
Teheran, Nusantara Info: Iran hanya mengizinkan kapal dari sejumlah negara tertentu melintasi Selat Hormuz di tengah konflik bersenjata dengan Amerika Serikat dan Israel. Kebijakan selektif ini diberlakukan setelah Teheran memperketat pengawasan terhadap jalur pelayaran strategis tersebut menyusul penutupan akses akibat perang yang meletus sejak 28 Februari 2026.
Selat Hormuz merupakan salah satu chokepoint energi terpenting di dunia karena dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas global. Penutupan total jalur ini berpotensi memicu krisis energi internasional, sehingga kebijakan pembukaan terbatas oleh Iran dipandang sebagai langkah taktis sekaligus tekanan geopolitik.
Laporan analisis perusahaan intelijen maritim Windward menunjukkan bahwa pada 15–16 Maret 2026 sejumlah kapal berhasil keluar dari Selat Hormuz melalui perairan yang dikendalikan Iran. Rute tersebut berbeda dari jalur normal sebelumnya dan menunjukkan adanya mekanisme izin khusus.
Menurut Windward, pola pergerakan kapal tersebut mengindikasikan bahwa Iran menerapkan blokade selektif yang memungkinkan sekutu atau negara yang tidak dianggap bermusuhan untuk tetap melakukan transit.
Sejumlah negara yang kapalnya telah memperoleh izin melintas antara lain India, Pakistan, dan Turki. Kapal-kapal dari ketiga negara tersebut dilaporkan berhasil keluar dari kawasan Teluk menuju tujuan masing-masing setelah adanya koordinasi diplomatik dengan Teheran.
India menjadi salah satu penerima izin penting. Sedikitnya dua kapal tanker pengangkut gas minyak cair berhasil melintasi jalur tersebut dan melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan di India. Keberhasilan ini diduga berkaitan dengan komunikasi intensif antara pemerintah India dan Iran.
Pakistan juga mendapat akses serupa. Sebuah kapal tanker berbendera Pakistan bernama Karachi, berjenis Aframax, dilaporkan berhasil melintas melalui rute yang diizinkan Iran setelah keluar dari kawasan Teluk.
Turki termasuk negara lain yang memperoleh persetujuan. Setidaknya satu kapal milik Turki yang sebelumnya berada di sekitar perairan Iran diizinkan melanjutkan perjalanan melalui Selat Hormuz.
Di luar ketiga negara tersebut, sejumlah negara besar masih berupaya memperoleh akses. China dilaporkan tengah melakukan pembicaraan dengan Iran untuk memastikan kapal pengangkut minyak mentah dan gasnya dapat melintas dengan aman. Ketergantungan China terhadap jalur ini sangat tinggi karena sekitar 45 persen impor minyaknya melewati Selat Hormuz.
Negara-negara Eropa seperti Prancis dan Italia juga disebut telah mengajukan permintaan izin, meskipun hingga kini belum ada kepastian apakah Teheran akan menyetujuinya.
Iran sebelumnya menutup Selat Hormuz setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel, yang memperburuk ketegangan di kawasan Timur Tengah. Namun, alih-alih memberlakukan penutupan total berkepanjangan, Teheran memilih strategi pembatasan selektif yang memungkinkan arus perdagangan tetap berlangsung secara terbatas.
Kebijakan ini dinilai sebagai upaya Iran mempertahankan pengaruh geopolitik sekaligus menghindari tekanan internasional yang lebih besar akibat gangguan total terhadap pasokan energi global. Dengan membuka akses hanya kepada negara tertentu, Iran dapat mengontrol lalu lintas energi sekaligus menekan negara-negara yang dianggap berseberangan secara politik.
Dampak kebijakan tersebut mulai terasa di pasar global. Ketidakpastian akses terhadap Selat Hormuz mendorong volatilitas harga minyak dan gas, serta meningkatkan biaya asuransi dan pengiriman maritim. Jika konflik berkepanjangan, gangguan pasokan energi berpotensi memicu inflasi dan perlambatan ekonomi di berbagai negara.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital yang menghubungkan produsen energi di Teluk Persia dengan pasar Asia, Eropa, dan Amerika. Setiap gangguan di wilayah ini hampir selalu berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi global.
Dengan situasi keamanan yang masih belum menentu, dunia kini memantau apakah Iran akan memperluas daftar negara yang diizinkan melintas atau justru memperketat blokade. Keputusan tersebut akan sangat menentukan arah pasokan energi internasional dalam beberapa bulan ke depan. (*)






