Shadow

Jeruk Siam Jawa, Cerita Menjelang Imlek dari Seorang Jeka

Bagikan

Jeruk Siam Jawa, Cerita Menjelang Imlek dari Seorang Jeka
Foto: Istimewa

Jakarta (4/2/2021): Perayaan Imlek 2572 di Tahun 2021, akan jatuh pada hari Jumat, 12 Februari 2021 mendatang. Perayaan Imlek 2021 ditandai dengan pergantian tahun Tikus Logam ke tahun Kerbau Logam atau Kerbau Emas (setiap dua tahun unsurnya sama), yang bersifat Yin (negatif).

Setiap menjelang Imlek, banjir buah jeruk. Tentu menjadi pertanyaan, kenapa jeruk bisa identik dengan perayaan tahun baru China? Dua jenis jeruk yang diidentikkan dengan Imlek adalah jeruk biasa dan jeruk mandarin. Dalam budaya China, bukan hal yang asing untuk mengasosiasikan kemiripan bunyi dua kata dengan asosiasi makna yang sama (homofonik dan homonim).

Jeruk Siam Jawa, Cerita Menjelang Imlek dari Seorang Jeka
Jeruk Mandarin, Foto: Istimewa

Jeruk dalam bahasa China adalah (桔子/júzi) yang punya kemiripan bunyi dengan kata beruntung, yaitu (吉/jí). Dari sinilah jeruk diidentikkan dengan tahun baru yang lebih membawa keberuntungan.

Cerita soal jeruk ini, seorang jeka menulis hal ikhwal jeruk siam jawa. Nama yang unik. Siam di Thailand, Jawa di Bumi Nusantara. Bagaimana bisa menjadi satu? “Inilah kreatifnya kita,” kata jeka. Sejatinya jeka di sini merupakan kependekan dari Johannes Kitono. Ia seorang alumni MMA-IPB yang malang melintang di sektor perikanan, khususnya udang. Bertahun-tahun menjadi eksekutif di perusahaan multinasional tetapi punya kebiasaan menulis. Atas izinnya, kali ini dikutip tulisannya tentang jeruk tersebut, sebagaimana berikut ini:

Pagi ini ( Rabu, 03/02) ketika sempat mampir ke Rumah Buah di Tomang, Jakarta, terlihat tumpukan buah jeruk yang bentuk dan besarnya persis seperti Jeruk Pontianak. Hanya kali ini namanya diganti jadi “Jeruk Siam Jawa”. Kita ini memang kreatif dalam menciptakan istilah. Istilah Jeruk Siam Jawa maksudnya bibit jeruk asal Siam atau Thailand tetapi ditanam di pulau Jawa.

Jeruk Siam Jawa, Cerita Menjelang Imlek dari Seorang Jeka

Soal istilah, juga terjadi dengan orang Bali Lampung. Tahun 1963 ketika Gunung Agung meletus , banyak pengungsi yang bertransmigrasi ke daerah Lampung. Mereka mendirikan rumah dan tetap membawa adat istiadat Bali kesana , seperti yang masih terlihat di desa Bali Nuraga, Bali Agung dan Bali Napal di Lampung Selatan. Tapi saat ketemu kenalan di kampus atau di tambak udang , mereka akan disebut Bali Lampung. Begitu juga dengan Padang Aceh, artinya orang Padang yang lahir di Aceh, atau suku Pujakesuma = Putera Jawa Keturunan Sumatera yang banyak di Medan.

Orang Tionghoa Medan yang dialeknya beda dengan Tionghoa Siantar umumnya hanya disebut Chokin Medan saja. Pernah dengar Tionghoa PBB yang bukan United Nation di USA? Ini maksudnya Tionghoa asal Pontianak Bangka Belitung. Ada ada saja!

Kembali ke Jeruk Siam Jawa, hal ini bisa dimaklumi kenapa selama ini Jeruk Siam (citrus nobilis) disebut Jeruk Pontianak walaupun tanamannya justru banyak di daerah Tebas, Kabupaten Sambas, yang lebih cocok agroklimatnya. Ternyata, ketika jeruk mau dikirim dengan kapal ke Jakarta harus via pelabuhan Pontianak. Dan namanya otomatis berubah jadi Jeruk Pontianak yang masa jayanya di tahun 1979 – 1996 dengan luas lahan mencapai 10.000 Ha.

Baca Juga :  Keraton Yogyakarta Kembali Memanas, Tudingan Makan "Gaji Buta" dari Dana Istimewa
Jeruk Siam Jawa, Cerita Menjelang Imlek dari Seorang Jeka
Jeruk Pontianak, Foto: Istimewa

Sebagai indikasi petani jeruk yang sukses atau berhasil biasanya ada antena Parabola di rumahnya. Hanya sayang sekali, masa jaya komoditas ini  tidak berlangsung lama. Saat ini jeruk di sana yang berasal dari Siam ( Thailand ) tentu saja masih ada tetapi kualitasnya tidak sebagus seperti dulu, di mana petani punya masih insentif harga, bersemangat  melakukan pemupukan dan pemuliaan bibit unggul.

Di Medan ada jeruk Medan. Di Lampung ada jeruk Chokun yang dikembangkan grup BW sehingga sering juga disebut jeruk BW alias Bumi Waras nama grup tersebut. Ada juga jeruk elite, Dekopon alias jeruk Jepang yang ditanam di Ciwidei, Jawa Barat. Disebut elite karena harganya Rp.100.000/kg. Silakan tebak dan bayangkan sendiri bagaimana rasa jeruk yang seharga = 10 kg beras Ramos.

Jeruk Siam Jawa, Cerita Menjelang Imlek dari Seorang Jeka
Foto: Istimewa

Selain itu di Bali juga terkenal dengan “Jeruk Kintamani” yang diyakini bibitnya berasal dari  China, dibawa oleh kerabat Permaisuri Kang Tjie Wie ketika beliau menikah dengan Raja Bali yang bernama Sri Jaya Pangus di abad ke- 9, era Bali sebelum Majapahit.

Hanya sayang sekali, rasa buah jeruknya itu-itu saja dari tahun ke tahun. Tidak terlihat ada sentuhan teknologi atau usaha pemuliaan bibit. Misalnya hanya menanam dan memilih bibit dari batang pohon yang buahnya manis dan warna jeruknya menarik. Jadi jangan asal tanam saja.

Jeruk Siam Jawa, Cerita Menjelang Imlek dari Seorang Jeka
Jeruk Kintamani, Foto: Istimewa

Contohnya, di Thailand yang selalu dijadikan rujukan dalam hal budidaya tanaman, sehingga ada nama durian bangkok hingga jambu bangkok. Pokoknya yang bagus-bagus pasti ada kata bangkok di belakangnya.

Di sana hanya dikembangkan tiga varitas durian, yaitu : Monthong , Chenni dan Kanyaw, yang tentu saja  merupakan hasil riset  Deptan sana atau dari swasta. Masing masing punya rasa dan aroma tersendiri, konsumen tinggal memilih mau yang mana saja.

Jeruk Siam Jawa, Cerita Menjelang Imlek dari Seorang Jeka
Foto: Istimewa

Tentu tidak banyak yang tahu bahwa asal usul varitas durian yang bagus dan mempunyai rasa standard itu dulunya dari pulau Kalimantan. Dan dalam bahasa Thai pohon durian itu dieja dengan “Tun- Turian” artinya pohon durian, akar kata durian yang berasal dari Kalimantan. Hanya saja di sana bibit durian asal Kalimantan ini dikembangkan dengan hasil riset yang tekun sehingga keluarlah varietas unggul.

Tentu kita tidak perlu kecewa atau merasa kecolongan, menyalahkan mereka. Sebab tugas seorang  ilmuwan atau peneliti harus selalu berusaha mencari atau menciptakan bibit yang terbaik, supaya bisa meningkatkan kesejahteraan bagi petani di negaranya.

Jeruk Siam Jawa, Cerita Menjelang Imlek dari Seorang Jeka
Foto: Istimewa

Akhirnya, semoga dimasa-masa mendatang bukan hanya nama komoditas jeruk saja yang bertambah tetapi juga kuantitas, kualitas yang bisa membawa manfaat bagi petani dan konsumennya. Semoga !! (**)


Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *