Shadow

Dahlan Iskan Menolak Tua

Bagikan

Sejumlah karangan bunga tertata rapi di sebuah kantor yang berlokasi di Jl. Walikota Mustajab  Surabaya. Selepas magrib, pada Sabtu (4/7/2020), kesibukan mulai tampak di kantor itu. Tak banyak tetamu, tetapi ada beberapa pertunjukkan di halaman kantor itu. Sekira pukul 19.20 WIB terlihat beberapa perempuan muda bergoyang gangnam dan joget ria. Di posisi tengah tampak seorang lelaki ikut bergoyang.

Lelaki itu adalah Dahlan Iskan, konglomerat koran di Surabaya, yang juga pernah menjadi menteri di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Usia boleh 70 tahun (pada tahun depan), tapi soal goyang tak boleh kalah sama yang muda. Dahlan tampaknya menolak tua. Apalagi malam itu dia punya gawe peluncuran sebuah harian bernama Di’sway.
“Bukan koran, tapi harian. Ini harian yang idenya lahir saat lockdown akibat Covid 19,” begitu tulis Dahlan pada pengantar edisi perdana harian setebal 50 halaman itu. Usia boleh 70 tahun, tetapi ide tak boleh kalah dari yang muda. Semangat pun harus lebih membara dari yang muda. Badan boleh dikurung selama #dirumahsaja, tetapi pikiran tak boleh ikut terpenjara. Ide-ide baru harus lahir.

Edisi Perdana Harian DI’S Way

Dalam pengantarnya juga diceritakan saham mayoritas harian itu dimiliki oleh karyawan, yakni sampai 98 persen. “Baru sisanya, yang dua persen, saya miliki, sebagai penggagas dan penyedia dana,” tulis Dahlan.

Dahlan menjelaskan kepemilikan sahamnya yang terbilang kecil itu sekadar tanda mata atau sebagai kenang-kenangan. Dia mengaku telah berusia lanjut dan tahun depan berusia 70 tahun. Oleh karena itu, dia mengaku tak perlu lagi menumpuk saham. Toh, dia telah memastikan dalam 20 tahun ke depan masih bisa makan. “Saya akan lebih bahagia kalau bisa melihat dunia jurnalistik bisa terhindar dari proses penuaan–apalagi kematian,” tulisnya di kesempatan lain pada blognya.

Baca Juga :  Kemendagri dan Tim Pembina Samsat Nasional Kaji Penghapusan Pajak Progresif Kendaraan Bermotor dan BBN2

Kiprah Dahlan ini tentu bakal dilihat berbagai kalangan. “Inilah media yang diterbitkan tidak untuk tujuan bisnis,” tulis Dahlan membuka pengantarnya. Walau bukan untuk bisnis, bukan berarti pembaca bisa memperoleh harian cetak itu secara gratis. Tetap saja bagi mereka yang penasaran, harus berlangganan seharga Rp 150.000 per bulan. (*)


Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *