
PALEMBANG, NUSANTARA INFO: Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, berada pada kategori berbahaya akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pada Rabu (14/10/2026) pukul 05.00 WIB, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Palembang mencapai 688 berdasarkan pemantauan IQAir, dengan konsentrasi partikel polutan PM2.5 sebesar 420 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mulai menguji coba penyemaian dry ice atau es kering sebagai salah satu upaya penanganan kabut asap. Teknologi ini dikaji untuk membantu mengatasi kondisi atmosfer yang menyebabkan asap terperangkap di dekat permukaan bumi.
Tingginya indeks polusi udara tersebut menjadi peringatan bagi masyarakat untuk membatasi paparan asap, terutama anak-anak, lanjut usia (lansia), serta orang yang memiliki penyakit jantung dan paru-paru.
Berdasarkan kategori AQI Amerika Serikat yang digunakan dalam pemantauan kualitas udara, angka 688 jauh melampaui ambang kategori berbahaya yang dimulai pada AQI 301. Nilai tersebut menunjukkan kondisi polusi udara yang sangat serius dan memerlukan langkah perlindungan kesehatan.
Sementara itu, konsentrasi PM2.5 sebesar 420 µg/m³ menunjukkan tingginya kandungan partikel halus di udara. PM2.5 merupakan partikel berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru.
Paparan partikel tersebut dapat memicu iritasi, memperburuk asma dan penyakit paru-paru, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan kardiovaskular. Risiko dapat meningkat ketika seseorang terpapar dalam konsentrasi tinggi atau dalam waktu lama.
AQI 688, Warga Palembang Diminta Waspada
Kualitas udara dikategorikan baik ketika AQI berada pada rentang 0–50. Rentang 51–100 tergolong sedang, 101–150 tidak sehat bagi kelompok sensitif, 151–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, dan nilai di atas 300 masuk kategori berbahaya.
Dengan AQI mencapai 688, kondisi udara Palembang memerlukan perhatian serius. Masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya kegiatan fisik berat, selama kabut asap masih pekat.
Kelompok rentan perlu mendapat perlindungan lebih. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan gangguan pernapasan atau penyakit jantung sebaiknya menghindari paparan asap secara langsung.
Apabila harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat dapat menggunakan respirator yang mampu menyaring partikel halus, seperti N95 atau KN95, dengan pemasangan yang tepat. Masker kain biasa tidak memberikan perlindungan setara terhadap partikel PM2.5.
Warga juga disarankan menutup jendela ketika udara luar berasap pekat, menjaga kualitas udara dalam ruangan, dan mengikuti informasi terbaru dari otoritas terkait. Apabila mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gejala berat lainnya, segera cari pertolongan medis.
Angka AQI dan PM2.5 tersebut merupakan hasil pemantauan pada waktu tertentu sehingga dapat berubah mengikuti kondisi cuaca, arah angin, dan sebaran asap. Meski demikian, nilai yang sangat tinggi tetap menjadi alasan untuk melakukan tindakan perlindungan sejak dini.
Sumsel Uji Coba Penyemaian Dry Ice
Di tengah memburuknya kualitas udara, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mulai menguji coba penyemaian dry ice pada Rabu (14/10/2026). Informasi tersebut disampaikan melalui pemberitaan Antara.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengatakan provinsinya menjadi salah satu wilayah prioritas dalam uji coba teknologi tersebut.
Palembang menjadi salah satu sasaran prioritas karena terdampak kabut asap, sedangkan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi salah satu wilayah yang dikaitkan dengan sumber asap.
Herman menjelaskan, pesawat yang membawa dry ice dijadwalkan berangkat dari Bandar Lampung pada Rabu, apabila tidak ada kendala. Ia meminta agar penyemaian diprioritaskan di wilayah Palembang untuk membantu mengatasi kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan Iqbal mengatakan pihaknya masih berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait teknis pelaksanaan uji coba.
Perwakilan BNPB juga dijadwalkan datang ke Palembang untuk membahas rencana tersebut.
Uji coba direncanakan menyasar Palembang dan Kabupaten OKI. Waktu serta lokasi pelaksanaan akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan, termasuk jarak pandang dan keadaan atmosfer.
Pemerintah daerah berharap upaya tersebut dapat membantu mengurangi kabut asap. Namun, efektivitas penyemaian dry ice dalam memperbaiki kualitas udara masih perlu dievaluasi berdasarkan hasil pelaksanaan dan pengamatan di lapangan.
Bagaimana Dry Ice Bekerja Mengatasi Kabut Asap?
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan Wandayantolis menjelaskan bahwa penyemaian dry ice sedang dikaji sebagai alternatif penanganan kabut asap melalui pengaruhnya terhadap kondisi atmosfer yang menghambat pertumbuhan awan.
Dry ice merupakan karbon dioksida dalam bentuk padat. Dalam teknik modifikasi cuaca tertentu, material ini dapat digunakan untuk memicu pembentukan kristal es pada awan yang memiliki kondisi suhu dan kelembapan sesuai.
Namun, pendekatan yang sedang dikaji di Sumatera Selatan memiliki fokus khusus, yakni membantu mengatasi lapisan inversi atmosfer yang diduga berperan dalam memerangkap asap.
Lapisan inversi terjadi ketika suhu udara meningkat seiring bertambahnya ketinggian pada lapisan atmosfer tertentu. Kondisi ini dapat menghambat pergerakan udara vertikal sehingga asap dan polutan sulit menyebar ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
Akibatnya, polutan dapat bertahan dan menumpuk di dekat permukaan bumi, terutama ketika kondisi angin lemah dan atmosfer relatif stabil.
“Dengan dry ice diharapkan dapat menghilangkan penghambat tumbuhnya awan sekaligus agar asap yang terjebak bisa bergerak ke luar mengikuti angin. Secara konsep agak berbeda dengan teknik penyemaian awan,” jelas Wandayantolis.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa tujuan uji coba bukan sekadar menghasilkan hujan, melainkan mengkaji kemungkinan perubahan kondisi atmosfer agar asap yang terperangkap dapat terdispersi.
Meski demikian, perubahan lapisan inversi dan pergerakan asap dipengaruhi berbagai faktor meteorologis. Karena itu, keberhasilan pendekatan ini tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan pelaksanaan penyemaian, tetapi perlu dibuktikan melalui pengamatan atmosfer dan perubahan konsentrasi polutan sebelum serta sesudah kegiatan.
Penanganan Asap Perlu Diikuti Pengendalian Karhutla
Penyemaian dry ice merupakan salah satu pendekatan yang sedang diuji. Penanganan kabut asap tetap membutuhkan upaya pengendalian kebakaran di sumbernya agar emisi asap tidak terus bertambah.
Kebakaran hutan dan lahan dapat menghasilkan partikel halus dalam jumlah besar. Ketika emisi tersebut bertemu kondisi atmosfer yang menghambat penyebaran polutan, kualitas udara dapat memburuk dan berdampak luas terhadap kesehatan masyarakat.
Karena itu, upaya penanganan perlu berjalan beriringan, mulai dari pemadaman kebakaran, pemantauan titik panas, pengawasan wilayah rawan, hingga penyampaian informasi kualitas udara kepada masyarakat.
Hasil pemantauan AQI dan PM2.5 juga perlu menjadi dasar bagi masyarakat untuk menyesuaikan aktivitas harian. Penurunan angka polusi dalam satu waktu belum tentu menandakan kondisi telah aman apabila konsentrasi partikel kembali meningkat.
Dengan AQI Palembang mencapai 688 pada Rabu pagi, perlindungan kesehatan warga menjadi kebutuhan mendesak. Masyarakat perlu mengikuti pembaruan kualitas udara dan arahan pemerintah, sementara efektivitas uji coba dry ice perlu dinilai secara objektif berdasarkan hasil pengukuran di lapangan. (*)





