Piala Dunia 2026 Dikecam: Tiket Mahal dan Minim Akses, Penyandang Disabilitas Merasa Tersisih

Bagikan

Piala Dunia 2026 Dikecam: Tiket Mahal dan Minim Akses, Penyandang Disabilitas Merasa Tersisih
Piala Dunia 2026. (Foto: Istimewa)

Jakarta, Nusantara Info: Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menuai sorotan tajam. Selain harga tiket yang melambung tinggi, kebijakan penyelenggara dinilai semakin mempersulit akses bagi penyandang disabilitas, memicu kritik dari penggemar hingga kelompok advokasi internasional.

Sejumlah penggemar sepak bola penyandang disabilitas mengaku menghadapi hambatan serius untuk menghadiri turnamen empat tahunan tersebut. Tidak seperti edisi sebelumnya, Piala Dunia 2026 disebut tidak menyediakan skema tiket khusus yang memprioritaskan penyandang disabilitas.

Jo McNicol, penggemar Timnas Inggris yang menggunakan kursi roda, mengungkapkan kekecewaannya terhadap sistem tiket FIFA. Ia awalnya optimistis karena penyelenggaraan di Amerika Utara dikenal memiliki infrastruktur yang relatif aksesibel.

“Awalnya saya sangat antusias. Saya tahu transportasi, hotel, dan fasilitas di sana cukup ramah disabilitas. Tapi persoalan sistem tiket benar-benar membuat mustahil untuk mendapatkannya,” ujar McNicol.

Ia juga menyoroti tidak adanya pembatasan pembelian tiket aksesibel. Menurutnya, siapa pun kini bisa membeli tiket tersebut tanpa perlu menunjukkan bukti kebutuhan khusus, berbeda dengan praktik yang lazim di Eropa.

Kondisi ini kontras dengan Piala Dunia 2022 di Qatar yang dinilai memiliki standar aksesibilitas tinggi. Saat itu, penyandang disabilitas mendapatkan alokasi tiket khusus dengan harga terjangkau, serta harus melalui verifikasi kebutuhan.

Namun pada 2026, kritik terhadap FIFA semakin menguat. Organisasi sepak bola dunia itu dituding terlalu berorientasi pada keuntungan. Harga tiket melonjak drastis, bahkan untuk kategori tertentu mengalami kenaikan tanpa pemberitahuan yang jelas.

Laporan BBC menyebutkan, tiket kategori 3 untuk laga pembuka Inggris kini mencapai 898 dolar AS (sekitar Rp15 juta), naik signifikan dari harga awal 265 dolar AS (sekitar Rp4,5 juta). Sementara itu, tiket kategori termurah tidak tersedia bagi penyandang disabilitas karena lokasi tempat duduk yang dinilai tidak aksesibel.

James Flanagan dari Football Supporters Europe (FSE) menyebut kebijakan FIFA sebagai kemunduran besar dalam hal inklusivitas.

Baca Juga :  Real Madrid Menang Tipis Atas Athletic Club di La Liga Spanyol

“Di Qatar, tiket untuk penyandang disabilitas bisa didapat sekitar 10 dolar AS. Sekarang kebijakan ini justru menghapus akses mereka untuk menikmati turnamen,” katanya.

Masalah tidak berhenti pada harga tiket. Kebijakan baru FIFA juga mengharuskan pendamping membayar tiket sendiri, yang sebelumnya kerap diberikan secara gratis. Bagi banyak penyandang disabilitas, kehadiran pendamping bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendasar.

“Mengenakan biaya untuk tiket pendamping berarti biaya yang harus dikeluarkan menjadi dua kali lipat,” ujar Flanagan.

Lebih jauh, FIFA juga tidak menjamin bahwa pendamping akan duduk berdampingan dengan penyandang disabilitas. Dalam kebijakan resminya, FIFA hanya menyebutkan bahwa pendamping akan ditempatkan “sedekat mungkin”, tanpa kepastian kursi bersebelahan.

Bagi McNicol, hal ini sangat bermasalah.

“Saya membutuhkan pendamping. Jika saya menjatuhkan sesuatu atau ingin ke toilet, saya butuh bantuan. Secara manusiawi juga, kita ingin duduk bersama orang yang dikenal,” ujarnya.

Persoalan lain muncul dari biaya parkir aksesibel yang dinilai sangat mahal. Meskipun FIFA menyatakan akan menyediakan fasilitas parkir khusus di dekat stadion, tidak ada ketentuan terkait subsidi atau pembebasan biaya.

Flanagan menyebut biaya parkir bisa mencapai 150 hingga 300 dolar AS (sekitar Rp2,5 juta hingga Rp5 juta), tergantung lokasi pertandingan.

“Penggemar diminta mengeluarkan biaya besar, tidak hanya untuk tiket, tetapi juga untuk parkir aksesibel. Ini beban yang tidak masuk akal,” tegasnya.

Hingga kini, FIFA belum memberikan tanggapan resmi terhadap kritik yang dilayangkan oleh berbagai pihak. Para aktivis menilai minimnya komunikasi dan konsultasi dengan komunitas disabilitas menjadi bukti bahwa suara mereka belum benar-benar didengar.

Dengan waktu yang semakin dekat menuju kick-off Piala Dunia 2026, tekanan terhadap FIFA untuk memperbaiki kebijakan terus meningkat. Bagi banyak penyandang disabilitas, isu ini bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan hak untuk menikmati ajang olahraga terbesar dunia secara setara. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait