Shadow

Cerita tentang Melak di Kutai Barat, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo Punya Kenangan Di Sana

Bagikan

Cerita tentang Melak di Kutai Barat, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo Punya Kenangan Di Sana
Kantor Bupati Kabupaten Kutai Timur

Samarinda (30/1/202) : Melak merupakan salah satu dari 20 kecamatan yang masuk wilayah Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur. Kecamatan Melak berjarak 322 Km dari Kota Samarinda, ibu kota Kalimantan Timur.

Kecamatan Melak ini merupakan pintu masuk utama ke Kabupaten Kutai Barat, melalui transportasi darat dan air karena Kecamatan Melak dilintasi Sungai Mahakam. Transportasi udara juga lewat Melak karena di sini terdapat bandara. Namanya Bandara Melalan. Bandara kelas III ini mempunyai landasan pacu 1.300.m x 30 m. Salah satu penerbangan ke Bandara Melalan adalah Susi Air yang melayani angkutan perintis dengan rute Samarinda – Datah Dawai – Melak dan sebaliknya.

Cerita tentang Melak di Kutai Barat, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo Punya Kenangan Di Sana
Bandara Melalan di Melak, Kutai Barat, Foto: Istimewa

Bandara Melalan ini punya sejarah menarik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lapangan terbang Melalan dibangun oleh Belanda sebagai antisipasi menghadapi invasi Jepang. Buktinya ada pada beberapa peninggalan di sekitar runway bandara, seperti pillbox, gudang peluru,bunker, penjara, penampungan air, gardu listrik, jaringan jalan, bahkan rumah sakit. Fasilitas tersebut menggambarkan adanya strategi untuk mempertahankan Kalimatan Timur yang kaya akan sumber mineral. Bandara yang juga sebagai Pangkalan Samarinda II ini juga pernah berperan dalam persiapan operasi “Ganyang Malaysia” semasa konfrontasi tahun 1964.

Cerita tentang Melak acap dikaitkan dengan keterpelosokannya. Sekarang pun masih dianggap pelosok. ” Kondisi jalan darat Samarinda ke Melak sangat memperihatinkan. Jalannya rusak berat sehingga membutuhkan waktu delapan jam untuk menempuhnya,” kata seorang warga.

Cerita tentang Melak di Kutai Barat, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo Punya Kenangan Di Sana
Peta Kutai Barat, Foto: Istimewa

Beberapa tahun lalu lebih sulit lagi. Setidaknya ini yang diceritakan oleh Hasto Wardoyo, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN). Usai lulus dari S1 Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada pada 1989, Hasto meminta pada kepala dinas kesehatan pada masa itu untuk ditempatkan berpraktik di area yang paling sulit di pedalaman.

Baca Juga :  Gubernur Isran Optimis Masyarakat Kaltim Siap Songsong IKN

“Ternyata benar saya ditempatkan di pelosok. Dari kantor kabupaten untuk mencapai puskesmas itu dua hari dua malam. Saya cukup lama di sana, lima tahun di pedalaman. Tidak ada warung, tidak ada apa-apa,” kata Hasto beberapa waktu lalu.
Manakah yang dimaksudkan pedalaman itu? Seperti dikutip dari situs resmi kulonprogokab.go.id, saat itu Hasto bertugas menjadi Kepala Puskesmas Kahala (di Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara) pada 1990. Lalu, menjadi Kepala Puskesmas Melak pada 1991, kemudian menjadi Kepala Puskesmas Lok Tuan Bontang pada 1994.

Cerita tentang Melak di Kutai Barat, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo Punya Kenangan Di Sana
Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, Foto: Istimewa

“Saya menikmati tugas itu, ya banyak yang unik-unik di pedalaman. Saya juga ngajar SD, SMP karena di sana guru juga kurang. Ngajar pramuka juga,” kata pria yang mendapat penghargaan sebagai dokter teladan nasional pada 1992 ini.

Barangkali suatu saat Kepala BKKBN ingin bernostalgia ke Melak? Tenang saja Pak, cukup terbang ke Bandara APT Pranoto di Samarinda, dari bandara ini ada penerbangan perintis ke Melak. Hari Sabtu ( 30/1/2021 ) ini penerbangan perintis untuk tahun anggaran 2021 dengan tujuan Melak mulai terbang. (**)


Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *