Gagal Dijual di Jawa, Batik Tiruan Belanda Menemukan Pasar di Afrika Barat

Bagikan

Gagal Dijual di Jawa, Batik Tiruan Belanda Menemukan Pasar di Afrika Barat
Kain batik tiruan produksi Belanda yang terinspirasi dari batik Jawa kemudian menemukan pasar di Afrika Barat dan berkembang menjadi African wax print yang lekat dengan identitas budaya kawasan tersebut. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, NUSANTARA INFO: Upaya industri Eropa meniru batik Jawa pada abad ke-19 berakhir di luar dugaan. Kain yang tidak berhasil merebut hati konsumen Jawa justru menemukan pasar baru di Afrika Barat dan dalam perjalanan panjangnya berubah menjadi salah satu simbol budaya yang dikenal sebagai African wax print atau Ankara.

Kisah tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan sebuah produk tidak selalu berakhir di pasar yang sejak awal menjadi sasarannya. Teknologi produksi, selera konsumen, jaringan perdagangan kolonial, hingga kemampuan masyarakat memberi makna baru terhadap sebuah benda turut menentukan bagaimana sebuah kain berkembang menjadi bagian dari identitas budaya.

Pada abad ke-19, Jawa merupakan salah satu pasar penting bagi tekstil di kawasan Asia. Batik digunakan dalam berbagai lingkungan sosial, mulai dari keraton di Surakarta dan Yogyakarta hingga pusat-pusat perdagangan di pesisir utara Jawa.

Besarnya permintaan tersebut menarik perhatian produsen tekstil di Eropa. Pengusaha di Belanda, Inggris, dan Swiss melihat peluang untuk membuat kain bermotif batik menggunakan teknologi industri agar dapat diproduksi dalam jumlah besar dan dipasarkan kembali ke Jawa.

Namun, teknologi ternyata tidak serta-merta mampu menggantikan pengetahuan dan selera yang telah berkembang di tengah masyarakat Jawa.

Ketika Mesin Eropa Mencoba Meniru Batik Jawa

Salah satu eksperimen penting dilakukan di Belanda pada pertengahan abad ke-19.

Pada 1854, Jean Baptiste Théodore Prévinaire, direktur Haarlemsche Katoenmaatschappij, memodifikasi mesin cetak blok perrotine. Teknologi tersebut kemudian dikenal dengan nama La Javanaise.

Gagasan dasarnya adalah menghasilkan kain yang menyerupai batik dengan proses industri. Resin digunakan untuk membuat bagian tertentu pada kain terlindungi dari pewarna, menyerupai prinsip resist dyeing yang menjadi dasar proses membatik.

Teknik serupa juga dikembangkan oleh perusahaan Pieter Fentener van Vlissingen di Helmond. Perusahaan yang berdiri pada 1846 tersebut kemudian berkembang menjadi Vlisco, salah satu nama yang sangat dikenal dalam industri kain wax print.

Penggunaan rol tembaga berukir memungkinkan pola dipindahkan ke kain secara jauh lebih cepat dibandingkan proses batik tulis.

Masalah muncul ketika kain memasuki proses pewarnaan.

Resin yang digunakan untuk menggantikan fungsi malam dapat mengeras dan mengalami retakan. Pewarna kemudian masuk melalui celah-celah tersebut dan menghasilkan pola garis halus menyerupai retakan.

Dalam konteks industri Eropa, persoalan itu menjadi masalah teknis. Namun, dalam pasar Jawa, efek tersebut justru tidak sesuai dengan standar estetika batik yang telah dikenal masyarakat.

Batik bukan sekadar kain bermotif. Proses pembuatan, bahan yang digunakan, ketepatan pola, kualitas pewarnaan, hingga karakter permukaan kain merupakan bagian dari nilai yang melekat pada batik.

Pada periode yang sama, perajin Jawa juga telah mengembangkan teknik batik cap menggunakan canting cap dari tembaga. Teknik tersebut memungkinkan produksi lebih cepat tanpa harus meninggalkan penggunaan malam sebagai bagian penting dari proses membatik.

Artinya, produsen Eropa bukan berhadapan dengan pasar yang belum mengenal produksi tekstil bermotif. Mereka justru mencoba memasuki pasar dengan produk yang harus bersaing dengan tradisi dan teknologi lokal yang sudah matang.

Dari Jawa, Kain Menyeberangi Jalur Perdagangan

Kegagalan relatif di pasar Jawa tidak membuat eksperimen tekstil tersebut berhenti.

Jaringan perdagangan kolonial kemudian membuka pasar lain. Kain-kain produksi Eropa mulai bergerak menuju Afrika Barat, kawasan yang sejak berabad-abad sebelumnya telah terhubung dengan perdagangan tekstil internasional.

Pada akhir abad ke-19, kain produksi Belanda semakin dikenal di wilayah yang kini mencakup Ghana, Togo, Benin, dan Nigeria.

Di sinilah terjadi perubahan penting.

Kain yang sebelumnya dirancang untuk meniru batik Jawa tidak lagi semata-mata dinilai berdasarkan standar pasar Jawa. Konsumen Afrika Barat memberikan interpretasi dan nilai mereka sendiri terhadap kain tersebut.

Efek retakan pada kain, misalnya, tidak selalu dipandang sebagai kegagalan. Perbedaan cara melihat kualitas tersebut menunjukkan bahwa nilai sebuah produk sangat bergantung pada konteks sosial dan budaya tempat produk itu digunakan.

Warna, motif, ketahanan kain, serta tampilannya ketika dikenakan menjadi bagian dari pertimbangan konsumen.

Kain juga memiliki fungsi sosial. Ia dapat digunakan sebagai pakaian, hadiah, penanda status, hingga medium untuk menyampaikan pesan melalui pilihan motif.

Perubahan makna tersebut kemudian membuat produsen Eropa menyesuaikan produk mereka dengan pasar Afrika Barat.

Motif Batik Jawa Mendapat Nama dan Makna Baru

Salah satu aspek menarik dari perjalanan kain ini adalah bagaimana motif yang awalnya dibuat dengan referensi tertentu kemudian memperoleh kehidupan baru di Afrika Barat.

Produsen memberikan nomor katalog untuk desain yang mereka buat. Namun, di pasar, para pedagang dan konsumenlah yang kemudian memberi nama serta makna terhadap motif tersebut.

Sebuah motif dapat memperoleh nama berdasarkan bentuk visual, pengalaman sosial, hubungan keluarga, status ekonomi, hingga peristiwa tertentu.

Motif bergambar mata, misalnya, dikenal dengan nama Prancis L’Œil de ma rivale, yang berarti “mata saingan saya”. Nama tersebut menggambarkan bagaimana kain dapat menjadi medium komunikasi sosial tanpa harus disampaikan secara verbal.

Contoh lain adalah motif yang menyerupai sayap burung yang di Ghana dikenal sebagai Sika Wo Antaban, yang berarti “uang punya sayap”. Maknanya menjadi pengingat mengenai sifat kekayaan yang dapat datang dan pergi.

Baca Juga :  Tak Tinggi Tapi Memikat, Air Terjun Tirto Galuh Jadi Favorit Wisata Alam di Blitar

Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan kain tidak berhenti ketika keluar dari pabrik. Makna justru terus dibentuk oleh orang-orang yang memperdagangkan, membeli, mengenakan, dan mewariskannya.

Peran Penting Pedagang Perempuan Afrika Barat

Perkembangan kain wax print di Afrika Barat juga tidak dapat dilepaskan dari jaringan pedagang perempuan.

Di Lomé, Togo, kelompok saudagar kain perempuan yang kemudian populer dengan sebutan Nana Benz menjadi kekuatan penting dalam distribusi dan perdagangan kain sejak pertengahan abad ke-20.

Mereka bukan sekadar pengecer. Para pedagang ini membangun jaringan perdagangan, berhubungan dengan produsen di Eropa, dan dalam sejumlah kasus turut memengaruhi pilihan desain, warna, serta pola yang dipasarkan.

Keberhasilan sebagian pedagang kemudian tercermin dari kemakmuran mereka. Sebutan Nana Benz sendiri berkaitan dengan kemampuan sejumlah pedagang membeli mobil Mercedes-Benz.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kain telah berkembang jauh melampaui fungsi dasarnya sebagai produk tekstil. Ia menjadi bagian dari ekonomi, simbol status, sekaligus bahasa sosial.

Bukan Sekadar Produk Belanda atau Jawa

Sejarah African wax print juga menghasilkan sebuah paradoks budaya.

Kain yang kini identik dengan Afrika Barat memiliki sejarah produksi yang kuat di Eropa dan salah satu sumber inspirasinya berasal dari batik Jawa.

Karena itu, muncul pertanyaan mengenai siapa yang sebenarnya memiliki kain tersebut secara budaya.

Namun, sejarah kebudayaan tidak selalu dapat dijelaskan hanya berdasarkan tempat asal bahan atau teknologi pembuatannya.

Selama lebih dari satu abad, masyarakat Afrika Barat telah mengenakan, memperdagangkan, memberi nama, menciptakan makna, dan memasukkan kain tersebut ke dalam kehidupan sosial mereka.

Dalam proses itu, kain mengalami apa yang dapat disebut sebagai “Afrikanisasi” secara budaya. Identitasnya terbentuk bukan hanya dari tempat kain diproduksi, tetapi juga dari bagaimana masyarakat menggunakannya dan memberikan makna.

Pandangan semacam ini antara lain terlihat dalam kajian antropologis Nina Sylvanus yang menempatkan proses sosial dan ekonomi di Afrika Barat sebagai bagian penting dari pembentukan identitas kain tersebut.

Muncul sebagai Simbol Identitas Pasca-Kemerdekaan

Setelah negara-negara Afrika Barat meraih kemerdekaan, kain wax print semakin mendapatkan tempat dalam pembentukan identitas nasional dan Pan-Afrika.

Ghana dan Pantai Gading kemudian mengembangkan industri tekstil domestik, antara lain melalui Ghana Textile Printing (GTP) di Tema dan Uniwax di Abidjan.

Di sisi lain, produsen Eropa seperti Vlisco tetap mempertahankan pasar Afrika Barat dengan mengembangkan desain dan koleksi yang menyesuaikan selera konsumen.

Namun, industri tersebut menghadapi perubahan besar ketika kain produksi Asia, khususnya dari China, memasuki pasar dengan harga yang lebih murah.

Jaringan perdagangan tradisional pun mengalami tekanan. Kebakaran Grand Marché di Lomé pada 2013 menjadi salah satu peristiwa yang turut memukul aktivitas perdagangan tekstil di kawasan tersebut.

Meski menghadapi persaingan, wax print tetap memiliki posisi kuat dalam budaya populer Afrika Barat.

Motif baru terus bermunculan dan mendapatkan nama lokal. Sebagian bahkan merujuk pada tokoh atau fenomena sosial kontemporer.

Di Pantai Gading dan Togo, misalnya, muncul motif yang dikenal sebagai Sac de Michelle Obama, merujuk pada gambar tas tangan dan diasosiasikan dengan citra perempuan terdidik serta mapan.

Dari Batik Jawa ke Karya Seni Kontemporer

Perjalanan panjang kain tersebut akhirnya menarik perhatian dunia seni.

Seniman Inggris-Nigeria Yinka Shonibare menggunakan kain wax print dalam sejumlah karyanya untuk mempertanyakan gagasan tentang identitas, kolonialisme, dan apa yang disebut sebagai “budaya asli”.

Pilihan material tersebut menjadi menarik karena kain yang secara visual telah sangat diasosiasikan dengan Afrika ternyata memiliki sejarah yang melibatkan Jawa, Eropa, perdagangan kolonial, dan jaringan ekonomi global.

Paradoks tersebut justru menjadi kekuatan artistiknya.

Sejarah kain wax print memperlihatkan bahwa budaya tidak selalu bergerak dalam garis lurus dari satu tempat ke tempat lain. Sebuah teknologi dapat berpindah, produk dapat gagal di pasar asal, lalu menemukan kehidupan baru di tempat lain.

Motif yang awalnya dibuat untuk meniru tradisi Jawa dapat diberi nama baru di Afrika Barat. Produk industri Eropa kemudian menjadi bagian dari identitas masyarakat yang menggunakannya.

Ketika Kegagalan Pasar Menjadi Warisan Budaya

Kisah batik tiruan Eropa pada akhirnya bukan hanya cerita mengenai kegagalan sebuah teknologi.

Ia adalah cerita tentang bagaimana pasar, kolonialisme, perdagangan internasional, dan kreativitas masyarakat membentuk perjalanan sebuah produk.

Di Jawa, kain hasil eksperimen tersebut menghadapi konsumen yang telah memiliki tradisi membatik dan standar estetika sendiri. Di Afrika Barat, kain tersebut memasuki lingkungan budaya yang memberikan tafsir berbeda.

Dari proses itulah lahir perjalanan panjang yang membuat African wax print tidak dapat dipahami hanya sebagai “batik buatan Belanda” atau sekadar produk tekstil Eropa.

Lebih dari 150 tahun kemudian, kain tersebut telah memiliki kehidupan sosial dan budaya sendiri di Afrika Barat.

Kisah ini sekaligus menunjukkan satu hal penting dalam sejarah perdagangan dunia: sebuah produk mungkin dapat dibuat di satu tempat, terinspirasi dari budaya lain, tetapi makna akhirnya ditentukan oleh masyarakat yang menggunakannya. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait