Shadow

Pemprov Jawa Timur Raih Penghargaan Proklim 2021 dari KLHK

Bagikan

Pemprov Jawa Timur Raih Penghargaan Proklim 2021 dari KLHK
Foto: Kemendagri.go.id

Jakarta (25/10/2021): Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim), kembali berhasil meraih penghargaan terbaik sebagai Pembina Program Kampung Iklim (Proklim) Tingkat Provinsi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Jakarta, Selasa (19/10/2021).

Penghargaan tersebut diserahkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Siti Nurbaya Bakar. Penghargaan diberikan pada acara puncak Festival Iklim Nasional Tahun 2021 di Gedung Manggala Wanabhakti kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jatim Ardo Sahak yang hadir mewakili Gubernur Jawa Timur.

Diketahui, penghargaan tersebut merupakan strata tertinggi dalam ajang Proklim tahun 2019 lalu. Khofifah selaku Gubernur Jatim juga menerima penghargaan serupa tingkat nasional. Ia dinilai aktif dalam mendukung dan mengembangkan Proklim yang disertai berbagai kebijakan dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca guna menekan laju perubahan iklim. Proklim sendiri merupakan program untuk memperkuat kapasitas adaptasi masyarakat terhadap dampak perubahan iklim. Program ini berupaya menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) serta memberikan pengakuan terhadap upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Khofifah mengatakan, penghargaan ini bukanlah tujuan utama, karena menahan laju perubahan iklim harus dilakukan semua individu, tidak cukup jika hanya pemerintah. “Saya mengajak semua elemen khususnya relawan pecinta lingkungan untuk terus aktif,” ungkap Khofifah saat ditemui di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Rabu (20/10/2021).

Khofifah berharap jumlah kampung iklim di Jatim dapat terus bertambah sehingga upaya pengendalian perubahan iklim semakin cepat terwujud. Khofifah menambahkan, Proklim merupakan bagian dari upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Adaptasi, kata Khofifah, berarti menyesuaikan diri dengan dampak perubahan iklim, sedangkan mitigasi mengacu pada upaya dan cara-cara mengurangi emisi gas rumah kaca melalui gaya hidup rendah emisi dalam kehidupan kita sehari-hari.

Baca Juga :  Kemendagri Gelar Anev dan Asisten Percepatan Realisasi APBD dan Penganggaran Penanganan Inflasi Provinsi, Kabupaten/Kota

Perubahan Iklim, menurut Khofifah, akan berdampak fatal jika aksi mitigasi tidak dilakukan sejak dini.

“Salah satu dampaknya adalah anomali cuaca dan iklim. Efeknya bisa terjadi gagal panen sehingga memicu kerawanan pangan dan fluktuasi harga di pasar. Dampak lanjutannya pada kestabilan sosial, ekonomi, dan juga politik,” tuturnya. “Setiap individu dapat berkontribusi dalam mitigasi dengan cara mengurangi penggunaan kantong plastik, tidak membuang sampah sembarangan, membatasi penggunaan kendaraan bermotor, menggunakan sarana transportasi umum, hemat listrik dan air dan menanam pepohonan,” tambah Khofifah.

Tidak lupa Gubernur Khofifah menyampaikan terima kasih, atas semua kepedulian dan ikhtiar seluruh elemen masyarakat Jawa Timur, dalam penguatan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim dan penurunan emisi GRK di Jatim. (*)


Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *