
Garut, Nusantara Info: Di tengah hamparan Situ Cangkuang yang tenang di Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, berdiri sebuah situs bersejarah yang memiliki keunikan tersendiri di Jawa Barat. Candi Cangkuang bukan hanya dikenal sebagai satu-satunya candi Hindu yang masih berdiri utuh di Tatar Sunda, tetapi juga menjadi saksi perjumpaan dua peradaban besar yang membentuk perjalanan sejarah Nusantara: Hindu dan Islam.
Berada di Kampung Pulo, Desa Cangkuang, candi ini menempati sebuah pulau kecil di tengah danau yang dikelilingi panorama alam khas Priangan. Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus menyeberangi Situ Cangkuang menggunakan rakit bambu tradisional. Perjalanan singkat sekitar 10 menit tersebut menjadi bagian dari pengalaman wisata yang tidak biasa, menghadirkan suasana tenang dengan pemandangan empat gunung yang mengelilingi kawasan, yakni Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Mandalawangi, dan Gunung Guntur.
Keunikan Candi Cangkuang tidak hanya terletak pada keberadaannya sebagai situs Hindu kuno di tanah Sunda. Di sisi selatan candi terdapat makam Arif Muhammad, tokoh penyebar Islam yang diyakini berasal dari Mataram pada abad ke-17. Kehadiran candi Hindu dan makam ulama Islam dalam satu kawasan yang sama menjadi simbol harmonisasi budaya dan sejarah yang jarang ditemukan di tempat lain.
Nama Cangkuang sendiri berasal dari tanaman cangkuang (Pandanus furcatus), sejenis pandan yang dahulu banyak tumbuh di sekitar kawasan tersebut. Daunnya dimanfaatkan masyarakat untuk membuat berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari tikar hingga penutup kepala. Nama tanaman itu kemudian melekat pada desa, danau, serta candi yang kini menjadi salah satu ikon wisata sejarah Jawa Barat.
Warisan Peradaban Sunda Kuno
Candi Cangkuang pertama kali ditemukan pada tahun 1966 oleh arkeolog Uka Tjandrasasmita berdasarkan catatan sejarah yang terbit pada 1893. Penelitian dan ekskavasi dilakukan pada 1967–1968, sebelum akhirnya dipugar oleh pemerintah pada periode 1974–1976.
Keberadaan candi ini memiliki arti penting dalam kajian sejarah Jawa Barat karena menjadi candi pertama yang ditemukan dan dipugar di wilayah Sunda. Para peneliti memperkirakan bangunan tersebut berasal dari abad ke-8 Masehi, sezaman dengan situs-situs kuno di Batujaya dan Cibuaya.
Meski demikian, bentuk asli candi hingga kini belum sepenuhnya diketahui. Saat proses pemugaran, hanya sekitar 40 persen batu asli yang berhasil ditemukan. Sisanya direkonstruksi menggunakan material modern untuk mengembalikan bentuk bangunan sebagaimana yang terlihat saat ini.
Di dalam ruang utama candi terdapat arca Dewa Siwa yang ditemukan dalam kondisi rusak. Meski sebagian tubuhnya telah hilang, keberadaan arca tersebut menjadi bukti kuat bahwa Candi Cangkuang merupakan tempat pemujaan agama Hindu pada masa lampau.
Menyatu dengan Kampung Adat
Daya tarik lain yang membuat Candi Cangkuang berbeda adalah keberadaan Kampung Pulo, sebuah permukiman adat yang berada dalam kawasan yang sama. Kampung ini hanya dihuni enam kepala keluarga dan mempertahankan tradisi turun-temurun yang diwariskan leluhur mereka.
Rumah-rumah adat yang berjajar rapi menjadi bagian dari lanskap budaya yang melengkapi nilai sejarah kawasan. Kehidupan masyarakat yang masih menjaga adat istiadat menjadikan kunjungan ke Candi Cangkuang tidak sekadar wisata sejarah, tetapi juga pengalaman budaya yang autentik.
Bagi wisatawan, destinasi ini menawarkan perpaduan lengkap antara keindahan alam, warisan sejarah, dan kekayaan budaya lokal. Dengan akses yang relatif mudah dari Kota Garut serta biaya kunjungan yang terjangkau, Candi Cangkuang menjadi salah satu destinasi yang layak dikunjungi untuk memahami jejak peradaban Sunda sekaligus menikmati pesona alam Priangan yang menenangkan. (*)






