
JAKARTA, NUSANTARA INFO: Badan Pangan Nasional (Bapanas) merespons kenaikan harga beras dari tingkat penggilingan hingga warung eceran. Pemerintah menilai fenomena El Nino perlu diwaspadai, tetapi kenaikan harga beras tidak bisa disimpulkan hanya akibat perubahan iklim.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan mengatakan, perkembangan harga beras perlu ditangani berdasarkan data dan kondisi di masing-masing daerah.
“Terkait kenaikan harga beras, kami memahami bahwa setiap perubahan harga berpengaruh terhadap pengeluaran rumah tangga. Karena itu, perkembangannya perlu direspons dengan langkah yang tepat berdasarkan data,” ucap Hermawan, Selasa (3/11/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul kenaikan harga beras di sejumlah rantai distribusi, mulai dari penggilingan, grosir, hingga tingkat eceran.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Oktober 2026, El Nino dengan intensitas sangat kuat melanda Indonesia. Fenomena ini menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena berpotensi memengaruhi ketersediaan air dan jadwal tanam.
Meski demikian, Bapanas menegaskan dampak El Nino terhadap produksi dan harga beras harus ditelusuri berdasarkan kondisi wilayah.
Bapanas Ungkap Faktor Penyebab Harga Beras Naik
Hermawan menjelaskan, kenaikan harga beras tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi iklim. Pemerintah perlu menelusuri sejumlah faktor lain yang berpengaruh terhadap biaya produksi dan distribusi.
Faktor tersebut antara lain pola dan waktu panen, pergerakan harga gabah, biaya pengolahan, transportasi, serta kelancaran pasokan beras antardaerah.
Menurut Hermawan, pemetaan penyebab kenaikan harga di setiap wilayah diperlukan agar intervensi pemerintah dapat dilakukan secara tepat sasaran.
“Faktor lain yang perlu ditelusuri adalah pola dan waktu panen, pergerakan harga gabah, biaya pengolahan serta transportasi, dan kelancaran pasokan antardaerah. Dengan mengetahui penyebab di setiap wilayah, intervensi pemerintah dapat diarahkan secara lebih efektif,” jelas Hermawan.
Bapanas juga akan memperkuat pemantauan harga beras dari tingkat penggilingan hingga konsumen. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan harga sekaligus mengidentifikasi wilayah yang mengalami tekanan pasokan.
Pemerintah Perkuat Stabilisasi Harga Beras
Untuk menjaga stabilitas harga beras, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah melalui penguatan distribusi dan intervensi pangan.
Bapanas memastikan ketersediaan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di wilayah yang membutuhkan. Penyaluran beras SPHP juga diarahkan agar tersedia dan dijual sesuai ketentuan.
Selain itu, pemerintah mengadakan Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga terjangkau.
Upaya stabilisasi juga dilakukan melalui penyaluran bantuan pangan serta memperlancar distribusi beras dari daerah surplus menuju wilayah yang mengalami tekanan pasokan.
Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga ketersediaan beras sekaligus membantu mengendalikan gejolak harga di tingkat konsumen.
BPS Catat Harga Beras di Penggilingan Naik 6,89 Persen
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga beras pada Oktober 2026 terjadi di sejumlah tingkat distribusi.
Di tingkat penggilingan, rata-rata harga beras naik 0,26 persen secara bulanan atau month to month (mtm). Secara tahunan atau year on year (yoy), harga beras di penggilingan meningkat 6,89 persen.
Sementara itu, harga beras di tingkat grosir mengalami inflasi 0,01 persen secara bulanan dan 5,13 persen secara tahunan.
Pada tingkat eceran, inflasi harga beras tercatat sebesar 0,08 persen secara bulanan. Adapun secara tahunan, inflasi beras di tingkat eceran mencapai 4,10 persen.
Data tersebut menunjukkan tekanan harga beras terjadi dari tingkat penggilingan hingga konsumen. Pemerintah pun perlu memperkuat pemantauan produksi, pasokan, dan distribusi agar kenaikan harga tidak semakin membebani pengeluaran rumah tangga.
Bapanas menegaskan penanganan kenaikan harga beras perlu dilakukan berdasarkan data dan kondisi wilayah. Dengan pemantauan yang lebih kuat serta distribusi yang lancar, pemerintah diharapkan dapat menjaga pasokan dan menstabilkan harga beras di tengah potensi dampak El Nino. (*)






