
TANGERANG, NUSANTARA INFO: Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan meminta para duta besar Republik Indonesia aktif membawa 20–30 calon pembeli asing atau buyer ke Indonesia untuk memperluas pasar produk nasional. Langkah ini diharapkan memperkuat jaringan perdagangan internasional sekaligus meningkatkan peluang transaksi ekspor Indonesia.
Permintaan tersebut disampaikan Zulkifli Hasan, yang akrab disapa Zulhas, dalam pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (14/10/2026).
Menurut Zulhas, perwakilan diplomatik Indonesia memiliki peran strategis dalam membuka akses pasar baru dan mempertemukan pelaku usaha nasional dengan calon mitra bisnis dari berbagai negara.
“Ambassador-Ambassador kita boleh pulang ke Indonesia, tapi membawa minimal 20 atau 30 klien,” kata Zulhas dalam pidatonya.
Ia menegaskan, keterlibatan para duta besar tidak cukup sebatas membangun hubungan diplomatik. Perwakilan Indonesia di luar negeri juga diharapkan mampu mendatangkan calon pembeli potensial yang dapat membuka peluang kerja sama komersial bagi eksportir nasional.
Zulhas menilai pendekatan tersebut penting untuk memperluas jangkauan produk Indonesia di pasar internasional, terutama di tengah upaya pemerintah mencari mitra dagang baru.
Asia Selatan dan Afrika Jadi Sasaran Pasar Baru
Zulhas mengatakan Indonesia perlu terus memperluas pasar ekspor ke negara-negara yang selama ini belum menjadi tujuan utama perdagangan nasional.
Ia secara khusus menyoroti kawasan Asia Selatan, termasuk Bangladesh, Pakistan, dan India, yang menurutnya memiliki potensi besar bagi perdagangan Indonesia.
“Asia Selatan itu paling tinggi surplusnya: ada Bangladesh, ada Pakistan, ada India,” ujarnya.
Selain Asia Selatan, Zulhas melihat peluang perdagangan yang menjanjikan di kawasan Afrika. Ia menyebut produk Indonesia memiliki kesempatan bersaing di pasar tersebut karena menawarkan harga yang ekonomis.
Perluasan pasar ke kawasan nontradisional menjadi salah satu strategi untuk membuka sumber permintaan baru bagi produk dalam negeri. Langkah ini juga dapat membantu eksportir menjangkau lebih banyak konsumen dan mengurangi ketergantungan pada pasar tertentu.
Meski demikian, peluang tersebut perlu diikuti pemahaman terhadap karakteristik pasar tujuan, standar produk, persyaratan impor, serta kebutuhan calon pembeli agar penjajakan bisnis dapat berlanjut menjadi transaksi nyata.
TEI Jadi Ajang Pertemuan Eksportir dan Pembeli Internasional
Zulhas menyebut Trade Expo Indonesia sebagai salah satu agenda perdagangan internasional yang telah berlangsung selama lebih dari empat dekade. Pameran ini menjadi sarana bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk, membangun jaringan bisnis, dan menjajaki kerja sama dengan mitra luar negeri.
Dalam pidatonya, ia membandingkan jumlah pengunjung dengan pembeli internasional yang hadir dalam penyelenggaraan TEI. Menurut dia, jumlah pengunjung biasanya mencapai 8.000–10.000 orang, sedangkan pembeli dari luar negeri berada pada kisaran 500–1.000 orang.
Zulhas juga menyinggung capaian transaksi TEI pada penyelenggaraan sebelumnya yang menurut paparannya pernah mencapai US$22 miliar ketika ia menjabat Menteri Perdagangan.
Sementara itu, dalam percakapan di atas panggung, Menteri Perdagangan menyebut target transaksi TEI 2026 sebesar US$17,5 miliar dan transaksi pada hari pertama mencapai US$13,2 miliar.
Angka tersebut masih perlu dikonfirmasi melalui data resmi Kementerian Perdagangan, termasuk definisi transaksi yang dihitung dan periode pelaporannya, untuk memastikan perbandingan antartahun dilakukan secara tepat.
Diplomasi Dagang Perlu Berujung pada Transaksi
Dorongan kepada para duta besar untuk membawa calon pembeli asing memperlihatkan pentingnya diplomasi ekonomi dalam mendukung ekspor nasional. Perwakilan Indonesia di luar negeri dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan pasar, mempertemukan perusahaan, serta memfasilitasi komunikasi antara eksportir Indonesia dan calon mitra dagang.
Namun, jumlah calon pembeli yang hadir bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Potensi bisnis perlu ditindaklanjuti melalui negosiasi harga, kesepakatan volume, pemenuhan standar negara tujuan, hingga realisasi pengiriman barang.
Bagi pelaku usaha nasional, akses terhadap calon pembeli internasional dapat membuka kesempatan memperluas distribusi produk dan meningkatkan skala bisnis. Peluang tersebut juga membutuhkan dukungan kualitas produk, kepastian pasokan, efisiensi logistik, dan daya saing harga.
Pemerintah berharap sinergi antara Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, serta perwakilan diplomatik Indonesia dapat memperkuat promosi produk nasional dan memperluas jejaring bisnis lintas negara.
Melalui TEI 2026, Indonesia tidak hanya berupaya memperkenalkan produk unggulan kepada pasar dunia, tetapi juga mendorong pertemuan bisnis yang dapat menghasilkan kerja sama perdagangan berkelanjutan. (*)






