Shadow

Mengenal Tradisi Kupatan, Sebuah Tradisi dari Hasil Pemikiran Para Walisongo

Bagikan

Mengenal Tradisi Kupatan, Sebuah Tradisi dari Hasil Pemikiran Para Walisongo
Tradisi kupatan, Foto: Istimewa

Jakarta (21/5/2021): Indonesia memiliki beragam budaya, suku, bahasa, dan agama. Umat Islam di Indonesia terdiri dari berbagai suku dan mereka juga memiliki cara berbeda-beda dalam menyemarakkan Hari Raya Idul Fitri. Seperti halnya di Pulau Jawa, terdapat tradisi Kupatan yang merupakan hasil pemikiran dari para Walisongo dalam menyebarkan dakwah Islam melalui budaya.

Tradisi Kupatan biasanya dilakukan seminggu setelah Idul Fitri. Saat menggelar acara tersebut, masyarakat desa biasanya berkumpul di suatu tempat seperti masjid atau musholla untuk melakukan selamatan dan masyarakat membawa hidangan yang untuk disantap bersama. Hidangan yang dibawa didominasi oleh ketupat dan sayur sebagai pelengkapnya, seperti opor ayam dan lain-lain.

Ketupat merupakan makanan khas Lebaran. Namun dalam tradisi Jawa, ketupat tidak hanya sebagai makanan yang wajib disajikan saat Lebaran saja, tetapi juga memiliki makna filosofis tersendiri dalam tradisi Jawa.

Dikutip dari islami.co, seorang budayawan yang bernama Zastrouw Al-Ngatawi menegaskan bahwa tradisi ini merupakan bentuk dari sublimasi dari ajaran Islam dalam tradisi masyarakat Nusantara. Hal ini merupakan cara Walisongo untuk mengenalkan ajaran Islam mengenai cara bersyukur kepada Allah SWT, bersedekah, dan saling menjalin silaturahim.

Oleh para Walisongo, tradisi membuat kupat itu dijadikan media untuk meyebarkan syiar agama. Dalam tradisi tersebut diadakan upacara yang perlengkapannya menggunakan ketan, kolak, apem yang diberi wadah pisang yang dibentuk sedemikian rupa yang disebut takir. Setiap bagian dari upacara tersebut memiliki makna filosofis yang merupakan dasar dari ajaran agama.

Ketan sendiri merupakan perlambang yang diambil dari kata khatam (selesai) melakukan ibadah, takir dari kata dzikir, dan apem dari kata afwan yang berarti ampunan dari dosa. Untuk nama kupat sendiri merupakan singkatan dari ngaku lepat (mengakui kesalahan) yang menjadi simbol untuk saling memaafkan.

Baca Juga :  Keraton Yogyakarta Kembali Memanas, Penggedhe Nitya Budaya Juga Jadi Pemicu
Mengenal Tradisi Kupatan, Sebuah Tradisi dari Hasil Pemikiran Para Walisongo
Ketupat, makanan khas Lebaran, Foto: Istimewa

Ketupat atau kupat memiliki banyak makna sebagaimana yang telah diketahui oleh masyarakat Jawa. Kupat diartikan sebagai “laku papat” yang menjadi simbol dari empat segi dari ketupat. Laku papat yaitu empat tindakan yang terdiri dari lebaran, luberan, leburan, laburan. Maksud dari empat tindakan tersebut antara lain:

Pertama, Lebaran yaitu suatu tindakan yang berarti telah selesai yang diambil dari kata lebar. Selesai dalam menjalani ibadah puasa dan diperbolehkan untuk menikmati makanan.

Kedua, Luberan berarti meluber, melimpah yang menyimbolkan agar melakukan sedekah dengan ikhlas bagaikan air yang berlimpah meluber dari wadahnya. Oleh karena itu tradisi membagikan sedekah di hari raya Idul Fitri menjadi kebiasaan umat Islam di Indonesia.

Ketiga, Leburan berarti lebur atau habis. Maksudnya adalah agar saling memaafkan dosa-dosa yang telah dilakukan. sehingga segala kesalahan yang telah dilakukan menjadi suci bagai anak yang baru lahir.

Keempat, Laburan berarti bersih putih berasal dari kata labur atau kapur. Harapan setelah melakukan Leburan agar selalu menjaga kebersihan hati yang suci. Manusia dituntut agar selalu menjaga prilaku dan jangan mengotori hati yang telah suci.

Itulah cara yang dilakukan oleh para Walisongo dalam mendakwahkan ajaran Islam yang ramah tanpa marah apalagi mengatakan bid’ah. Sehingga masyarakat Nusantara tidak merasa terusik dengan adanya agama Islam. (*)


Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *