16 Bandara di Papua Terdampak Karhutla, 2.021 Penerbangan Domestik Terganggu

Bagikan

16 Bandara di Papua Terdampak Karhutla, 2.021 Penerbangan Domestik Terganggu
Aktivitas penerbangan di salah satu bandara di wilayah Papua. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak terhadap operasional 16 bandara di Papua dan sekitarnya, sehingga berpotensi menyebabkan keterlambatan, penundaan, hingga pembatalan penerbangan. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, NUSANTARA INFO: Sebanyak 16 bandara di wilayah Papua dan sekitarnya terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Secara nasional, sebanyak 2.021 penerbangan berjadwal dalam negeri terdampak karhutla sejak 11 Agustus hingga 13 Oktober 2026, mulai dari keterlambatan hingga pembatalan dan pengalihan penerbangan.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus memantau perkembangan karhutla dan dampaknya terhadap operasional transportasi udara di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Papua. Pemantauan dilakukan melalui koordinasi dengan berbagai instansi terkait untuk memastikan keselamatan dan keamanan penerbangan tetap terjaga.

Berdasarkan laporan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah X pada Kamis (15/10/2026), terdapat 16 bandara di wilayah kerjanya yang operasionalnya terdampak kabut asap akibat karhutla.

Di Provinsi Papua, bandara terdampak adalah Bandar Udara Sentani. Di Papua Tengah, terdapat Bandar Udara Mozes Kilangin di Timika, Bandar Udara Ilaga, dan Bandar Udara Ilu.

Sementara itu, di Papua Pegunungan, tiga bandara yang terdampak adalah Bandar Udara Wamena, Bandar Udara Oksibil, dan Bandar Udara Dekai.

Adapun di Papua Selatan, bandara yang terdampak meliputi Bandar Udara Mopah di Merauke, Bandar Udara Tanah Merah, Bandar Udara Kepi, Bandar Udara Ewer, Bandar Udara Bade, Bandar Udara Senggo, Bandar Udara Manggelum, Bandar Udara Yaniruma, dan Bandar Udara Mindiptanah.

Kabut asap berpotensi menurunkan jarak pandang di sekitar bandar udara. Kondisi tersebut dapat menyebabkan keterlambatan, penundaan, hingga pembatalan penerbangan, bergantung pada situasi dan persyaratan keselamatan operasional di masing-masing bandara.

Setiap keputusan operasional penerbangan tetap mengutamakan keselamatan penumpang, awak pesawat, dan seluruh pihak yang terlibat.

2.021 Penerbangan Domestik Terdampak Karhutla

Dampak karhutla terhadap transportasi udara juga terlihat dari jumlah penerbangan domestik yang mengalami gangguan.

Berdasarkan data Ditjen Perhubungan Udara per 13 Oktober 2026, tercatat 2.021 penerbangan berjadwal dalam negeri terdampak karhutla sejak 11 Agustus 2026.

Dari total tersebut, sebanyak 919 penerbangan mengalami keterlambatan (delay). Sebanyak 1.067 penerbangan mengalami pembatalan atau penundaan (cancelled/postponed), 18 penerbangan dialihkan ke bandar udara lain (divert), enam penerbangan kembali ke bandar udara keberangkatan (return to base atau RTB), dan 11 penerbangan dimajukan jadwalnya (advance).

Angka tersebut menggambarkan beragam dampak karhutla terhadap operasional penerbangan, terutama ketika kondisi asap memengaruhi jarak pandang dan kelancaran aktivitas penerbangan.

Baca Juga :  Dukung Pelaksanaan F1H20 di Toba, Ditjen Hubdat Siapkan Sarpras dan Rekayasa Lalin

Gangguan juga terjadi pada penerbangan internasional. Sebanyak 12 penerbangan berjadwal rute Singapura–Pontianak pulang pergi dibatalkan selama periode 12–23 September 2026 akibat kondisi asap di Bandar Udara Supadio, Pontianak.

Di luar dampak karhutla, pada periode pelaporan yang sama juga tercatat 18 penerbangan dalam negeri dibatalkan karena faktor lain. Penyebabnya meliputi sebaran abu vulkanik Gunung Lewotolok dan Gunung Dukono, cuaca buruk, angin kencang, serta kebutuhan perawatan pesawat.

Dengan demikian, gangguan penerbangan dalam periode tersebut tidak seluruhnya disebabkan oleh karhutla. Faktor cuaca, aktivitas vulkanik, dan kondisi teknis pesawat juga memengaruhi operasional penerbangan.

Operasi Water Bombing Capai 5.035 Siklus Penerbangan

Di sisi penanganan kebakaran, pemerintah terus melaksanakan operasi pemadaman dari udara atau water bombing di berbagai wilayah rawan karhutla.

Selama periode 20 April hingga 12 Oktober 2026, operasi tersebut telah dilaksanakan sebanyak 5.035 siklus penerbangan (flight cycle), dengan melibatkan 38 pesawat udara yang dioperasikan oleh 11 operator.

Operasi ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk menangani karhutla melalui dukungan pemadaman dari udara. Pelaksanaannya dilakukan di berbagai wilayah rawan kebakaran dengan tetap memperhatikan koordinasi dan aspek keselamatan penerbangan.

Kemenhub Imbau Penumpang Cek Jadwal Sebelum ke Bandara

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, menyampaikan bahwa pemantauan dampak karhutla terhadap penerbangan terus dilakukan melalui Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I hingga Wilayah X.

“Koordinasi melibatkan penyelenggara bandar udara, AirNav Indonesia, maskapai penerbangan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta instansi terkait lainnya,” ujarnya.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengikuti perkembangan situasi di masing-masing wilayah dan memastikan keselamatan serta keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas utama.

Kemenhub mengimbau masyarakat dan pengguna jasa transportasi udara agar tetap tenang apabila terjadi penyesuaian jadwal akibat kabut asap. Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.

Penumpang yang akan bepergian menggunakan pesawat disarankan memantau informasi penerbangan terkini melalui maskapai masing-masing sebelum berangkat ke bandara. Langkah ini penting untuk mengantisipasi perubahan jadwal, penundaan, maupun pembatalan penerbangan akibat kondisi di lapangan.

Ditjen Perhubungan Udara akan terus menyampaikan perkembangan informasi sesuai situasi terkini dan hasil koordinasi dengan instansi terkait. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait