
Jakarta, Nusantara Info: Presiden RI Prabowo Subianto memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dilanjutkan meski pemerintah menghadapi tekanan anggaran akibat konflik di Timur Tengah dan gejolak ekonomi global. Program unggulan tersebut dinilai sebagai strategi jangka panjang untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) sekaligus menggerakkan perekonomian nasional dari akar rumput.
MBG dirancang untuk memberikan makanan bergizi setiap hari secara gratis kepada anak sekolah, balita, hingga ibu hamil. Pemerintah juga mengandalkan keberadaan Dapur Umum MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai penggerak ekonomi lokal melalui rantai pasok pangan di daerah.
Di tengah meningkatnya harga energi global akibat perang di Timur Tengah, muncul desakan agar program tersebut ditunda karena menyedot anggaran besar. Namun, Prabowo menegaskan pemerintah memiliki opsi efisiensi lain tanpa harus menghentikan program yang menyasar masa depan bangsa.
“Jangan ke arah ada krisis lalu kita hentikan MBG. Masih banyak cara lain yang bisa kita hemat. Saya haqul yakin saya berada di jalan yang benar. Uang kita ada,” tegas Prabowo dalam diskusi bersama jurnalis dan pengamat, dikutip Kamis (26/3/2026).
Ia bahkan menyatakan siap mempertaruhkan kepemimpinannya pada hasil program tersebut dalam beberapa tahun ke depan.
Fokus Atasi Stunting dan Ketimpangan Gizi
Salah satu alasan utama program ini dipertahankan adalah masih tingginya angka stunting di Indonesia. Prabowo mengaku kerap menemukan anak usia belasan tahun dengan kondisi fisik seperti anak usia balita saat melakukan kunjungan ke desa-desa.
Menurutnya, penggunaan anggaran negara untuk pemenuhan gizi jauh lebih tepat dibandingkan belanja yang tidak berdampak langsung bagi rakyat.
“Lebih baik rakyat saya bisa makan. Saya lihat sendiri anak umur 11 tahun, badannya seperti anak 4 tahun,” ujarnya.
Program MBG diposisikan sebagai investasi strategis dalam pembangunan human capital, yang diyakini akan menentukan daya saing Indonesia di masa depan.
Dampak Ekonomi Besar dari Desa hingga Nasional
Selain aspek kesehatan, pemerintah juga menilai MBG memiliki efek ekonomi berantai yang signifikan. Setiap dapur umum membutuhkan bahan pangan dari petani, peternak, pedagang, hingga pelaku UMKM lokal.
Prabowo menyebut lembaga internasional seperti Rockefeller Institute dan World Food Programme (WFP) PBB menilai program tersebut sebagai salah satu investasi sosial paling efektif.
Menurut kajian tersebut setiap US$ 1 anggaran MBG dapat memutar ekonomi hingga US$ 7 dalam jangka pendek, dan dalam jangka panjang, dampaknya bisa mencapai US$ 35.
“This is the best investment. Setiap satu dolar yang dikeluarkan bisa menghasilkan hingga 35 dolar dalam jangka panjang,” kata Prabowo mengutip hasil evaluasi lembaga tersebut.
Potensi 1,5 Juta Lapangan Kerja Baru
Pemerintah menargetkan sekitar 30 ribu SPPG beroperasi di seluruh Indonesia. Setiap dapur diperkirakan mempekerjakan sekitar 50 orang secara langsung.
Jika target tercapai, program ini berpotensi menciptakan:
- 1,5 juta tenaga kerja langsung
- Jutaan pekerja tambahan dari vendor dan petani pemasok
- Penguatan ekonomi lokal berbasis pangan
Selain tenaga dapur, setiap SPPG juga melibatkan 5–10 vendor pemasok bahan makanan. Masing-masing vendor diperkirakan mempekerjakan sekitar lima petani atau produsen.
Evaluasi Ketat, Ribuan Dapur Ditutup
Meski optimistis, Prabowo mengakui tidak semua pelaksanaan berjalan sempurna. Pemerintah telah menutup lebih dari 1.000 dapur yang dinilai bermasalah atau tidak memenuhi standar.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari pengawasan untuk memastikan program tetap berkualitas dan tepat sasaran.
“Bahwa ada kekurangan, ini kita tindak. Lebih dari 1.000 sudah kita tutup. Tapi di banyak daerah, terutama luar Jawa, program ini sangat dibutuhkan,” tegasnya.
MBG Jadi Program Strategis Jangka Panjang
Pemerintah menilai MBG bukan sekadar bantuan sosial, melainkan investasi pembangunan jangka panjang untuk meningkatkan kualitas generasi mendatang sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Di tengah ketidakpastian global, Prabowo menegaskan fokus pemerintah adalah melindungi rakyat—terutama anak-anak—agar tetap mendapatkan gizi yang cukup.
Program ini diharapkan menjadi fondasi menuju Indonesia dengan SDM unggul, produktif, dan berdaya saing tinggi di masa depan. (*)






