Shadow

Bandara Senggeh Bentuk Nyata Kehadiran Pemerintah di Perbatasan NKRI

Bagikan

Berada di perbatasan NKRI dengan Papua Nugini, kehadiran Bandara Senggeh di Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran Pemerintah Pusat terhadap masyarakat pedalaman dan perbatasan terkait pemerataan infrastruktur serta untuk membangun daerah dengan menghadirkan moda transportasi memadai.

Meskipun hingga saat ini Bandara Senggeh belum melayani angkutan penumpang dan hanya melayani penerbangan angkutan kargo tidak berjadwal atau charter flight, namun demikian kehadiran bandara ini memiliki peran penting terhadap pendistribusian kebutuhan logistik masyarakat ke daerah pedalaman Papua.

Kepala Bandara Senggeh M. Sarif Hidayat

Kepala Bandara Senggeh M. Sarif Hidayat mengemukakan, walaupun penerbangan di bandara yang memiliki runway sepanjang 900 meter x 23 meter masih sebatas penerbangan angkutan kargo, namun memiliki dampak positif bagi Kabupaten Pegunungan Bintang yang terdapat 10 lapter.

“Melalui Bandara Senggeh, kebutuhan logistik tersebut diangkut menggunakan penerbangan kargo tidak berjadwal. Selain 10 lapter tersebut, penerbangan kargo tidak berjdawal di bandara ini juga melayani tiga Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) di pedalaman Kabupeten Pegunungan Bintang, yaitu Bandara Oksibil, Bandara Kiwirok dan Bandara Batom,” katanya.

Apron Bandara Senggeh

Menurut Sarif, angkutan kargo tersebut bisa saja diterbangkan langsung dari Bandara Sentani, namun memiliki perbedaan harga yang cukup tinggi. Oleh karena itu, Bandara Senggeh menjadi alternatif untuk penerbangan angkutan kargo menuju daerah pegunungan mengingat jarak Bandara Senggeh dengan Bandara Sentani lebih dekat dan bisa ditempuh menggunakan jalur darat selama empat jam sehingga dapat menekan harga untuk Pemda atau masyarakat setempat yang menggunakan pesawat tersebut untuk kebutuhan angkutan logistik

“Jadi, barang-barang tersebut dibawa dari Sentani menggunakan jalur darat ke Senggeh, kemudian dari Senggeh diterbangkan ke daerah tersebut. Dengan melalui jalur darat, biaya yang dikeluarkan pun lebih murah dibandingkan menggunakan pesawat langsung dari Sentani,” ujarnya.

Baca Juga :  Menhub: Harhubnas Sebagai Momentum Perenungan Terhadap Kontribusi di Sektor Perhubungan

Berdasarkan catatan tiga tahun terakhir, cargo yang diangkut dari Bandara Senggeh terus meningkat. Pada tahun 2017, cargo yang diangkut sebanyak 28,135 Kg, tahun 2018 sebanyak 145,170 Kg dan tahun 2019 sebanyak 360,608 Kg.

Gedung Kargo Bandara Senggeh

Lebih lanjut Sarif menjelaskan, sebagai kepala bandara baru di Senggeh, ia tidak hanya melanjutkan program yang sudah ada saja, tetapi ia juga berupaya untuk menghadirkan penerbangan penumpang di bandara itu, mengingat masyarakat sekitar tidak hanya memiliki hubungan kekerabatan saja dengan daerah wilayah Papua lainnya seperti Pegunungan Bintang, tetapi juga untuk layanan kesehatan masyarakat setempat karena untuk fasilitas kesehatan di daerah itu masih sangat terbatas walaupun sudah ada Puskesmas.

“Meskipun disini ada Puskesmas dan menuju ke Jayapura bisa ditempuh melalui jalur darat, namun kondisi jalan tidak memungkinkan jika membawa pasien dalam keadaan darurat yang membutuhkan pertolongan medis,” ungkap Sarif yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Bandara Wasior di Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat.

Ruang Tunggu Bandara Senggeh

Selain berupaya menghadirkan penerbangan penumpang di Bandara Senggeh, Sarif juga akan melakukan pembenahan di bandara itu dengan memperbaiki apa yang harus diperbaiki dan meningkatkan apa yang sudah baik di bandara itu serta menambahkan apa yang kurang dan memaksimalkan pelayanan bandara agar manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat luas.


Bagikan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *