
Jakarta, Nusantara Info: Rencana Amerika Serikat (AS) untuk memperluas operasi militernya terhadap Iran dengan opsi invasi darat memicu dinamika baru di kawasan Timur Tengah. Di tengah eskalasi tersebut, Israel dilaporkan mengambil sikap tegas dengan menolak keterlibatan langsung dalam operasi darat yang dipertimbangkan Washington.
Laporan Channel 12 pada Minggu (29/3/2026) menyebutkan bahwa militer Israel tidak akan berpartisipasi di lapangan jika AS benar-benar melancarkan invasi darat ke Iran. Sikap ini muncul di saat Pentagon tengah menyiapkan berbagai skenario militer, mulai dari serangan terbatas hingga operasi yang lebih luas.
Meski demikian, hingga kini Gedung Putih belum memberikan konfirmasi resmi terkait persetujuan Presiden Donald Trump atas rencana tersebut. Ketidakpastian ini justru memperkuat spekulasi bahwa konflik dapat berkembang lebih jauh dalam waktu dekat.
Di sisi lain, Iran merespons keras wacana invasi darat tersebut. Pemerintah di Teheran secara terbuka memperingatkan bahwa setiap serangan AS akan dibalas dengan kekuatan penuh. Bahkan, ancaman pembalasan besar dilontarkan, termasuk peringatan bahwa pasukan AS akan menghadapi konsekuensi berat jika memasuki wilayah Iran.
Ketegangan ini mendorong kekhawatiran luas di kalangan analis militer. Profesor Ilmu Politik Universitas Chicago, Robert Pape, menilai bahwa potensi invasi darat berisiko menjadi kesalahan strategis besar bagi AS, serupa dengan pengalaman pahit dalam Perang Vietnam.
“Vietnam menunjukkan dengan tepat kapan perang udara berubah menjadi perang darat,” ujar Pape. Ia menambahkan bahwa pola serupa mulai terlihat dalam konflik dengan Iran, dan sepuluh hari ke depan akan menjadi fase krusial yang menentukan arah eskalasi.
Laporan mengenai sikap Israel juga memicu perdebatan di dalam negeri AS. Kelompok pendukung gerakan “America First” serta kalangan anti-perang menilai Washington berpotensi terseret ke konflik darat yang mahal dan berkepanjangan, tanpa dukungan langsung dari sekutu utamanya di kawasan.
Kritik tersebut memperkuat narasi bahwa beban risiko militer lebih banyak ditanggung oleh AS, sementara Israel memilih menjaga jarak dari keterlibatan langsung di medan perang. Sejumlah suara di media sosial bahkan melontarkan kritik tajam terhadap keputusan tersebut, mencerminkan meningkatnya sentimen publik yang skeptis terhadap intervensi militer.
Di tengah meningkatnya tekanan domestik dan ancaman eksternal, skenario invasi darat dinilai dapat membawa konsekuensi geopolitik yang luas. Jika konflik berkembang tidak sesuai rencana, sejumlah pengamat memperingatkan bahwa hal itu berpotensi mempercepat penurunan pengaruh global AS serta menguji batas dominasi militernya.
Dalam konteks ini, posisi Israel juga menjadi sorotan. Negara tersebut berisiko dipersepsikan sebagai pihak yang mendorong eskalasi, tanpa terlibat langsung dalam konsekuensi militernya. Situasi ini menambah kompleksitas konflik yang sudah sarat kepentingan strategis dan politik di kawasan.
Dengan berbagai faktor yang saling berkelindan, perkembangan dalam beberapa hari ke depan akan menjadi penentu apakah krisis ini tetap terkendali atau justru berkembang menjadi konflik terbuka yang lebih luas. (*)






