemukan di setidaknya 80 negara yang mulai mengintegrasikan teknologi digital secara masif ke dalam sistem pendidikan. Penurunan kualitas pembelajaran tercatat seiring meningkatnya penggunaan perangkat digital di ruang kelas.

Ia menegaskan bahwa solusi bukan terletak pada menambah kecanggihan teknologi atau mencari platform EdTech yang lebih canggih. Menurutnya, akar persoalan justru ada pada ketidaksesuaian teknologi digital dengan cara alami otak manusia belajar dan menyimpan informasi.

“Selama enam dekade terakhir, polanya konsisten: semakin dominan teknologi masuk ke ruang kelas, kualitas pembelajaran justru cenderung menurun,” ujarnya.

Peringatan ini menjadi refleksi penting bagi dunia pendidikan global, termasuk Indonesia, yang tengah gencar mendorong digitalisasi sekolah. Para ahli menilai perlu adanya evaluasi serius agar teknologi berfungsi sebagai alat pendukung, bukan pengganti proses belajar mendalam yang menjadi kunci kecerdasan manusia. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait