Shadow

Ingin Jadi Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta? Kridhomardowo Buka Lowongan Tetapi Harus Mau “Nyeker” Lho…

Bagikan

Ingin Jadi Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta? Kridhomardowo Buka Lowongan Tetapi Harus Mau "Nyeker" Lho...
Ilustrasi Abdi Dalem
Foto: IG @kratonjogja

Yogyakarta (19/2/2021): Keraton Yogyakarta sedang membuka lowongan bagi masyarakat umum untuk menjadi abdi dalem atau pelayan internal di salah satu lembaganya, Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Kridhomardowo. Pendaftaran dibuka hingga 1 Maret mendatang.

Namun jangan harap menjadi abdi dalem bisa berleha-leha dengan statusnya itu. Sebab, dengan menjadi abdi dalem berarti sudah siap untuk menjunjung tinggi budaya keraton. Salah satu contoh, bagaimana harus terbiasa “nyeker” di lingkungan keraton tersebut.

Untuk lowongan kali ini, KHP Kridhomardowo membuka empat posisi, yaitu Wiyaga atau penabuh gamelan, Lebdaswara atau semacam penyanyi pria, Pasindhen atau penyanyi perempuan dan Musikan atau pemain alat musik.

KHP Kridhomardowo ini merupakan divisi kesenian Keraton Yogya yang dikepalai Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro.

Ingin Jadi Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta? Kridhomardowo Buka Lowongan Tetapi Harus Mau "Nyeker" Lho...
Foto: IG @kratonjogja

Terkait lowongan itu, Kanjeng Notonegoro menuturkan syarat umum untuk mendaftar di empat posisi itu antara lain bersedia dengan tulus mengabdi di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pelamar juga merupakan warga negara Indonesia (WNI) yang berdomisili di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah.

Pelamar berusia minimal 17 tahun dan maksimal 45 tahun. “Jika pelamar dinyatakan lolos semua tahap seleksi, maka peserta bersedia melalui proses magang selama dua tahun sebelum menjadi abdi dalem,” kata Kanjeng Notonegoro dalam siaran pers pekan ini.

Ada pula syarat khusus di setiap posisi yang harus dipenuhi. Misalnya jika pelamar berminat pada posisi Lebdaswara dan Pasindhen syarat khususnya sama, yakni mampu melagukan salah satu karya lagu yang sudah ditentukan Keraton. Lagu yang dimaksud antara lain Ladrang Raja Manggala Laras Pelog Pathet Nem atau Ladrang Prabu Mataram Laras Slendro Pathet Sanga yang notasinya tersedia di laman resmi Kraton Jogja.

Namun harap diingat, pihak Keraton Yogya berpesan agar lowongan abdi dalem ini tidak diposisikan seperti lowongan kerja umumnya yang honornya memiliki perhitungan spesifik. Lowongan ini prioritasnya kepada pengabdian, sehingga soal upah (kekucah), jangan dijadikan tujuan utama.

Ingin Jadi Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta? Kridhomardowo Buka Lowongan Tetapi Harus Mau "Nyeker" Lho...
Foto: IG @kratonjogja

Pengabdian dimaksud di antaranya sejauh mana abdi dalem ikut melestarikan budaya. Di antaranya perilaku “nyeker”. Abdi dalem Kraton Yogyakarta memiliki satu kebiasaan yang sama walaupun memiliki wilayah kerja masing-masing, salah satunya yaitu perilaku “nyeker” ketika menjalankan tugasnya. Nyeker merupakan istilah dalam Bahasa Jawa Ngoko yang berarti tidak memakai alas kaki.

Baca Juga :  7 Budaya Lebaran di Indonesia

Tentang “nyeker” ini mendorong mahasiswa UNY yaitu Fahmi Marinda dan Limas Assifa Suryaningtyas (PGSD), Reza Widha Yaka (Pendidikan Sejarah), serta Muhammad Lutfi Hendrato (Kebijakan Pendidikan) di bawah bimbingan Fathurrohman, M.Pd. (FIP UNY) untuk melakukan penelitian yang dituangkan dalam Program Kreatifitas Mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menguak makna di balik perilaku nyeker para abdi dalem.

Hasil penelitian mereka mengungkapkan nyeker ternyata memiliki sebuah filosofi yang sangat mendalam dan mungkin tidak banyak orang tahu maknanya. Dari informan diketahui bahwa peraturan tertulis yang ada di Kraton Yogyakarta disebut peranatan dimana salah satu peranatan yang berlaku di Kraton Yogyakarta berjudul “Lampah-lampah Pesowanan Ngabekten”. Peranatan tersebut membahas mengenai tata cara berpakaian yang harus digunakan oleh raja, permaisuri, hingga abdi dalem pada saat acara pesowanan ngabekten termasuk peraturan untuk tidak menggunakan alas kaki atau cenela (Bahasa Jawa). Hal ini menandakan bahwa nyeker merupakan peraturan yang dilaksanakan oleh raja sampai abdi dalem dalam acara tersebut.

Informan tadi menuturkan bahwa dari pangeran sampai abdi dalem, ketika memakai peranakan (busana Karaton), tidak memakai alas kaki ketika memasuki Kraton. Dalam hal ini, nyeker di area Kraton Yogyakarta merupakan bentuk dari demokratisasi bahwa manusia itu adalah saudara dan setara. Semua manusia itu berasal dari bumi dan akan kembali ke bumi.

Seorang penghageng mengatakan bahwa selain untuk menghormati tempat yang dianggap suci, nyeker juga dimaksudkan untuk menjaga kesehatan para abdi dalem karena tanah berpasir yang ada di lingkungan Keraton Yogyakarta akan menjadi terapi syaraf tersendiri bagi para abdi dalem.

Ingin Jadi Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta? Kridhomardowo Buka Lowongan Tetapi Harus Mau "Nyeker" Lho...
Foto: IG @kratonjogja

Dari data yang sudah dikumpulkan dalam penelitan di atas, dapat disimpulkan bahwa nyeker juga dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada merupakan suatu bentuk loyalitas abdi dalem terhadap Kasultanan Yogyakarta karena dilaksanakan baik dalam keadaan panas maupun hujan ketika mereka menjalankan tugasnya.

Nah, itu baru satu bentuk loyalitas. Masih banyak bentuk lainnya yang harus dilaksanakan seorang abdi dalem. Kalau memang merasa sanggup, silakan lamar lowongan di Keraton Yogyakarta tersebut. (*)


Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *