
Tangerang Selatan, Nusantara Info: Status tanggap darurat sampah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) resmi berakhir pada Senin (5/1/2026). Namun, berakhirnya status darurat belum mengakhiri persoalan di lapangan. Beberapa pasar tradisional masih dikepung tumpukan sampah yang menggunung, meluber ke badan jalan, dan menimbulkan bau menyengat.
Pantauan Nusantara Info di Pasar Cimanggis, Pasar Ciputat, dan Pasar Jombang menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Gunungan sampah di tiga pasar tersebut bahkan menutup separuh jalan, sementara air lindi mengalir dan lalat serta belatung bermunculan.
Di Pasar Cimanggis dan Jombang, ketinggian tumpukan sampah mencapai sekitar tiga meter, hampir menyentuh atap kios pedagang. Sementara di Pasar Ciputat dan Cimanggis, sampah meluber hingga menutup separuh jalan raya dan memanjang di trotoar sekitar 10 meter.
Sampah Tutup Akses dan Ganggu Aktivitas
Di Pasar Cimanggis, tumpukan sampah meluber hingga ke Jalan Otista Raya, menutup akses keluar-masuk pasar yang biasa digunakan pedagang. Aktivitas pedagang dan pengunjung pun terganggu. Sejumlah pengendara sepeda motor terlihat menutup hidung karena bau menyengat dari sampah.
“Pengennya diangkut setiap hari biar bersih, jadi enggak meluber ke pinggir jalan,” ujar Hartini (42), pedagang sayur di Pasar Cimanggis. Ia menambahkan bahwa sampah sudah menumpuk sejak Desember 2025, dan pengangkutan yang dilakukan sebelumnya tidak tuntas.
Hartini menjelaskan, sampah yang menumpuk bukan hanya berasal dari pedagang pasar, tetapi juga dari warga sekitar. Banyak sampah rumah tangga berupa kemasan makanan cepat saji, botol air mineral, hingga pakaian bekas dibuang di pasar.
Hal senada disampaikan pedagang kelapa parut, Doni Putra (31). Ia menyebut warga dari luar pasar masih sering membuang sampah di lokasi, bahkan ada yang membayar sekitar Rp3.000 atau seikhlasnya kepada penjaga sampah.
“Situasinya bikin aktivitas pedagang dan pengunjung pasar tidak nyaman,” katanya.
Doni menambahkan, tumpukan sampah terakhir diangkut tiga hari lalu, namun cepat menumpuk kembali. Saat hujan, air lindi berwarna hitam mengalir dari tumpukan sampah dan menimbulkan bau tak sedap. “Kalau ganggu mah, ganggu banget. Jalan saja terganggu, apalagi kalau hujan,” ujar Doni.
Jumlah Pengunjung Turun
Selain mengganggu kenyamanan, keberadaan sampah juga berdampak pada jumlah pengunjung pasar. Pedagang mengaku pembeli semakin berkurang seiring kondisi pasar yang kotor dan bau. Meski demikian, beberapa pedagang tetap bertahan berjualan secara offline, mengandalkan pelanggan lama.
Harapan Pedagang
Meski status darurat telah berakhir, pedagang berharap pengangkutan sampah dilakukan secara rutin dan menyeluruh. “Harapannya kalau sudah penuh langsung diangkut semua. Jangan sedikit-sedikit, biar enggak numpuk lagi,” kata Doni.
Bagi para pedagang pasar tradisional di Tangsel, berakhirnya status tanggap darurat belum sepenuhnya mengakhiri krisis sampah. Selama sistem pengangkutan belum normal dan tuntas, tumpukan sampah tetap menjadi persoalan sehari-hari yang mereka hadapi. (*)






