Perang AS–Israel vs Iran Picu Krisis Energi Asia, Pakistan Tutup Sekolah hingga Vietnam Hapus Tarif BBM

Bagikan

Perang AS–Israel vs Iran Picu Krisis Energi Asia, Pakistan Tutup Sekolah hingga Vietnam Hapus Tarif BBM
Ilustrasi perang AS-Israel vs Iran. (Foto: Istimewa)

Jakarta, Nusantara Info: Perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran tidak hanya memicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah, tetapi juga mengguncang stabilitas pasokan energi global. Dampaknya kini mulai terasa di sejumlah negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi.

Pakistan, Thailand, Bangladesh, dan Vietnam menjadi beberapa negara yang terpaksa mengambil langkah darurat untuk menekan konsumsi bahan bakar dan listrik di tengah lonjakan harga energi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kebijakan yang diambil pun beragam, mulai dari penutupan sekolah, pengurangan aktivitas kantor pemerintah, hingga penghapusan tarif impor bahan bakar.

Langkah-langkah ini mencerminkan betapa seriusnya dampak krisis energi yang dipicu konflik di kawasan penghasil minyak utama dunia tersebut.

Pakistan Tutup Sekolah, Menteri Lepas Gaji

Pemerintah Pakistan menjadi salah satu yang paling agresif dalam menerapkan kebijakan penghematan energi. Perdana Menteri Shehbaz Sharif pada Senin (9/3/2026) mengumumkan paket kebijakan darurat untuk menstabilkan perekonomian negara.

Mulai pekan depan, seluruh sekolah di Pakistan akan ditutup selama dua minggu. Kebijakan ini berdampak pada sekitar 40 juta siswa di seluruh negeri. Sementara itu, perguruan tinggi dan universitas akan menjalankan sistem perkuliahan daring selama periode yang sama.

Tak hanya sektor pendidikan, aktivitas pemerintahan juga ikut dibatasi. Kantor pemerintah—kecuali sektor perbankan—hanya akan beroperasi empat hari dalam sepekan. Separuh pegawai negeri diminta bekerja dari rumah atau work from home (WFH).

Pemerintah juga memangkas jatah bahan bakar kendaraan dinas hingga 50 persen selama dua bulan ke depan. Pengecualian hanya diberikan untuk ambulans dan bus umum.

Langkah penghematan juga menyasar pejabat negara. Para menteri kabinet dan penasihat pemerintah sepakat tidak mengambil gaji dan tunjangan mereka. Sementara anggota legislatif, baik di tingkat federal maupun daerah, diminta secara sukarela memotong gaji hingga 25 persen.

Selain itu, pemerintah melarang penyelenggaraan pesta makan malam buka puasa selama Ramadan guna menekan konsumsi energi.

Pakistan sendiri baru saja menaikkan harga bensin dan solar sebesar 55 rupee atau sekitar Rp3.316 per liter—kenaikan terbesar dalam sejarah negara tersebut. Ketergantungan tinggi terhadap impor energi membuat inflasi Pakistan sangat sensitif terhadap lonjakan harga global.

“Untuk menstabilkan ekonomi, kami telah mengambil keputusan-keputusan sulit,” ujar Sharif dalam pidato yang disiarkan televisi nasional.

Thailand Terapkan WFH hingga Gunakan Tangga

Thailand juga bergerak cepat menghadapi potensi krisis energi. Perdana Menteri Anutin Charnvirakul memerintahkan para pegawai negeri bekerja dari rumah mulai Selasa (10/3/2026), kecuali bagi mereka yang bertugas memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat.

Pemerintah juga memberlakukan sejumlah aturan penghematan energi di kantor-kantor pemerintahan. Suhu pendingin ruangan harus diatur pada kisaran 26–27 derajat Celsius. Pegawai dianjurkan mengenakan kemeja lengan pendek sebagai pengganti pakaian formal untuk mengurangi penggunaan AC.

Selain itu, pegawai diminta mematikan lampu dan perangkat listrik ketika tidak digunakan serta menghindari penggunaan lift dengan beralih menggunakan tangga.

Perjalanan dinas luar negeri untuk sementara juga ditangguhkan. Pemerintah turut mengimbau masyarakat melakukan carpooling atau berbagi kendaraan guna menekan konsumsi bahan bakar.

Jika krisis semakin memburuk, pemerintah Thailand mempertimbangkan kebijakan yang lebih ketat, seperti meredupkan papan iklan di pusat perbelanjaan, bioskop, dan gedung komersial, hingga menutup stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) pada pukul 22.00.

Baca Juga :  Sidang Umum PBB ke-80: Tantangan Berat di Tengah Krisis Global dan Seruan Reformasi

Saat ini Thailand memiliki cadangan energi yang diperkirakan cukup untuk sekitar 95 hari. Sekitar 68 persen kebutuhan energi negara tersebut berasal dari gas alam. Pemerintah pun tengah mencari tambahan pasokan gas alam cair (LNG) dari Amerika Serikat, Australia, dan Afrika Selatan.

Bangladesh Tutup Universitas

Bangladesh memilih langkah drastis dengan menutup seluruh universitas negeri maupun swasta sebagai bagian dari kebijakan penghematan energi.

Penutupan kampus dilakukan dengan mempercepat masa libur Idulfitri. Pemerintah menilai universitas merupakan salah satu institusi yang mengonsumsi listrik dalam jumlah besar, terutama untuk asrama mahasiswa, ruang kelas, laboratorium, serta sistem pendingin udara.

Selain itu, kebijakan ini juga diharapkan mampu mengurangi kemacetan lalu lintas yang selama ini turut meningkatkan konsumsi bahan bakar.

Sekolah pemerintah dan swasta di Bangladesh sendiri telah lebih dulu ditutup sejak awal Ramadan. Dengan demikian, hampir seluruh lembaga pendidikan di negara tersebut saat ini berhenti beroperasi sementara.

Pemerintah juga meminta sekolah dengan kurikulum asing serta pusat bimbingan belajar swasta untuk menghentikan kegiatan operasional.

Bangladesh merupakan negara yang sangat bergantung pada impor energi, dengan sekitar 95 persen kebutuhan energinya dipasok dari luar negeri.

Sejak Jumat (6/3/2026), pemerintah telah memberlakukan pembatasan pembelian bahan bakar harian menyusul aksi panic buying dan penimbunan oleh masyarakat.

Krisis gas yang parah bahkan memaksa empat dari lima pabrik pupuk milik negara menghentikan operasinya. Pasokan gas yang tersisa dialihkan untuk pembangkit listrik guna mencegah pemadaman massal.

Untuk menutupi kekurangan pasokan, Bangladesh juga terpaksa membeli LNG dari pasar spot dengan harga jauh lebih tinggi.

Vietnam Hapus Tarif Impor BBM

Sementara itu di Vietnam, pemerintah menghadapi lonjakan harga bahan bakar yang tajam akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Kementerian Perdagangan Vietnam meminta perusahaan-perusahaan mendorong karyawan mereka bekerja dari rumah guna mengurangi konsumsi bahan bakar. Pemerintah juga mengimbau masyarakat agar tidak menimbun atau berspekulasi terhadap bahan bakar.

Sejak akhir Februari lalu, harga bensin di Vietnam tercatat naik 32 persen. Harga solar melonjak hingga 56 persen, sementara minyak tanah naik sekitar 80 persen.

Lonjakan harga tersebut memicu antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di ibu kota Hanoi pada Selasa (10/3/2026).

Sebagai respons darurat, pemerintah Vietnam pada Senin (9/3/2026) memutuskan menghapus tarif impor bahan bakar hingga akhir April mendatang. Kebijakan ini diharapkan dapat menurunkan harga serta menjaga stabilitas pasokan energi domestik.

Perdana Menteri Pham Minh Chinh bahkan melakukan komunikasi langsung dengan para pemimpin Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab untuk mengamankan pasokan minyak mentah dan bahan bakar bagi Vietnam.

Krisis Energi Global Mengancam

Langkah darurat yang diambil empat negara Asia tersebut mencerminkan luasnya dampak perang di Timur Tengah terhadap pasar energi dunia.

Gangguan pasokan minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia telah memicu lonjakan harga global, sekaligus meningkatkan tekanan ekonomi bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi.

Jika konflik berkepanjangan, analis memperingatkan bahwa lebih banyak negara di Asia berpotensi mengambil langkah penghematan serupa untuk menjaga stabilitas ekonomi dan pasokan energi nasional. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait