Shadow

Tradisi Seba Baduy, Makna Di Balik Seserahan Hasil Bumi

Bagikan

Tradisi Seba Baduy, Makna Di Balik Seserahan Hasil Bumi
Festival Seba Baduy 2019
Foto: Kemenparekraf

Banten (14/2/2021) : Upacara Kawalu hanyalah bagian dari serangkaian tradisi ritual masyarakat Baduy. Mengutip laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, dijelaskan Kawalu merupakan salah satu adat yang diselenggarakan sebelum upacara Seba. Adapun tahapannya yaitu, upacara ngalanjakan, upacara Kawalu, upacara ngalaksa, dan terakhir Seba, sebagai puncak dari upacara-upacara adat yang dilakukan Urang Kanekes atau orang Baduy.

Jika serangkaian Kawalu baru dimulai kemarin, pelaksanaan Seba bisa dua hingga tiga bulan ke depan. Dua tahun lalu, Seba ini dilaksanakan pada 4 Mei 2019. Saat itu, ribuan pasang kaki berjalan beriring. Di antara mereka ada yang mengenakan pakaian putih-putih, mulai dari ikat kepala hingga kaki. Sementara yang lainnya tampak mengenakan ikat kepala berwarna biru dengan pakaian hitam. Tanpa alas kaki, para pria yang dikenal sebagai Urang Kanekes atau masyarakat Baduy itu berjalan bersama-sama. Mereka tak butuh bantuan kendaraan bermotor roda dua apalagi roda empat.

Setahun lalu, Seba dilaksanakan pada Mei. Bedanya, tidak lagi ribuan pasang kali tetapi sejumlah warga Baduy Dalam menggunakan masker berjalan menuju kota Rangkasbitung di Kecamatan Cimarga, Lebak, Banten, Sabtu (30/5/2020). Meskipun di tengah pandemi Covid -19 acara ritual adat Seba Baduy tetap digelar secara terbatas hanya perwakilan adat dan tertutup dengan mengikuti protokol kesehatan yang dilaksanakan mulai tanggal 30 Mei hingga 1 Juni 2020.

Tradisi Seba Baduy, Makna Di Balik Seserahan Hasil Bumi
Kemeriahan Seba 2020
Foto: Istimewa

Seba ini sebuah tradisi tahunan yang telah bertahan selama ratusan tahun. Dalam bahasa Baduy, “Seba” berarti seserahan. Karenanya, dalam Seba Baduy, Urang Kanekes akan membawa hasil buminya, turun dari gunung untuk diserahkan pada pemerintah setempat atau yang dijuluki sebagai Penggede.

Peneliti Nandang Rusnandar dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung melakukan penelitian tentang upacara Seba yang merupakan puncak kegiatan ritual keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat (Baduy) Kanekes di Kabupaten Lebak. Tujuannya untuk mengetahui makna dan simbol yang ada dalam upacara tersebut. Metode penelitian yang digunakan bersifat deskripsi dengan pendekatan fungsional melalui teknik pengumpulan data berupa wawancara dan pengamatan.

Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa upacara Seba merupakan puncak acara ritual yang dilakukan setahun sekali yang dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan dan pemerintah atas kesejahteraan masyarakat Baduy yang telah dihasilkan dalam kurun satu tahun. Di samping itu upacara ini menjadi bukti adanya pengakuan secara adat dan bertujuan untuk bersilaturahmi antara masyarakat Kanekes dengan pemerintah baik di kabupaten maupun di provinsi yaitu kepada pejabat bupati dan gubernur yang secara informal mereka menjadi pemimpin masyarakat Baduy.

Baca Juga :  Cap Go Meh dengan Ratusan Tatung, Kenangan Jeka Melewati Imlek di Singkawang

Pelaksanaan upacara dipilih waktu yang terbaik untuk hari dan tanggal pelaksanaannya, terutama setelah selesai panen. Upacara Seba merupakan rangkaian dari religi atau sistem kepercayaan agama Sunda Wiwitan yang dianut oleh masyarakat Kanekes, maka upacara ini wajib dilakukan karena merupakan pusaka leluhur harus terus dijaga dan dilestarikan yang diwariskan secara berkesinambungan kepada anak cucunya secara tegas dan mengikat.

Tradisi Seba Baduy, Makna Di Balik Seserahan Hasil Bumi
Seba Baduy 2019
Foto: Kemenparekraf

Pada upacara Seba ini sarat dengan makna atau nilai-nilai budaya, Makna dari semua nilai budaya yang ada dalam upacara Seba ini mengandung petuah, nasihat, dan amanah kepada pemimpin, agar kiranya bisa menempatkan diri sebagai pemimpin yang menjadi pola anutan rakyatnya (amanah), tidak sewenang-wenang dalam bertindak walaupun seorang pemimpin memiliki kekuasaan yang sangat luas sehingga amanah seorang pimpinan kepada warganya, harus diikuti dan didukung oleh masyarakat, khususnya warga Baduy setempat.

Banyak yang memberikan interpretasi mengenai pengertian kata seba, di antaranya seba berasal dari kata saba yang artinya pergi ke kota yang jauh. Sedangkan menurut Sursa (1950:VII-53) ada dua macam pengertian, yaitu pertama seba berarti kumpulan jaro-jaro di Kewadanaan Leuwi Damar, dan kedua adalah seba merupakan ritual yang dilakukan setahun sekali untuk pergi ke Kota Serang guna membaktikan benda-benda tertentu, kepada menak Parahiyang, turunan Pangeran Wirasuta (1950:VII-54).

Sedangkan salah seorang tokoh muda yang lainnya dari masyarakat tangtu menyatakan bahwa “Satu kami merasa berkewajiban, kedua silaturahmi. Seba ini menyampaikan pesan-pesan adat, silaturahmi adat kepada pemerintah dalam menjaga alam dan keseimbangan alam, keserasian alam, juga apa-apa tugas yang harus diemban, antara pemerintah dengan warga Baduy saling tukar pikiran, apa yang perlu diupayakan dijaga, dilestarikan, supaya alam ini tetap dipertahankan oleh kita semua”.

Tradisi Seba Baduy, Makna Di Balik Seserahan Hasil Bumi
Seba Baduy 2020
Foto: Istimewa

Itulah makna dari Seba. Harapan Urang Kanekes, Seba bisa mengingatkan pemimpin bahwa alam bukan sekadar dieksploitasi, tetapi wajib pula dilestarikan. (**)

 


Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *