Mobil Dinas Rp 8,5 Miliar Tuai Kritik, LHKPN Gubernur Kaltim Ikut Jadi Sorotan

Bagikan

Mobil Dinas Rp 8,5 Miliar Tuai Kritik, LHKPN Gubernur Kaltim Ikut Jadi Sorotan
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud. (Foto: Istimewa)

Kaltim, Nusantara Info: Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud menjadi sorotan tajam publik setelah pengadaan mobil dinas jenis SUV mewah senilai Rp 8,5 miliar mencuat ke ruang publik. Kendaraan yang diduga merupakan Land Rover Defender OCTA atau Range Rover Autobiography itu menuai kritik, bukan hanya karena nilainya yang fantastis, tetapi juga karena keberadaannya yang disebut-sebut berada di Jakarta.

Isu ini memantik perdebatan, terutama terkait urgensi pengadaan kendaraan tersebut di tengah tuntutan efisiensi anggaran daerah. Kritik semakin menguat setelah muncul perbedaan penjelasan dari pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Kaltim.

Sekretaris Daerah (Sekprov) Kaltim, Sri Wahyuni, sebelumnya menyatakan bahwa kendaraan tersebut dibutuhkan untuk menunjang mobilitas gubernur di wilayah pedalaman dengan medan ekstrem. Namun, pernyataan itu berbanding terbalik dengan penjelasan Gubernur Rudy Mas’ud.

Rudy justru mengonfirmasi bahwa kendaraan tersebut disiagakan di Jakarta untuk keperluan representasi daerah, mengingat posisi strategis Kaltim sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Masa iya kepala daerahnya pakai mobil alakadarnya? Jaga dong marwahnya Kaltim,” ujar Rudy menanggapi kritik yang berkembang.

Perdebatan Urgensi dan Simbolisme

Pernyataan tersebut memunculkan diskursus publik tentang batas antara kebutuhan operasional dan simbolisme jabatan. Di satu sisi, pemerintah daerah kerap berargumen bahwa fasilitas representatif diperlukan untuk mendukung diplomasi dan citra daerah, terlebih Kaltim kini memegang peran strategis sebagai wilayah penyangga IKN.

Namun di sisi lain, pengadaan dengan nilai miliaran rupiah dianggap sebagian masyarakat sebagai bentuk pemborosan, apalagi jika tidak secara langsung menunjang pelayanan publik di daerah.

Pengamat kebijakan publik menilai, transparansi dan rasionalisasi kebutuhan menjadi kunci dalam meredam polemik semacam ini. Tanpa penjelasan yang komprehensif, kebijakan berisiko dipersepsikan sebagai bentuk ketidaksensitifan terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat.

LHKPN Jadi Sorotan: Ketimpangan Garasi Pribadi

Kontroversi semakin meluas setelah publik membandingkan fasilitas negara tersebut dengan laporan harta kekayaan pribadi Rudy Mas’ud dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN).

Baca Juga :  Kemenhub Larang Tiket Mudik Gratis Angleb 2024 Diperjualbelikan

Berdasarkan data per Maret 2025, Rudy hanya melaporkan tiga kendaraan pribadi dengan kategori relatif lawas, yakni Honda CR-V (2010), Honda Freed (2008), dan Suzuki SX4 X-Over (2007). Total nilai ketiganya diperkirakan sekitar Rp 250 juta.

Perbandingan ini memunculkan persepsi kontras antara fasilitas dinas yang digunakan dengan profil aset pribadi yang dilaporkan.

Dugaan Ketidaksesuaian Aset Bergerak

Sorotan juga mengarah pada gaya personal gubernur yang kerap terlihat mengenakan jam tangan mewah. Dalam sejumlah dokumentasi publik, Rudy tampak menggunakan arloji yang identik dengan merek kelas atas seperti Richard Mille dan Audemars Piguet, dengan nilai yang bisa mencapai miliaran rupiah.

Namun, dalam LHKPN, nilai “Harta Bergerak Lainnya” yang dilaporkan hanya sebesar Rp 450 juta. Perbedaan ini memicu pertanyaan publik mengenai kelengkapan dan akurasi pelaporan aset.

Meski demikian, belum ada konfirmasi resmi apakah barang-barang tersebut merupakan milik pribadi, pinjaman, atau bagian dari koleksi yang belum dilaporkan.

Profil Kekayaan dan Beban Utang

Secara keseluruhan, Rudy Mas’ud melaporkan total kekayaan lebih dari Rp 300 miliar. Komposisi terbesar berasal dari kategori “Harta Lainnya” sebesar Rp 260 miliar, disusul aset properti senilai Rp 26,5 miliar.

Namun, jumlah tersebut belum mencerminkan kekayaan bersih. Setelah dikurangi utang sebesar Rp 137 miliar, total kekayaan bersih yang dilaporkan mencapai sekitar Rp 166,5 miliar.

Desakan Transparansi dan Akuntabilitas

Hingga kini, polemik mobil dinas mewah tersebut masih bergulir di ruang publik, khususnya di media sosial. Warganet dan sejumlah elemen masyarakat sipil mempertanyakan prioritas anggaran pemerintah daerah, terutama di tengah kebutuhan pembangunan dan pelayanan dasar.

Kasus ini kembali menegaskan pentingnya transparansi, konsistensi komunikasi publik, serta akuntabilitas pejabat negara dalam pengelolaan anggaran dan pelaporan kekayaan.

Tanpa klarifikasi yang utuh dan terbuka, polemik serupa berpotensi terus berulang dan menggerus kepercayaan publik terhadap institusi pemerintahan. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait