Shadow

Masyarakat Pegubin Papua Merindukan “Harga Normal”, Angkutan Kargo Perintis Jadi Solusi

Bagikan

Masyarakat Pegubin Papua Merindukan "Harga Normal", Angkutan Kargo Perintis Jadi Solusi
Bandara Oksibil
Foto: Dok. Nusantara Info

Oksibil (16/2/2021): Pernah ada info bikin banyak pihak mengernyitkan dahi. Persisnya di pertengahan tahun lalu sejumlah media memberitakan harga satu karung beras berukuran 10 kilogram di kawasan tambang emas tradisional di Korowai, tepatnya di Maining 33, Distrik Kawinggon, Kabupaten Pegunungan Bintang mencapai Rp 2 juta. Harga satu kardus mi instan dijual seharga Rp 1 juta. Bahkan ada satu kardus mi instan ditukar dengan emas dua gram. Selain bahan makanan pokok, harga bahan lain juga cukup tinggi. Satu ikan kaleng berukuran besar dijual seharga Rp 150.000.

Kondisi geografis di wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang di Papua sangat mempengaruhi harga barang di sana. Oksibil adalah ibukota Kabupaten Pengunungan Bintang (Pegubin). Sebagaimana wilayah Papua lainnya, kabupaten ini bergunung-gunung sehingga transportasi udara menjadi andalan. Di Pegubin, pesawat terbang bahkan digunakan untuk melakukan perjalanan antardistrik (kecamatan). Total ada enam lapangan terbang yang dimiliki Pegubin.

Masyarakat Pegubin Papua Merindukan "Harga Normal", Angkutan Kargo Perintis Jadi Solusi
Suasana penerbangan di Bandara Oksibil
Foto: Istimewa

Ekstremnya cuaca di Pegubin seringkali membahayakan penerbangan dari dan ke wilayah tersebut. Puncak tertinggi di Pegubin bernama Mandala dengan ketinggian sekitar 4.000 meter dari permukaan laut. Namun, bagian selatan dan utara kabupaten itu relatif adalah dataran rendah. Luas wilayah Pegubin mencapai 15.683 km persegi. Dari luas itu, sekitar 1.575.809 hektar merupakan hutan.

Salah satu lapangan terbang di Pegubin adalah Bandara Oksibil. Kata Kabandara Oksibil, Agus Hadi Sudarmanto, bahwa Pegunungan Bintang adalah daerah termahal kedua setelah Puncak Jaya, dengan faktor pemicu dari sisi transportasi hanya menggunakan pesawat udara.

Masyarakat Pegubin Papua Merindukan "Harga Normal", Angkutan Kargo Perintis Jadi Solusi
Kepala Bandara Oksibil Agus Hadi bersama Jajaran
Foto: Dok. Nusantara Info

Lantas, apa solusinya? Kementerian Perhubungan memberikan subsidi angkutan udara kargo rute Merauke-Oksibil tahun 2021.Pembukaan penerbangan perdana perintis kargo Merauke-Oksibil dilaksanakan di Bandara Mopah Merauke akhir Januari lalu. Flight pertama memuat enam ton beras asal petani Merauke.

Baca Juga :  Rakornas Tol Laut 2022: Jumlah Muatan Naik 21%

Angkutan kargo perintis ini sebagai upaya menekan disparitas atau perbedaan harga barang kebutuhan pokok di daerah Papua terutama di wilayah Oksibil.

“Dalam rangka penurunan disparitas harga, kami menyambut baik program dari Kemenhub melalui subsidi kargo,” kata Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Pegunungan Bintang, Alferus Sanuari dalam sambutannya.

Masyarakat Pegubin Papua Merindukan "Harga Normal", Angkutan Kargo Perintis Jadi Solusi
Landasan pacu Bandara Oksibil
Foto: Istimewa

Disparitas harga, menurut Alferus, menjadi pergumulan Pemerintah Daerah dan masyarakat di Pegunungan Bintang selama ini, sebab harga jual barang sangatlah tinggi.

Dalam kondisi tertentu, terutama saat cuaca buruk tidak ada pesawat masuk, maka otomatis harga akan melonjak naik. Semisal semen per sak bisa mencapai Rp1.500.000, dan harga beras naik hingga jutaan rupiah. Dengan adanya program ini, diharapkan masyarakat di wilayah itu dapat menikmati harga normal dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Masyarakat Pegubin Papua Merindukan "Harga Normal", Angkutan Kargo Perintis Jadi Solusi
Sudut Oksibil
Foto: Istimewa

Pelaksana Penerbangan Perintis Cargo Merauke-Oksibil PT Trigana Air Service. Adanya subsidi kargo dari Kemenhub, Trigana Air akan mengangkut bahan pokok tiga kali dalam seminggu ke Oksibil, sehingga  pengangkutan dalam sebulan sebanyak 12 kali. Masing-masing flight, mengangkut beras sebanyak 6 ton.

Subsidi kargo dari Merauke-Oksibil merupakan momen penting, untuk memudahkan penyuplaian bahan pokok dari wilayah selatan. Sekaligus komoditas dari Merauke bisa terserap, dan kesenjangan ekonomi bisa diminimalisirkan. (*)


Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *