
JAKARTA, NUSANTARA INFO: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia memiliki perbedaan dengan sistem makan siang sekolah yang telah diterapkan Jepang selama puluhan tahun. Di Negeri Sakura, sistem tersebut dikenal dengan nama kyushoku dan tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan siswa, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan di sekolah.
Kyushoku secara umum berarti penyediaan makanan. Istilah ini merujuk pada makan siang hangat dan bergizi yang diberikan kepada siswa, terutama di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama negeri.
Sistem tersebut telah diterapkan secara luas di Jepang. Data 2021 menunjukkan 99,7 persen sekolah dasar negeri dan 98,2 persen sekolah menengah pertama menyediakan makan siang sekolah.
Namun, karakteristik kyushoku tidak berhenti pada penyediaan makanan. Melalui makan siang, siswa diperkenalkan pada pola makan sehat, kandungan nutrisi, budaya pangan, tanggung jawab, kebersihan, hingga pentingnya mengurangi pemborosan makanan.
Berawal dari Anak Keluarga Tidak Mampu
Sejarah kyushoku Jepang memiliki perjalanan panjang. Program makan siang sekolah tercatat dimulai pada 1889 di Sekolah Dasar Chuai yang dikelola Kuil Daitokuji di Kota Tsuruoka, Prefektur Yamagata.
Ketika itu, makanan disediakan bagi anak-anak dari keluarga yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pangan. Menu yang diberikan antara lain nasi kepal, ikan bakar dan acar.
Program kemudian berkembang menjadi bagian dari kebijakan peningkatan gizi anak. Pada 1923, Kementerian Pendidikan Jepang mendorong penyediaan makan siang sekolah untuk membantu memperbaiki kondisi gizi siswa.
Pada 1932, pemerintah mulai memberikan subsidi bagi penyelenggaraan makan siang untuk anak-anak dari keluarga tidak mampu.
Perkembangan tersebut sempat terhenti akibat kekurangan pangan selama Perang Dunia II. Setelah perang berakhir, persoalan kekurangan gizi kembali menjadi salah satu alasan pemerintah Jepang memperkuat sistem makan siang sekolah.
Jepang juga memperoleh bantuan pangan, termasuk tepung terigu dan susu bubuk dari Amerika Serikat.
Tonggak penting berikutnya terjadi pada 1954 ketika Jepang memberlakukan Undang-Undang Program Makan Siang Sekolah. Regulasi tersebut kemudian menjadi salah satu dasar penyelenggaraan kyushoku.
Fungsi pendidikan semakin diperkuat melalui kebijakan shokuiku. Pada 2005, Jepang memberlakukan Undang-Undang Dasar tentang Shokuiku yang menempatkan pendidikan mengenai makanan dan gizi sebagai bagian penting dalam pendidikan.
Bukan Sekadar Makan Siang
Salah satu karakteristik kyushoku adalah keterkaitannya dengan proses pembelajaran.
Undang-Undang Program Makan Siang Sekolah yang direvisi pada 2009 menetapkan sejumlah tujuan, antara lain menjaga dan meningkatkan kesehatan melalui nutrisi yang tepat, membangun semangat sosial, serta mengenalkan budaya makanan Jepang dan makanan khas daerah.
Konsep tersebut berkaitan dengan shokuiku, yakni pendidikan mengenai makanan dan gizi.
Siswa tidak hanya belajar makanan apa yang sehat. Mereka juga dapat mempelajari dari mana makanan berasal, bagaimana bahan pangan diproduksi dan didistribusikan, budaya kuliner, kandungan nutrisi, hingga dampak limbah makanan terhadap lingkungan.
Informasi mengenai kandungan nutrisi menu dapat dibahas bersama guru. Sekolah juga dapat memperkenalkan masakan khas daerah Jepang maupun makanan dari negara lain.
Dengan pola tersebut, makan siang menjadi kesempatan untuk menghubungkan makanan dengan pengetahuan yang diperoleh siswa di ruang kelas.
Siswa Ikut Menyiapkan dan Membagikan Makanan
Rutinitas kyushoku juga melibatkan siswa secara langsung.
Siswa yang mendapat giliran bertugas sebagai kyushoku-toban. Mereka mengenakan perlengkapan seperti celemek, topi dan masker, kemudian mengambil makanan dari tempat distribusi untuk dibawa ke kelas.
Makanan selanjutnya dibagikan kepada teman-teman sekelas. Tugas tersebut dilakukan secara bergiliran sehingga siswa mendapat kesempatan untuk menjalankan tanggung jawab tersebut.
Kegiatan itu menjadi bagian dari pembelajaran mengenai kebersihan, tanggung jawab, kerja sama dan pelayanan kepada orang lain.
Setelah makanan dibagikan, siswa makan bersama. Guru juga mengonsumsi makanan yang sama dengan siswa.
Setelah selesai makan, siswa kembali bekerja sama membersihkan ruang kelas. Mereka mengumpulkan nampan, membersihkan meja dan peralatan, serta mengembalikan perlengkapan ke tempat yang telah ditentukan.
Dengan demikian, aktivitas makan siang tidak berdiri sendiri. Rangkaian sebelum, selama dan setelah makan menjadi bagian dari rutinitas pendidikan siswa.
Menu Memperhatikan Kebutuhan Gizi
Menu kyushoku disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi siswa sesuai usia dan tahap pertumbuhan. Jepang juga memiliki tenaga yang bertugas di bidang diet dan nutrisi sekolah.
Secara umum, menu dapat terdiri atas makanan pokok, hidangan utama, lauk, susu, serta buah atau makanan penutup.
Makanan pokok dapat berupa nasi, roti atau mi. Hidangan utama dapat berupa ikan, ayam, tahu atau makanan olahan lainnya. Sayuran dapat disajikan dalam bentuk tumisan, salad maupun acar.
Susu juga lazim menjadi bagian dari menu. Sementara buah musiman, yogurt atau jeli dapat digunakan sebagai makanan penutup.
Menu dapat berubah mengikuti musim, budaya daerah dan kegiatan tertentu. Sekolah juga dapat memperkenalkan makanan khas daerah maupun hidangan internasional.
Menu biasanya diinformasikan kepada keluarga sehingga orang tua dapat mengetahui makanan yang akan dikonsumsi anak di sekolah.
Penggunaan bahan pangan lokal juga menjadi bagian dari sistem tersebut. Salah satu kajian mengenai kyushoku mencatat sekitar 56 persen pembelian makanan oleh sekolah Jepang pada 2021 berasal dari sumber lokal.
Penggunaan bahan lokal mempertemukan sistem makan sekolah dengan pertanian, hasil produksi daerah dan bahan pangan musiman.
Makan Siang Terhubung dengan Pelajaran
Dalam praktiknya, kyushoku dapat digunakan untuk memperkuat materi pembelajaran.
Ketika siswa mempelajari sayuran atau tanaman musiman, misalnya, bahan tersebut dapat muncul dalam menu makan siang. Siswa kemudian dapat melihat hubungan antara materi pelajaran dan makanan yang mereka konsumsi sehari-hari.
Pembelajaran juga dapat membahas asal-usul makanan, proses produksi serta orang-orang yang terlibat hingga makanan sampai ke meja makan.
Sekolah dapat menggunakan makanan daerah untuk memperkenalkan kekayaan kuliner Jepang. Hidangan internasional juga dapat digunakan untuk memperluas wawasan siswa mengenai budaya negara lain.
Di sisi lain, siswa diajarkan untuk tidak menyia-nyiakan makanan.
Persoalan limbah makanan menjadi bagian dari pembelajaran karena siswa tidak hanya diajak memahami nilai makanan, tetapi juga sumber daya dan lingkungan yang berkaitan dengan produksi pangan.
Standar Gizi dan Keamanan Pangan
Sistem kyushoku juga memiliki ketentuan terkait gizi dan keamanan pangan.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang atau MEXT mengatur berbagai aspek penyelenggaraan makan siang sekolah. Pemilihan bahan, pengolahan hingga penyajian harus memperhatikan aspek kebersihan dan keamanan pangan.
Menu juga disusun berdasarkan standar kebutuhan nutrisi anak sesuai usia.
Kehadiran tenaga diet dan nutrisi menjadi salah satu unsur penting dalam pengelolaan makan siang sekolah. Perannya tidak hanya terkait penyusunan menu, tetapi juga mendukung pendidikan mengenai makanan dan gizi.
Meski demikian, sistem tersebut tetap menghadapi tantangan.
Salah satunya adalah pemenuhan kebutuhan siswa yang memiliki alergi makanan atau kondisi kesehatan tertentu. Dalam kondisi tertentu, sekolah dapat menyesuaikan menu dengan menghilangkan bahan pemicu alergi.
Namun, kemampuan setiap sekolah dapat berbeda sehingga kebutuhan anak perlu dikomunikasikan dengan pihak sekolah.
Kebutuhan makanan berdasarkan agama atau pilihan diet tertentu juga belum selalu dapat dipenuhi di semua sekolah. Pilihan seperti halal, kosher, vegetarian dan vegan dapat menjadi tantangan tersendiri. Dalam kondisi tertentu, siswa dapat diperbolehkan membawa bekal dari rumah.
Tidak Sepenuhnya Gratis
Hal lain yang membedakan kyushoku dengan konsep makan gratis adalah pembiayaannya.
Kyushoku pada dasarnya bukan sistem yang sepenuhnya gratis bagi seluruh siswa. Orang tua pada prinsipnya membayar biaya makan siang yang terutama mencakup biaya bahan makanan.
Profesor pendidikan nutrisi Universitas Ochanomizu, Akamatsu Rie, menyebut biaya makan siang di sejumlah pemerintah daerah berada pada kisaran 300-350 yen per porsi.
Menurut Japan Child Support, rata-rata biaya bulanan berada di kisaran 4.000-4.500 yen untuk siswa sekolah dasar dan 4.500-5.000 yen untuk siswa sekolah menengah pertama.
Namun, pembiayaan tersebut dapat memperoleh subsidi dari pemerintah daerah. Sejumlah daerah juga memberikan pembebasan atau menanggung biaya makan siang bagi keluarga tertentu.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah pemerintah daerah, termasuk Tokyo, mengembangkan kebijakan makan siang gratis untuk mengurangi beban keluarga. Kebijakan tersebut berdampak pada kebutuhan anggaran pemerintah daerah.
Kyushoku dan MBG Memiliki Konteks Berbeda
Pengalaman Jepang menunjukkan bahwa program makan di sekolah dapat berkembang menjadi bagian dari ekosistem pendidikan. Makanan tidak hanya dinilai dari apakah siswa memperoleh asupan, tetapi juga bagaimana makanan tersebut menjadi sarana belajar mengenai gizi, budaya, kebersihan, tanggung jawab dan lingkungan.
Sementara itu, Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia memiliki konteks kebijakan, cakupan dan mekanisme penyelenggaraan tersendiri.
Karena itu, kyushoku tidak dapat dipandang sekadar sebagai model yang sama dengan MBG. Perbedaan terlihat dari sejarah program, pembiayaan, tata kelola, keterlibatan sekolah, fungsi pendidikan serta mekanisme penyediaan makanan.
Namun, pengalaman Jepang memberikan gambaran mengenai bagaimana makan di sekolah dapat diintegrasikan dengan pendidikan.
Pada akhirnya, keberadaan makanan bergizi di sekolah tidak hanya berkaitan dengan apa yang tersaji di atas meja. Sistem tersebut juga menyentuh bagaimana siswa mengenal makanan, memahami kebutuhan tubuh, menghargai pangan, menjaga kebersihan, bekerja sama dan memahami hubungan antara makanan dengan lingkungan serta kehidupan masyarakat. (*)






