
JAKARTA, NUSANTARA INFO: Tahu menjadi sumber protein paling ramah lingkungan berdasarkan studi yang membandingkan dampak produksi 20 produk tinggi protein. Penelitian tersebut menemukan, emisi gas rumah kaca dari tahu sekitar 100 kali lebih rendah dibandingkan daging sapi.
Studi yang dilakukan Chris Macdonald dari University of Cambridge dan dipublikasikan pada 29 Juli 2026 itu menilai 10 sumber protein nabati dan 10 sumber protein hewani, mulai dari tahu, biji chia, quinoa, hingga salmon, telur, dan daging sapi.
Penilaian menggunakan BPI Score atau Planet Score dengan empat indikator, yakni emisi gas rumah kaca, pencemaran air, penggunaan lahan, dan penggunaan air. Setiap indikator memperoleh nilai 0 hingga 4 poin dengan skor maksimal 16 poin.
Hasilnya, tahu menempati peringkat pertama dengan skor sempurna 16 poin, disusul biji chia dengan 15 poin.
Emisi Tahu Jauh Lebih Rendah dari Daging Sapi
Berdasarkan penelitian tersebut, produksi 100 gram protein dari tahu menghasilkan emisi gas rumah kaca sekitar 0,61 kilogram karbon dioksida ekuivalen.
Sementara itu, produksi protein daging sapi menghasilkan emisi mencapai 64,19 kilogram untuk jumlah protein yang sama. Artinya, emisi daging sapi sekitar 105 kali lebih tinggi dibandingkan tahu.
Tahu juga membutuhkan lahan sekitar 2,16 meter persegi untuk menghasilkan 100 gram protein. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan daging sapi yang membutuhkan 211,38 meter persegi.
Dari sisi penggunaan air, tahu tercatat membutuhkan sekitar 14,23 liter untuk menghasilkan 100 gram protein. Biji bunga matahari membutuhkan 6,68 liter, sedangkan kacang-kacangan tercatat 0,07 liter berdasarkan data penelitian.
Tahu Puncaki Peringkat 20 Sumber Protein
Selain tahu, sejumlah sumber protein nabati juga memperoleh skor lingkungan tinggi.
Biji chia menempati peringkat kedua dengan 15 poin. Quinoa dan kacang-kacangan masing-masing memperoleh 13 poin, disusul biji bunga matahari dengan 11 poin dan chickpea atau kacang arab dengan 10 poin.
Dada ayam menjadi sumber protein hewani dengan skor tertinggi, yakni sembilan poin.
Ikan salmon, telur, lentil, kacang kenari, dan kacang Brasil masing-masing memperoleh delapan poin. Tuna dan kacang tanah mendapat tujuh poin, sedangkan daging domba memperoleh enam poin.
Keju mozzarella dan ikan kod masing-masing memperoleh empat poin. Daging babi mendapatkan tiga poin.
Sementara itu, steik daging sapi dan keju cheddar menempati posisi terbawah dengan masing-masing satu poin.
Protein Nabati Jadi Pilihan Ramah Lingkungan
Temuan penelitian menunjukkan bahwa sumber protein memiliki dampak lingkungan berbeda berdasarkan proses produksinya.
Tahu memperoleh skor tertinggi karena dinilai memiliki performa baik dalam indikator emisi, penggunaan lahan, pencemaran air, dan kebutuhan air.
Selain menjadi bahan pangan yang mudah ditemukan di Indonesia, tahu juga dapat diolah menjadi berbagai hidangan untuk memenuhi kebutuhan protein sehari-hari.
Meski demikian, pemilihan sumber protein tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan gizi, kondisi kesehatan, dan pola makan masing-masing individu.
Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi tambahan bagi masyarakat yang ingin menerapkan pola konsumsi lebih berkelanjutan.
Tahu dan berbagai sumber protein nabati dapat menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan protein sekaligus mempertimbangkan dampak lingkungan dari makanan sehari-hari. (*)






