
YOGYAKARTA, NUSANTARA INFO: Di tengah perkembangan Kota Yogyakarta yang semakin dinamis, Pasar Mustokoweni hadir dengan konsep yang tidak sekadar menawarkan aktivitas jual beli. Berlangsung dua kali dalam sebulan, pasar komunitas ini menjadi ruang pertemuan bagi produk kreatif, makanan sehat, kerajinan, batik, hingga berbagai kegiatan edukatif.
Pasar Mustokoweni digelar pada akhir pekan minggu kedua dan keempat setiap bulan. Lokasinya berada di Jalan A.M. Sangaji Nomor 72, Cokrodiningratan, Kapanewon Jetis, Kota Yogyakarta. Suasananya berbeda dari pasar pada umumnya. Payung klasik, meja dan kursi kayu, serta pepohonan tinggi menghadirkan atmosfer teduh di tengah kawasan perkotaan.
Pasar Mustokoweni didirikan dan dikelola oleh Sarah Diorita sebagai founder sekaligus pengelola. Sementara itu, bangunan yang menjadi lokasi pasar merupakan Bangunan Pusaka Mustokoweni yang dimiliki keluarga besar Laretna Adishakti atau Sita dan Nita.
Sita mengatakan frekuensi penyelenggaraan yang tidak terlalu sering sengaja dipertahankan. Tujuannya agar pasar tetap memiliki daya tarik dan tidak kehilangan rasa penasaran dari pengunjung.
“Biar ada rasa menanti. Biar ada kangen,” ujar Sita saat ditemui di Pasar Mustokoweni, Sabtu (8/8/2026).
Dalam setiap penyelenggaraan, sekitar 20 tenan dapat berjualan. Namun, jumlah pelaku usaha yang berminat jauh lebih besar. Sita menyebut pendaftar bisa mencapai sekitar 50 tenan sehingga diperlukan proses pendaftaran dan kurasi.
Produk yang dipilih tidak sembarangan. Pasar memberikan ruang bagi makanan sehat serta produk kreatif dan inovatif, termasuk kerajinan tangan. Pengelola juga menggelar berbagai kegiatan seperti workshop menyulam, membuat gantungan kunci, hingga membuat parfum.
Menjaga Ruang Kreatif
Konsep tersebut membuat Pasar Mustokoweni tidak hanya menjadi tempat transaksi. Pasar juga menjadi ruang bagi pelaku kreatif untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat.
Menurut Sita, pihak pengelola menyediakan tempat, sementara pemilihan tenan dilakukan melalui proses kurasi. Tenan hanya dikenakan biaya kebersihan.
Antusiasme pengunjung pun menjadi salah satu alasan pasar ini terus dipertahankan. Menariknya, bukan hanya produk yang menjadi daya tarik. Bagi Sita, pepohonan yang menaungi kawasan tersebut justru menjadi pengalaman penting bagi generasi muda.
“Yang pertama sebenarnya, saya juga tidak menyangka ya awalnya. Ternyata anak-anak muda kalau datang ke sini, itu ada satu kata yang mereka katakan suka. Yaitu rindang,” kata Sita.
Ia menilai keberadaan ruang hijau di tengah kota semakin bernilai ketika masyarakat, khususnya generasi muda, mulai jarang menemukan lingkungan dengan pepohonan yang cukup.
Batik dan Pewarna Alam
Pasar Mustokoweni juga memiliki keterkaitan kuat dengan pengembangan batik. Sita menjelaskan bahwa pengrajin batik yang terlibat tetap mengerjakan produksinya di rumah masing-masing.
Cara tersebut dipilih bukan semata persoalan teknis produksi. Menurut Sita, pengrajin yang mayoritas berasal dari sejumlah daerah tetap perlu memiliki waktu bersama keluarga agar keterampilan membatik dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Karena supaya inheritance-nya, pewarisannya, bisa dilakukan oleh anak cucunya,” terang Sita.
Pengembangan batik yang dilakukan juga diarahkan pada penggunaan pewarna alam, termasuk indigo. Sita menyebut pengembangan batik dengan pewarna alam telah dilakukan sejak 2007.
Produk tersebut bahkan telah dibawa ke berbagai pameran internasional. Sita mengatakan pihaknya telah berkeliling ke 22 negara, termasuk mengikuti World Expo di Osaka setelah pandemi.
Sejarah Panjang di Balik Nama Mustokoweni
Keberadaan Pasar Mustokoweni juga tidak dapat dilepaskan dari sejarah bangunan tempatnya berada. Sita, yang juga meneliti peta-peta lama Yogyakarta, menyebut bangunan tersebut merupakan peninggalan Inggris dari sekitar 1920-an.
Menurut penelusurannya, bangunan itu tidak terlihat pada peta Yogyakarta sekitar 1890-an, tetapi sudah tercatat dalam peta 1925. Bangunan tersebut awalnya berkaitan dengan kawasan perkebunan dan kemudian mengalami perjalanan panjang hingga digunakan sebagai sekolah musik.
Nama Mustokoweni sendiri memiliki cerita tersendiri. Sita mengisahkan neneknya pernah memerankan Mustokoweni dalam lakon Mustokoweni-Srikandi di Leiden, Belanda, dalam kegiatan penggalangan dana setelah gempa dan erupsi Merapi.
Nama tersebut kemudian digunakan untuk hotel dan akhirnya menjadi identitas pasar.
Bagi Sita, Pasar Mustokoweni tidak tepat jika dipindahkan ke tempat lain karena karakter pasar sangat bergantung pada lokasi, bangunan, dan pepohonan yang menjadi bagian dari suasananya.
“Kalau sudah namanya Pasar Mustokoweni, lengkap dengan site-nya, kan? Jadi vibes-nya kan vibes Mustokoweni,” pungkasnya.
Pada akhirnya, Pasar Mustokoweni bukan hanya menawarkan ruang untuk berjualan. Ia mempertemukan kreativitas, produk lokal, batik, sejarah, dan lingkungan dalam satu kawasan. Di tengah kota yang terus berubah, pasar ini memilih mempertahankan kekuatan yang sederhana: ruang yang rindang, karya yang dikurasi, dan pertemuan yang dinanti. (*)






