Konflik Taliban vs Pakistan Memanas, Saling Klaim Kemenangan dan Korban Berjatuhan

Bagikan

Konflik Taliban vs Pakistan Memanas, Saling Klaim Kemenangan dan Korban Berjatuhan
Konflik Taliban vs Pakistan di perbatasan memanas. (Foto: Istimewa)

Jakarta, Nusantara Info: Eskalasi konflik di perbatasan Afganistan dan Pakistan kembali memanas setelah Taliban mengklaim berhasil merebut sejumlah pos militer Pakistan serta menewaskan dan menangkap tentara. Islamabad merespons dengan serangan balasan yang disebut “kuat dan efektif”, sementara ledakan dilaporkan terjadi di ibu kota Afganistan, Kabul.

Kedua pihak sama-sama mengonfirmasi terjadinya bentrokan pada Kamis (26/2/2026), namun menyampaikan versi berbeda terkait jalannya pertempuran, jumlah korban, serta hasil operasi militer masing-masing.

Ketegangan terbaru ini merupakan lanjutan dari hubungan yang telah lama tidak stabil sejak Taliban kembali berkuasa di Afganistan pada 2021. Situasi semakin memanas setelah serangan udara Pakistan ke wilayah Afganistan pada Minggu sebelumnya, yang dikecam Kabul sebagai pelanggaran kedaulatan.

Klaim Taliban: Serangan Balasan Besar-besaran

Juru bicara pemerintah Taliban, Zabihullah Mujahid, menyebut operasi militer yang dilakukan sebagai respons atas “agresi berulang” Pakistan. Ia mengatakan Taliban melancarkan ofensif skala besar terhadap pangkalan militer Pakistan di sepanjang Garis Durand—perbatasan sepanjang 2.611 kilometer yang tidak diakui Afganistan.

“Sejumlah besar tentara musuh telah tewas dan terluka, dan sebagian ditangkap hidup-hidup,” tulis Mujahid dalam pernyataannya di platform X.

Kementerian Pertahanan Afganistan menyebut operasi berlangsung di lima provinsi. Wakil juru bicara Taliban, Hamdullah Fitrat, mengklaim hingga 55 tentara Pakistan tewas, dengan sebagian jenazah dibawa ke Afganistan, serta sejumlah lainnya ditangkap.

Namun, klaim tersebut tidak disertai rincian independen yang dapat diverifikasi.

Pakistan Bantah, Klaim Balasan Lebih Besar

Di sisi lain, pemerintah Pakistan membantah klaim Taliban. Menteri Informasi Pakistan Attaullah Tarar menyatakan korban di pihaknya hanya dua tentara tewas dan tiga lainnya luka-luka.

Ia menegaskan Pakistan telah memberikan respons militer yang tegas terhadap serangan yang disebutnya “tanpa provokasi”.

“Pakistan akan terus memberikan respons yang kuat dan efektif,” tulis Tarar.

Juru bicara Perdana Menteri Pakistan, Mosharraf Ali Zaidi, bahkan mengklaim pihaknya menewaskan 133 anggota Taliban dan melukai lebih dari 200 lainnya dalam serangan balasan yang menyasar target di Kabul, Paktia, dan Kandahar.

Baca Juga :  Trump Larang Warga 12 Negara Masuk AS

Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyebut situasi saat ini telah mengarah pada “perang terbuka” dengan Taliban Afganistan.

Ledakan di Kabul dan Kekhawatiran Global

Tak lama setelah pernyataan Pakistan, ledakan dilaporkan terjadi di Kabul, memperkuat kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas ke wilayah perkotaan dan memicu instabilitas yang lebih besar di kawasan.

Komunitas internasional pun mulai bereaksi. Iran menawarkan diri menjadi mediator untuk meredakan ketegangan antara kedua negara.

“Republik Islam Iran siap memberikan bantuan untuk memfasilitasi dialog dan meningkatkan saling pengertian,” ujar Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Rusia juga mendesak kedua pihak untuk segera menghentikan serangan lintas batas dan menyelesaikan konflik melalui jalur diplomatik.

Konflik Lama yang Kembali Memanas

Eskalasi ini terjadi di tengah hubungan yang telah lama tegang antara Pakistan dan Afganistan. Bentrokan mematikan pada Oktober lalu menewaskan lebih dari 70 orang dari kedua pihak, sementara perbatasan darat sebagian besar masih ditutup hingga kini.

Sejumlah upaya diplomasi, termasuk mediasi oleh Qatar, Turki, dan Arab Saudi, belum menghasilkan solusi jangka panjang.

Pakistan selama ini menuduh Afganistan melindungi kelompok militan seperti Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) dan kelompok separatis Baloch—tuduhan yang dibantah Taliban.

Ketegangan juga dipicu oleh meningkatnya serangan teror, termasuk bom bunuh diri yang menargetkan masjid Syiah di Islamabad dan diklaim oleh ISIS-Khorasan, kelompok yang aktif di wilayah timur Afganistan.

Dengan saling klaim kemenangan dan meningkatnya intensitas serangan, situasi di perbatasan kini berada pada titik rawan. Tanpa deeskalasi yang cepat, konflik ini berpotensi berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait