Serangan Drone dan Rudal Iran ke Isrel, Ini Lima Skenario Dampak Negatif untuk Indonesia

Bagikan

Serangan Drone dan Rudal Iran ke Isrel, Ini Lima Skenario Dampak Negatif untuk Indonesia

Jakarta (14/4/2024): Kondisi geopolitik di Timur Tengah memanas setelah Iran meluncurkan serangan drone dan rudal ke Israel pada Sabtu malam (13/4/2024). Dilansir dari CNBC Indonesia, konflik di Timur Tengah diperkirakan akan melambungkan harga komoditas mulai dari emas hingga minyak mentah.

Seperti diketahui, serangan drone pada Sabtu yang merupakan serangan langsung pertamanya terhadap wilayah Tel Aviv. Ini berisiko meningkatkan eskalasi regional karena Amerika Serikat (AS) berjanji memberikan dukungan “kuat” kepada Israel.

Serangan Iran terjadi ketika proksi Teheran di Irak, Lebanon, Suriah dan Yaman melancarkan serangkaian serangan terhadap sasaran-sasaran Israel dan Barat sejak tanggal 7 Oktober, ketika Hamas yang didukung Iran melancarkan serangan teror yang menghancurkan di Israel selatan, sehingga memicu serangan membabi buta Tel Aviv ke Gaza, Palestina.

Letak geografis Iran dan Israel yang berada di Timur Tengah adalah salah satu alasan mengapa konflik kedua negara bisa memicu harga minyak. Timur Tengah adalah salah satu wilayah dengan produsen terbesar di dunia.

Posisi Israel sebagai sekutu Amerika Serikat (AS) juga dikhawatirkan bisa membawa konflik di Timur Tengah meluas sehingga dampak ke ekonomi bisa semakin besar.

Ada beberapa skenario buruk yang berdampak negatif ke Indonesia jika konflik Iran vs Israel meluas, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Harga Minyak Melambung

Iran adalah salah satu produsen minyak terbesar di dunia dengan produksi sekitar 3,9 juta barel per hari (bpd). Ekspor minyak mereka diperkirakan mencapai 1,29 juta bpd pada 2023.

Perang tidak hanya akan mengganggu produksi tetapi juga jalur distribusi sehingga ada persoalan pada pasokan. Kondisi inilah yang bisa memicu harga minyak melambung.
Sebagai gambaran, harga minyak langsung terbang 4% pada Senin setelah perang Israel vs Hamas meletus di akhir pekan pada 7 Oktober 2023. Perang Rusia-Ukraina juga mengerek harga minyak hingga menembus US$ 100 per barel dalam hitungan dua hari setelah konflik meletus pada 24 Februari 2022.

Bank Dunia dalam Commodity Markets Outlook pada Oktober 2023 membeberkan tiga skenario pasokan minyak saat perang Hamas vs Israel meletus.
Skenario pertama adalah adanya “gangguan kecil” di mana pasokan minyak dunia hanya berkurang 500.000-2 juta bpd.

Skenario kedua adalah “medium” di mana pasokan harga minyak berkurang 3-5 juta bpd. Skenario ketiga adalah “besar” di mana dampaknya bisa mengurangi pasokan 6-8 bpd. Dampak perang memang tidak akan sbesar pada 1973 saat terjadi boikot Israel tetapi tetap akan berimbas banyak ke sejumlah negara.

Dari Oktober 1973 hingga Maret 1974, ketika perang Yom Kippur memicu embargo minyak terhadap pendukung Israel oleh negara-negara Arab, harga minyak melonjak lebih dari 300%. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak menjadi beban karena Indonesia merupakan net importir minyak. Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi atapun subsidi bisa dinaikkan jika harga minyak terus melambung. Dampak lainnya adalah subsidi BBM yang bisa melesat.

  1. Inflasi Global Meningkat

Ketika harga minyak mentah melonjak, ancaman inflasi yang tinggi
kembali menghantui perekonomian global. India, China, dan negara-negara besar lainnya merupakan importir minyak yang besar dan dapat mengalami inflasi impor yang tinggi jika harga minyak tetap tinggi.

Baca Juga :  Sambut Hari Raya Galungan dan Kuningan, Kepala BP3 Curug : Mari Kita Menyebarkan Kebaikan

AS juga merupakan konsumen minyak terbesar di dunia sehingga kenaikan harga minyak bisa kembali mengerek inflasi.

Ketika harga minyak naik, biaya produksi berbagai industri dan biaya energi untuk dunia usaha dan rumah tangga juga meningkat sehingga mendorong inflasi lebih tinggi.

Inflasi global yang tinggi ini tentu saja akan menjadi kabar buruk bagi Indonesia karena akan membuat pelonggaran suku bunga global menjauh.

  1. Suku Bunga Tinggi Bisa Bertahan Lama

Kenaikan harga energi dan inflasi yang kembali mengancam dunia bisa menahan bank sentral untuk memangkas suku bunga. Padahal, pelaku pasar sudah terlanjur memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga pada tahun ini.

Bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) bisa saja semakin mempertahankan kebijakan “higher for longer” terus menerus jika inflasi masih mengancam AS akibat kenaikan harga energi.

Tingginya suku bunga global akan mempersempit ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Padahal, pelaku pasar nasional sudah lama menunggu pemangkasan BI rate.

  1. Dolar AS Semakin Perkasa

Ketidakpastian geopolitik cenderung membuat pelaku pasar memilih menanamkan investasi pada aset safe haven seperti dolar. Dolar pun bisa kembali diburu investor sehingga mata uang asing bisa semakin terpuruk.

Indeks dolar terbang ke 106,038 pada perdagangan kemarin. Posisi tersebut adalah yang tertinggi sejak 1 November 2023 atau lebih dari lima enam bulan terakhir.

Bagi Indonesia, dolar yang semakin perkasa adalah kabar buruk karena rupiah bisa terus terpuruk.

Nilai tukar rupiah selama ini masih terancam oleh pergerakan inflasi AS dan kebijakan The Fed. Bila perang semakin panas dan meluas maka dolar AS semakin diburu dan akibatnya mata uang lain kian terpuruk.

  1. Capital Outflow

Mata uang dan saham global langsung ambruk begitu perang Israel vs Hamas meletus pada 7 Oktober 2023. Kondisi serupa diperkirakan bisa terulang pada Selasa pekan depan saat pasar keuangan Indonesia dibuka kembali.

Perang meningkatkan ketidakpastian global sehingga investor cenderung menarik dana dari aset berisiko tinggi dan negara berkembang.

Arus keluar dana asing atau capital outflow dari pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN) dikhawatirkan meningkat setelah konflik Iran vs Israel memanas. Indonesia merupakan salah satu pasar keuangan yang rawan dengan capital outflow.

Sebagai gambaran, capital outflow mengalir deras dari pasar keuangan Indonesia setelah perang Israel vs Hamas meletus pada 7 Oktober 2023.

Data BI menunjukkan pada periode 9-12 Oktober 2023 terjadi outflow sebesar Rp 4,32 triliun di pasar keuangan Indonesia. Jual neto Rp4,62 triliun di pasar SBN, jual neto Rp0,10 triliun di pasar saham sementara terjadi beli neto Rp0,40 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait