Prabowo: Saya Sebenarnya Ingin Jadi Presiden ke-7, Tapi Takdir Menjadikan Presiden ke-8 RI

Bagikan

Prabowo: Saya Sebenarnya Ingin Jadi Presiden ke-7, Tapi Takdir Menjadikan Presiden ke-8 RI
Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Dok. Sekretariat Presiden)

Jakarta, Nusantara Info: Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa dirinya sempat berharap dapat menjadi Presiden ke-7 Republik Indonesia. Namun, menurutnya, perjalanan hidup dan dinamika politik nasional akhirnya membawanya menjadi Presiden ke-8.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri Indian Community Reception di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Selasa (7/7/2026), dalam rangka kunjungan resmi Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi ke Indonesia.

Dalam sambutannya, Prabowo terlebih dahulu menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada Narendra Modi. Ia kemudian mengenang kehormatan yang diterimanya ketika menjadi Chief Guest atau tamu kehormatan utama pada perayaan Hari Republik India pada 26 Januari 2025.

“Saya baru saja dilantik sebagai Presiden Indonesia tiga bulan sebelumnya, pada 20 Oktober,” ujar Prabowo.

Presiden menjelaskan bahwa kehormatan tersebut memiliki makna historis karena Presiden pertama RI, Soekarno, juga pernah menjadi tamu kehormatan pada perayaan Hari Republik India pada 1950.

“Jadi, takdir menjadikan saya Presiden ke-8 Republik Indonesia,” kata Prabowo di hadapan para tamu yang hadir.

Angka 8 Disebut Selalu Mengiringi Karier Politik Prabowo

Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menyinggung angka delapan yang menurutnya kerap muncul dalam berbagai fase perjalanan hidup dan karier politiknya. Ia bahkan menyebut angka tersebut sebagai angka keberuntungannya.

Menurut Prabowo, berbagai momentum penting dalam hidupnya seolah selalu berkaitan dengan angka 8, termasuk ketika akhirnya dipercaya rakyat menjadi Presiden Republik Indonesia.

“Dan sebenarnya, saya terus menemukan angka 8 sepanjang karier saya. Saya ingin menjadi Presiden ke-7, tetapi takdir menjadikan saya yang ke-8. Terima kasih telah mengundang saya ke sini,” ucapnya.

Pernyataan tersebut disampaikan dengan nada santai dan disambut hangat oleh para hadirin yang menghadiri acara penyambutan komunitas India tersebut.

Perjalanan Politik Panjang Menuju Kursi Presiden

Ucapan Prabowo itu juga merefleksikan perjalanan politiknya yang berlangsung lebih dari satu dekade sebelum akhirnya memenangkan pemilihan presiden.

Baca Juga :  Dua Dekade Berlalu, UU Polri Dinilai Tak Lagi Relevan Hadapi Kejahatan Modern

Prabowo pertama kali maju sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden 2014 berpasangan dengan Hatta Rajasa. Dalam kontestasi tersebut, pasangan Prabowo-Hatta harus mengakui kemenangan pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK).

Kekalahan tersebut membuat Jokowi resmi menjadi Presiden ke-7 Republik Indonesia.

Lima tahun kemudian, Prabowo kembali maju sebagai calon presiden pada Pilpres 2019. Kali ini ia berpasangan dengan Sandiaga Uno. Namun hasil pemungutan suara kembali memenangkan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Setelah Pilpres 2019, Prabowo bergabung dalam Kabinet Indonesia Maju sebagai Menteri Pertahanan di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo. Langkah tersebut dinilai menjadi awal terbentuknya kerja sama politik yang lebih luas menjelang Pemilu 2024.

Pada Pilpres 2024, Prabowo maju bersama Gibran Rakabuming Raka dan berhasil memperoleh suara terbanyak. Ia kemudian dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia pada 20 Oktober 2025, sehingga resmi menjadi Presiden ke-8 RI.

Momentum Diplomasi Indonesia-India

Pernyataan Prabowo mengenai perjalanan politiknya disampaikan di sela agenda diplomatik yang mempererat hubungan bilateral Indonesia dan India.

Kunjungan Narendra Modi ke Indonesia menjadi bagian dari upaya memperkuat kemitraan strategis kedua negara di berbagai sektor, mulai dari ekonomi, perdagangan, investasi, pertahanan, hingga kerja sama kawasan Indo-Pasifik.

Dalam pidatonya, Prabowo juga menegaskan kedekatan historis Indonesia dan India yang telah terjalin sejak awal kemerdekaan kedua negara. Ia mengingatkan bahwa hubungan tersebut memiliki fondasi kuat, salah satunya melalui sejarah kunjungan Presiden Soekarno ke India pada 1950.

Dengan mengaitkan pengalamannya sebagai tamu kehormatan pada Hari Republik India serta posisinya sebagai Presiden ke-8 RI, Prabowo menyampaikan bahwa perjalanan hidup kerap dipengaruhi oleh takdir yang tidak selalu sesuai dengan rencana awal.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi refleksi atas perjalanan politik panjang yang akhirnya mengantarkannya memimpin Indonesia setelah dua kali gagal dalam pemilihan presiden sebelumnya. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait