
JAKARTA, NUSANTARA INFO: Pameran “Gerbang Laut, Gerbang Dunia: Pelabuhan Sunda Kelapa dalam Lintasan Samudra” hadir di Museum Bahari Jakarta pada 9 September hingga 29 November 2026. Pameran ini mengajak masyarakat menelusuri perjalanan panjang Pelabuhan Sunda Kelapa sekaligus memahami perannya dalam perkembangan perdagangan, pelayaran, dan pertukaran budaya di Nusantara.
Mengusung perspektif sejarah maritim, pameran tersebut menempatkan Sunda Kelapa sebagai salah satu kawasan penting yang turut membentuk perjalanan Jakarta dari masa ke masa. Letaknya yang strategis menjadikan pelabuhan ini sebagai simpul pergerakan barang, manusia, pengetahuan, dan kebudayaan melalui jalur laut.
Bukan sekadar ruang perdagangan, Sunda Kelapa juga menjadi titik perjumpaan berbagai masyarakat dari beragam wilayah. Interaksi yang berlangsung di kawasan pelabuhan kemudian ikut memengaruhi perkembangan sosial dan budaya masyarakat pesisir Jakarta.
Menelusuri Sunda Kelapa dari Era Kerajaan hingga Pascakemerdekaan
Melalui lima zona kronologis, Pameran Gerbang Laut, Gerbang Dunia mengajak pengunjung mengikuti perjalanan Pelabuhan Sunda Kelapa dari era kerajaan, masa Batavia, hingga periode pascakemerdekaan.
Setiap zona menghadirkan narasi mengenai sejarah pelabuhan, aktivitas perdagangan dan pelayaran, perjumpaan berbagai budaya, serta tradisi pelayaran yang menghubungkan Nusantara dengan kawasan lain di dunia.
Beragam materi ditampilkan untuk membantu pengunjung memahami posisi Sunda Kelapa dalam jaringan maritim tersebut. Mulai dari arsip sejarah, peta pelayaran, koleksi komoditas perdagangan, model kapal, diorama, hingga instalasi digital.
Penyajian tersebut tidak hanya memperlihatkan bagaimana aktivitas pelabuhan berlangsung pada masa lalu, tetapi juga menggambarkan hubungan Sunda Kelapa dengan terbentuknya Jakarta sebagai kota pelabuhan.
Jalur laut pada masa itu menjadi infrastruktur penting yang memungkinkan komoditas bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain. Bersamaan dengan pergerakan barang, terjadi pula mobilitas manusia, pertukaran pengetahuan, bahasa, tradisi, dan kebudayaan.
Jejak interaksi tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah kawasan pesisir Jakarta.
Sunda Kelapa dan Jaringan Maritim Dunia

Tema “Gerbang Laut, Gerbang Dunia” memperluas perspektif pengunjung mengenai posisi Sunda Kelapa dalam jaringan pelayaran yang tidak berhenti pada wilayah Nusantara.
Aktivitas pelayaran dari pelabuhan tersebut terhubung dengan jaringan perdagangan kawasan Asia hingga dunia. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana jalur maritim menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan kawasan Jakarta dan membentuk karakter kota sebagai ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat.
Dalam konteks sejarah Indonesia, pelabuhan memiliki posisi penting karena menjadi pintu masuk sekaligus penghubung berbagai aktivitas ekonomi dan sosial. Sunda Kelapa menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah pelabuhan dapat berkembang menjadi bagian dari perjalanan sebuah kota.
Karena itu, pameran ini tidak hanya berbicara mengenai masa lalu sebuah pelabuhan, tetapi juga mengajak masyarakat melihat keterkaitan antara sejarah maritim dengan kehidupan Jakarta pada masa kini dan masa mendatang.
Libatkan Sejumlah Lembaga dan Peneliti
Untuk memperkaya perspektif dan materi yang ditampilkan, Museum Bahari berkolaborasi dengan sejumlah pihak dalam penyelenggaraan pameran.
Kolaborasi tersebut antara lain melibatkan Universitas Tarumanegara, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), Westfries Museum dari Belanda, serta Scott Merrillees, penulis buku Greetings from Jakarta: Postcards of a Capital 1900-1950.
Keterlibatan berbagai lembaga dan narasumber tersebut memperkuat materi pameran dengan menghadirkan sumber sejarah, arsip, perspektif akademik, serta dokumentasi mengenai perkembangan Jakarta dan aktivitas pelabuhannya.
Pameran juga menjadi ruang untuk mempertemukan sejarah lokal dengan konteks maritim yang lebih luas. Dengan demikian, pengunjung dapat melihat bahwa perkembangan Jakarta tidak dapat dilepaskan dari konektivitas laut yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Bagian dari Menyongsong 500 Tahun Jakarta
Pameran Gerbang Laut, Gerbang Dunia: Pelabuhan Sunda Kelapa dalam Lintasan Samudra merupakan program publik unggulan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta melalui unit pengelolaan Museum Jakarta.
Kegiatan tersebut didukung pembiayaannya melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) Museum dan Taman Budaya Kementerian Kebudayaan Tahun Anggaran 2026.
Penyelenggaraan pameran juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan dalam menyongsong 500 tahun Kota Jakarta.
Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk kembali melihat perjalanan Jakarta dari perspektif sejarah yang lebih panjang. Sebelum berkembang menjadi kota metropolitan dan pusat aktivitas ekonomi nasional seperti sekarang, Jakarta memiliki sejarah panjang sebagai kawasan yang kehidupan dan pertumbuhannya berkaitan erat dengan aktivitas pelabuhan serta jalur perdagangan laut.
Museum sebagai Ruang Belajar Sejarah
Lebih dari sekadar menyimpan benda-benda bersejarah, museum memiliki peran sebagai ruang pembelajaran publik. Pameran Gerbang Laut, Gerbang Dunia memperlihatkan bagaimana koleksi dan arsip sejarah dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara masa lalu, kehidupan masyarakat saat ini, serta tantangan dan peluang pada masa depan.
Perspektif tersebut sejalan dengan upaya memperkuat fungsi museum sebagai bagian dari ekosistem kebudayaan nasional. Museum tidak hanya menjadi tempat untuk melihat koleksi, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk memahami identitas, sejarah, dan perjalanan kebudayaan.
Bagi pelajar dan mahasiswa, pameran ini dapat menjadi sarana pembelajaran sejarah maritim di luar ruang kelas. Sementara bagi keluarga, wisatawan, maupun pencinta sejarah dan museum, pameran tersebut menawarkan pengalaman untuk mengenal Jakarta dari sisi yang berbeda.
Bagi masyarakat yang mencari agenda edukatif sekaligus wisata sejarah di Jakarta, pameran ini dapat menjadi salah satu pilihan untuk dikunjungi.
Melalui perjalanan Sunda Kelapa, pengunjung diajak memahami bagaimana laut bukan sekadar batas geografis, melainkan jalur yang sejak masa lalu menghubungkan perdagangan, manusia, pengetahuan, dan kebudayaan hingga membentuk Jakarta seperti sekarang. (*)






