
TANGERANG, NUSANTARA INFO: Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengungkapkan pemerintah mencatat surplus beras sebesar 4,2 juta ton setelah melakukan pembenahan kebijakan harga, pengadaan pupuk, dan irigasi. Di sisi lain, pemerintah menargetkan peningkatan Nilai Tukar Nelayan (NTN) dari 103 menjadi 120 pada 2026–2027 untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat pesisir.
Hal tersebut disampaikan Zulkifli Hasan atau yang akrab disapa Zulhas, dalam pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (14/10/2026).
Zulhas mengatakan penguatan sektor pangan merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan produktivitas dalam negeri, memperkuat ekonomi nasional, dan memperluas daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Ia menilai pembenahan kebijakan pertanian mulai menunjukkan hasil, terutama melalui peningkatan kinerja produksi beras dan perbaikan indikator kesejahteraan petani.
“Jadi, baru tiga kebijakan, kita berhasil surplus 4,2 juta ton beras,” kata Zulhas.
Tiga kebijakan yang dimaksud meliputi pembenahan kebijakan harga, pengadaan pupuk, dan irigasi. Menurut dia, ketiga aspek tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Nilai Tukar Petani Naik, Nelayan Jadi Tantangan
Selain menyoroti surplus beras, Zulhas menyampaikan peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) dari 116 pada 2024 menjadi 131. Ia menilai kenaikan tersebut menunjukkan perbaikan kondisi ekonomi petani, khususnya pada sektor tanaman pangan seperti padi dan jagung.
NTP merupakan indikator yang membandingkan indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani. Kenaikan NTP secara umum menunjukkan daya beli petani membaik, meskipun tidak dapat langsung diartikan sebagai persentase keuntungan usaha tani.
Zulhas menggambarkan peningkatan kesejahteraan petani melalui kemampuan memenuhi kebutuhan keluarga, membiayai pendidikan anak, hingga mencicil kendaraan bermotor.
Namun, ia mengakui peningkatan kesejahteraan belum merata di seluruh sektor pangan. Nelayan masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah karena Nilai Tukar Nelayan berada di angka 103.
“Perintah Bapak Presiden, ini akan kita jadikan dari 103 menjadi 120,” ujar Zulhas.
Pemerintah menargetkan peningkatan NTN tersebut pada 2026–2027. Target ini menjadi bagian dari upaya memperbaiki pendapatan dan daya beli nelayan, sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat pesisir.
NTN mengukur perbandingan indeks harga yang diterima nelayan dengan indeks harga yang dibayar untuk kebutuhan rumah tangga dan biaya produksi. Karena itu, kenaikannya menjadi salah satu indikator penting untuk memantau perkembangan kesejahteraan nelayan.
Zulhas menilai penguatan ekonomi nelayan juga berkaitan dengan kepentingan strategis nasional. Menurut dia, nelayan yang lebih sejahtera akan memiliki kapasitas lebih baik untuk menjalankan aktivitas ekonomi di wilayah perairan Indonesia.
Ia menekankan pentingnya meningkatkan kemampuan nelayan lokal agar dapat memanfaatkan potensi laut nasional secara optimal.
Pemerintah Kawal Koperasi Desa Merah Putih
Dalam kesempatan tersebut, Zulhas juga memaparkan upaya pemerintah memperkuat ekonomi desa melalui Koperasi Desa Merah Putih.
Ia menyebut pemerintah telah memulai agenda pemantauan selama delapan hari untuk mendatangi koperasi-koperasi desa di berbagai wilayah Indonesia. Langkah tersebut dilakukan berdasarkan arahan Presiden Prabowo Subianto.
Pemantauan melibatkan koordinasi lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, TNI, dan Polri. Para pemangku kepentingan diminta memeriksa perkembangan operasional koperasi, mengidentifikasi persoalan di lapangan, serta membantu menyelesaikan kendala yang dihadapi.
“Selama delapan hari non-stop, atas arahan dan perintah Presiden, kami sudah mulai kemarin,” kata Zulhas.
Menurut dia, penguatan koperasi desa diharapkan dapat meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat, memperluas akses terhadap kegiatan usaha, dan mendorong produktivitas daerah.
Pemerintah juga berharap penguatan ekonomi desa dapat mendukung peningkatan produksi barang dan jasa yang berdaya saing, termasuk produk yang berpotensi menembus pasar ekspor.
Meski demikian, efektivitas program tersebut akan bergantung pada kesiapan kelembagaan koperasi, kemampuan pengelolaan usaha, akses pembiayaan, serta ketersediaan pasar bagi produk masyarakat.
Ekspor Indonesia Didorong ke Asia Selatan dan Afrika
Zulhas turut menyoroti pentingnya memperluas pasar ekspor Indonesia ke negara-negara mitra baru. Ia menyebut kawasan Asia Selatan, terutama Bangladesh, Pakistan, dan India, sebagai pasar yang memiliki potensi perdagangan besar bagi Indonesia.
Selain Asia Selatan, pemerintah juga melihat peluang di kawasan Afrika. Menurut Zulhas, produk Indonesia memiliki kesempatan untuk bersaing di pasar tersebut karena dapat menawarkan harga yang ekonomis.
Diversifikasi pasar menjadi penting agar ekspor Indonesia tidak hanya bergantung pada sejumlah mitra dagang tradisional. Perluasan pasar juga dapat membuka peluang bagi lebih banyak pelaku usaha nasional untuk memasarkan produknya ke luar negeri.
Dalam konteks itu, Zulhas menekankan pentingnya peran perwakilan diplomatik Indonesia dalam mempertemukan eksportir nasional dengan calon pembeli internasional.
Ia bahkan meminta para duta besar Indonesia membawa sedikitnya 20–30 calon klien atau pembeli asing untuk berpartisipasi dalam kegiatan perdagangan di Indonesia.
Menurut Zulhas, keterlibatan calon pembeli dari luar negeri menjadi salah satu faktor penting untuk memperluas jaringan bisnis dan meningkatkan peluang transaksi.
Ia juga menyampaikan bahwa penyelenggaraan TEI selama lebih dari empat dekade telah menjadi salah satu agenda perdagangan internasional penting bagi Indonesia.
TEI 2026 Jadi Momentum Perluasan Pasar
Dalam pidatonya, Zulhas menyebut perekonomian Indonesia tumbuh 5,45 persen dan neraca perdagangan mencatat surplus. Ia menggunakan capaian tersebut untuk menegaskan optimisme pemerintah terhadap prospek bisnis dan perdagangan Indonesia.
Ia mengajak para delegasi serta pelaku usaha asing yang menghadiri TEI 2026 untuk memperluas hubungan dagang dengan mitra di Indonesia.
“Datang ke Indonesia tepat! Percayalah bisnis Anda akan semakin maju. Semakin sering ke sini, semakin maju bisnisnya, insya Allah,” pungkasnya.
Zulhas juga menegaskan bahwa penguatan pangan merupakan bagian dari agenda peningkatan produktivitas nasional. Sementara itu, sektor hilirisasi dan energi menjadi bagian dari agenda strategis pemerintah yang dikoordinasikan bersama kementerian terkait.
Pemerintah berharap kebijakan peningkatan produksi dalam negeri, penguatan ekonomi desa, dan perluasan pasar ekspor dapat berjalan beriringan.
Bagi sektor pangan, tantangan berikutnya bukan hanya mempertahankan surplus beras, melainkan memastikan manfaat peningkatan produksi dapat dirasakan petani dan nelayan secara berkelanjutan.
Adapun bagi perdagangan internasional, perluasan pasar perlu diikuti dengan peningkatan kualitas produk, kepastian pasokan, efisiensi logistik, dan kemampuan eksportir memenuhi standar negara tujuan.
Dengan demikian, capaian surplus pangan dan perdagangan perlu diiringi penguatan daya beli produsen domestik serta peningkatan nilai tambah produk nasional agar pertumbuhan ekonomi memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. (*)




