
Jakarta, Nusantara Info: Isfahan merupakan kota terbesar ketiga di Iran yang belakangan ikut menjadi sorotan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Di balik dinamika konflik dan kontroversi yang menyertainya, kota ini menyimpan sejarah panjang yang erat kaitannya dengan peradaban Islam, bahkan kerap disebut dalam berbagai literatur keagamaan sebagai salah satu wilayah yang dikaitkan dengan kemunculan Dajjal di akhir zaman.
Terletak di wilayah Iran bagian tengah, Isfahan berdiri di sepanjang Sungai Zayandeh yang sejak lama menjadi sumber kehidupan bagi kota tersebut. Selain dikenal dengan arsitektur megah dan warisan sejarah yang kaya, Isfahan juga memainkan peran penting dalam sektor industri Iran, termasuk manufaktur pertahanan dan pengembangan teknologi nuklir.
Dengan populasi besar dan aktivitas ekonomi yang berkembang pesat, Isfahan kini menempati posisi sebagai kota terbesar ketiga di Iran setelah Teheran dan Mashhad.
Jejak Sejarah Ribuan Tahun
Sejarah Isfahan terbentang lebih dari dua milenium. Pada masa Kekaisaran Achaemenid sekitar tahun 559 hingga 330 sebelum masehi, kota ini dikenal dengan nama Gabae dan menjadi salah satu wilayah penting dalam jaringan perdagangan Persia kuno.
Keberadaan komunitas Yahudi di Isfahan juga tercatat sejak sekitar 2.500 tahun lalu. Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa pada abad ke-5, Ratu Shushan-Dukht, istri Raja Sasanian yang beragama Yahudi, pernah tinggal di kawasan tersebut.
Setelah Revolusi Islam Iran pada 1979, sebagian besar warga Yahudi yang tinggal di Isfahan memilih bermigrasi ke negara lain. Namun hingga kini, sebagian kecil komunitas Yahudi masih tetap tinggal bersama kelompok minoritas lainnya seperti Kristen dan Zoroaster.
Perubahan besar terjadi pada tahun 642 masehi, ketika pasukan Arab menaklukkan wilayah tersebut. Sejak saat itu, kota ini dikenal dengan nama Isfahan dan menjadi ibu kota provinsi Al-Jibal, sebuah wilayah strategis di Iran pada masa kekuasaan Islam awal.
Pusat Kekuasaan dan Peradaban Islam
Memasuki abad ke-10, kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah mulai melemah. Dinasti Buyid kemudian mengambil alih pemerintahan dan membawa periode kemakmuran baru bagi Isfahan.
Perkembangan kota ini semakin pesat ketika penakluk Turki Toghril Beg mendirikan Dinasti Seljuk pada abad ke-11 dan menjadikan Isfahan sebagai ibu kota pemerintahannya. Pada masa ini, Isfahan berkembang menjadi pusat politik, perdagangan, serta kebudayaan Islam di kawasan Persia.
Kejayaan kota tersebut mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Shah Abbas I dari Dinasti Safavid pada tahun 1598. Di bawah kepemimpinannya, Isfahan berkembang menjadi salah satu kota paling indah di dunia pada abad ke-17.
Banyak bangunan monumental yang masih berdiri hingga saat ini berasal dari periode tersebut, mencerminkan kemajuan seni, arsitektur, dan peradaban Islam di wilayah itu.
Runtuhnya Masa Keemasan
Namun kejayaan tersebut tidak berlangsung selamanya. Pada tahun 1772, pasukan Afghanistan berhasil mengalahkan tentara Persia dan mengepung Isfahan dalam waktu lama. Peristiwa itu menandai berakhirnya masa keemasan kota tersebut.
Akibat pengepungan dan konflik yang berkepanjangan, Isfahan mengalami kehancuran besar serta penurunan populasi secara drastis.
Pemulihan kota baru mulai terlihat pada awal abad ke-20 di bawah pemerintahan Reza Shah Pahlavi. Pada masa ini, pembangunan kembali kota dilakukan secara besar-besaran, ekonomi mulai bergerak, dan Isfahan perlahan berkembang menjadi salah satu pusat industri utama di Iran.
Kota Industri dan Teknologi Nuklir
Seiring perkembangan modern Iran, Isfahan juga menjadi lokasi sejumlah fasilitas strategis negara. Salah satunya adalah Isfahan Nuclear Technology Center (INTC) yang mulai beroperasi pada 1999.
Kompleks tersebut menjadi bagian penting dari program penelitian dan pengembangan nuklir Iran, yang dalam beberapa dekade terakhir sering menjadi sorotan dunia internasional.
Selain sektor teknologi dan pertahanan, Isfahan juga dikenal sebagai pusat manufaktur dan industri yang menopang perekonomian Iran.
Kota “Setengah Dunia”
Di luar peran strategisnya, Isfahan tetap dikenal sebagai kota budaya yang kaya akan warisan sejarah. Dalam bahasa Persia, kota ini dijuluki “Nesf-e Jahan” yang berarti “setengah dunia”—sebuah ungkapan yang mencerminkan keindahan dan kemegahan kota tersebut.
Salah satu ikon paling terkenal adalah Grand Bazaar of Isfahan, yang dikenal sebagai salah satu pasar tradisional tertua di Timur Tengah.
Selain itu terdapat Naqsh-e Jahan Square atau Imam Square, alun-alun megah yang telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Kawasan ini dikelilingi berbagai bangunan bersejarah seperti Masjid Shah, Masjid Sheikh Lotfollah, serta Istana Ali Qapu.
Kompleks arsitektur tersebut menjadi simbol kejayaan seni dan budaya Persia yang memadukan unsur arsitektur Islam dengan tradisi lokal Iran.
Disebut dalam Hadis tentang Akhir Zaman
Selain dikenal karena sejarah dan arsitekturnya, Isfahan juga sering disebut dalam literatur keagamaan Islam. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan bahwa Dajjal akan diikuti oleh 70.000 orang Yahudi dari Isfahan yang mengenakan pakaian khas yang disebut “thayalisah”.
Hadis tersebut sering menjadi bahan kajian para ulama dan sejarawan, khususnya dalam pembahasan tentang tanda-tanda akhir zaman dalam tradisi Islam.
Meski demikian, banyak ulama menekankan bahwa hadis tersebut perlu dipahami dalam konteks ilmiah dan historis, serta tidak dapat digunakan untuk menilai masyarakat atau komunitas tertentu pada masa kini.
Dengan sejarah yang panjang, warisan budaya yang kaya, serta perannya dalam geopolitik modern, Isfahan tetap menjadi salah satu kota paling penting dan berpengaruh di Iran hingga saat ini. (*)






