
JAKARTA, NUSANTARA INFO: Satelit teleskop milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Neil Gehrels Swift Observatory atau dikenal sebagai Swift, mengakhiri perjalanan antariksa selama 20 tahun setelah memasuki atmosfer Bumi dan terbakar di atas wilayah Sumatera Utara, Indonesia, pada Rabu (4/11/2026).
NASA memastikan tidak ada korban jiwa maupun kerusakan akibat jatuhnya puing-puing satelit tersebut. Meski sebagian besar badan satelit diperkirakan terbakar sebelum mencapai permukaan Bumi, sejumlah serpihan kecil masih berpotensi jatuh ke daratan.
Berdasarkan konfirmasi Angkatan Antariksa Amerika Serikat (US Space Force), satelit Swift memasuki kembali atmosfer Bumi pada pukul 07.39 waktu setempat di Amerika Serikat atau 12.39 GMT.
Saat memasuki atmosfer, satelit tersebut melaju dengan kecepatan sekitar 22 kali kecepatan suara. Titik masuknya berada di atas wilayah Sumatera Utara, sekitar 322 kilometer di utara garis khatulistiwa.
Satelit dengan bobot sekitar 1.452 kilogram itu mengalami panas ekstrem akibat gesekan dengan atmosfer. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian besar struktur satelit terbakar selama proses masuk kembali ke Bumi.
NASA menyatakan tidak terdapat laporan korban luka maupun kerusakan akibat peristiwa jatuhnya satelit tersebut.
Risiko Puing Satelit NASA Jatuh ke Permukiman Sangat Rendah
Jatuhnya satelit NASA di wilayah Sumatera Utara sempat menjadi perhatian karena kawasan tersebut memiliki jumlah penduduk cukup besar.
Namun, lokasi pasti masuknya kembali satelit ke atmosfer belum diketahui secara terperinci, termasuk seberapa dekat titik tersebut dengan Kota Medan.
Sebelum kejadian, US Space Force memperkirakan risiko puing satelit mengenai kawasan berpenduduk sangat rendah. Peluang seseorang mengalami cedera akibat serpihan satelit diperkirakan hanya satu banding 2.100.
Dean Sladen, insinyur kedirgantaraan dari perusahaan pemasok komponen industri Accu Components yang berbasis di Inggris, menjelaskan bahwa sebagian besar satelit akan terbakar ketika memasuki atmosfer Bumi.
Menurutnya, hanya beberapa serpihan kecil yang kemungkinan mampu bertahan hingga mencapai permukaan.
“Hanya segelintir serpihan kecil yang hangus diperkirakan akan mencapai permukaan, tidak ada yang masih bisa dikenali sebagai teleskop,” kata Sladen melalui surat elektronik sebelum satelit tersebut memasuki atmosfer.
Ia juga menjelaskan bahwa peristiwa masuknya kembali satelit ke atmosfer merupakan bagian dari siklus alami operasional benda antariksa yang telah mencapai akhir masa tugasnya.
Selama hampir 70 tahun penerbangan antariksa, menurut Sladen, belum pernah ada orang yang meninggal akibat puing-puing satelit yang jatuh.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa peningkatan jumlah satelit di orbit Bumi dapat membuat persoalan keselamatan puing antariksa semakin penting pada masa mendatang.
Karena itu, pengembangan teknologi yang memungkinkan satelit kembali ke Bumi secara terkendali menjadi salah satu tantangan industri antariksa.
Dua Dekade Mengungkap Misteri Ledakan Energi Alam Semesta
Berakhirnya perjalanan Swift sekaligus menutup salah satu misi observasi antariksa NASA yang memberikan kontribusi besar terhadap penelitian astronomi.
Neil Gehrels Swift Observatory merupakan teleskop antariksa senilai 500 juta dolar AS atau sekitar Rp9,05 triliun. Satelit ini dirancang khusus untuk mengamati gamma-ray bursts (GRB), yakni ledakan sinar gamma yang menjadi salah satu fenomena pelepasan energi paling kuat di alam semesta.
Swift diluncurkan pada 2004 dengan misi awal selama dua tahun. Namun, observatorium tersebut mampu beroperasi hingga sekitar 20 tahun, jauh melampaui perkiraan masa tugas awalnya.
Observatorium ini dilengkapi tiga instrumen teleskop yang memungkinkan para ilmuwan mengamati fenomena kosmik melalui berbagai panjang gelombang.
Selama beroperasi, Swift tidak hanya mengamati ledakan sinar gamma, tetapi juga merekam ratusan peristiwa supernova, aktivitas lubang hitam yang menghancurkan bintang, semburan sinar-X dari bintang, asteroid, hingga komet.
Data pengamatan yang dihasilkan menjadi sumber penting bagi komunitas astronomi internasional. Kontribusi ilmiahnya tercermin dalam sekitar 7.000 publikasi penelitian.
Swift secara resmi menghentikan operasinya pada 20 Oktober 2026. Dalam beberapa bulan terakhir, satelit tersebut mulai mengalami ketidakstabilan orbit karena tidak lagi memiliki kemampuan penggerak sendiri untuk mempertahankan posisinya.
Kondisi tersebut membuat ketinggian orbitnya terus menurun hingga akhirnya memasuki atmosfer Bumi pada 4 November 2026.
Upaya NASA Menyelamatkan Swift Berakhir Gagal
Sebelum satelit Swift jatuh ke atmosfer Bumi, NASA sebenarnya telah berupaya memperpanjang masa operasional observatorium tersebut melalui sebuah misi penyelamatan.
Pada Juli 2026, NASA bekerja sama dengan perusahaan rintisan asal Arizona, Katalyst, meluncurkan wahana antariksa bernama LINK.
Misi LINK dirancang untuk mendekati Swift, mengaitkan diri dengan satelit tersebut, kemudian menariknya menuju orbit yang lebih tinggi dan stabil.
Jika berhasil, upaya tersebut berpotensi memperpanjang masa operasional Swift sekaligus menjadi salah satu demonstrasi teknologi pemeliharaan satelit di orbit.
Namun, rencana penyelamatan itu tidak berjalan sesuai harapan. LINK mulai berputar tidak terkendali tidak lama setelah mencapai luar angkasa.
Pada pertengahan Agustus 2026, pengelola misi akhirnya memutuskan membatalkan upaya penyelamatan tersebut. NASA kemudian membiarkan Swift melanjutkan perjalanannya menuju atmosfer Bumi.
Kegagalan misi LINK menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan teknologi penyelamatan dan pemeliharaan satelit yang telah berada di orbit selama bertahun-tahun.
Jatuhnya Swift Jadi Pengingat Tantangan Sampah Antariksa
Berakhirnya misi Swift bukan sekadar penutupan perjalanan sebuah teleskop antariksa. Peristiwa ini juga kembali menyoroti persoalan pengelolaan sampah antariksa yang semakin relevan seiring meningkatnya jumlah satelit yang mengorbit Bumi.
Satelit yang telah menyelesaikan masa operasionalnya berpotensi menjadi objek tidak aktif di orbit. Tanpa sistem pengendalian yang memadai, objek tersebut dapat mengalami penurunan orbit dan akhirnya memasuki atmosfer.
Meskipun sebagian besar material satelit dapat terbakar selama proses tersebut, kemungkinan adanya serpihan yang mencapai permukaan tetap menjadi perhatian dalam pengembangan standar keselamatan penerbangan antariksa.
NASA dan komunitas antariksa internasional menghadapi tantangan untuk memastikan setiap misi satelit tidak hanya mempertimbangkan keberhasilan operasional, tetapi juga prosedur pengakhiran misi yang aman.
Selama dua dekade, Swift telah membantu ilmuwan memahami berbagai fenomena ekstrem di alam semesta. Kini, setelah perjalanannya berakhir di langit Sumatera Utara, warisan observatorium tersebut tetap hidup melalui ribuan publikasi ilmiah dan data astronomi yang dihasilkannya. (*)






