
JAKARTA, NUSANTARA INFO: Pemerintah Singapura mulai memberikan subsidi pengobatan bagi warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat kabut asap pada Senin (12/10/2026). Kebijakan ini berlaku di Klinik Kesiapsiagaan Kesehatan Masyarakat (Public Health Preparedness Clinics/PHPC) yang berpartisipasi dan poliklinik pemerintah, seiring memburuknya kualitas udara di negara tersebut.
Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung mengatakan, skema subsidi tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat memperoleh perawatan penyakit terkait kabut asap melalui layanan kesehatan primer.
Dikutip dari CNA, Senin (12/10/2026), kebijakan ini kembali diaktifkan setelah sebelumnya diperkenalkan pada 2013 dan terakhir digunakan pada 2015, ketika Singapura terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.
Melalui skema tersebut, pemerintah Singapura menanggung sebagian biaya pengobatan bagi warga yang memenuhi persyaratan. Besaran subsidi dan kelompok penerima berbeda, bergantung pada fasilitas kesehatan yang dikunjungi serta status kelayakan pasien.
Siapa yang Berhak Mendapatkan Subsidi Pengobatan?
Subsidi untuk perawatan di poliklinik pemerintah tersedia bagi seluruh warga negara Singapura. Sementara itu, subsidi di PHPC diberikan dengan persyaratan tertentu, termasuk berdasarkan usia dan kategori penerima manfaat.
Anak-anak berusia 18 tahun ke bawah dan warga lanjut usia berusia minimal 65 tahun termasuk kelompok yang memenuhi syarat untuk mendapatkan perawatan bersubsidi di PHPC. Mereka yang memenuhi ketentuan tersebut tidak akan membayar lebih dari 10 dolar Singapura atau sekitar Rp140.000 untuk perawatan yang tercakup dalam skema.
Batas pembayaran yang sama juga berlaku bagi pemegang kartu biru dan oranye dalam Community Health Assist Scheme (CHAS), serta pemegang Medical Fee Exemption Card, sesuai ketentuan program.
Sementara itu, dikutip dari The Straits Times, Minggu (11/10/2026), warga lanjut usia yang termasuk dalam Pioneer Generation dan Merdeka Generation akan membayar maksimal 5 dolar Singapura atau sekitar Rp70.000 untuk perawatan yang memenuhi syarat.
Pemegang kartu Public Assistance memperoleh perawatan bersubsidi penuh, baik di PHPC yang berpartisipasi maupun di poliklinik pemerintah.
Dengan skema ini, biaya yang melebihi batas pembayaran pasien yang memenuhi persyaratan akan ditanggung pemerintah Singapura sesuai ketentuan subsidi. Namun, ketentuan tersebut tidak berarti seluruh layanan medis atau semua jenis obat di luar cakupan program otomatis mendapatkan subsidi yang sama.
Tujuh Kondisi Kesehatan yang Ditanggung
Subsidi pengobatan kabut asap mencakup sejumlah penyakit dan gangguan kesehatan yang dapat berkaitan dengan paparan asap serta iritasi saluran pernapasan.
Kondisi medis yang tercakup meliputi:
- Rinitis alergi atau peradangan pada lapisan dalam hidung yang dapat menimbulkan bersin, hidung berair, dan gatal.
- Asma, yaitu gangguan pernapasan yang dapat menyebabkan sesak napas, batuk, dan mengi.
- Bronkitis atau peradangan pada saluran bronkus.
- Konjungtivitis, yakni peradangan pada selaput yang melapisi bagian depan mata dan permukaan dalam kelopak mata.
- Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), yang dapat menyebabkan hambatan aliran udara dan kesulitan bernapas.
- Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).
- Komplikasi yang berkaitan dengan kondisi-kondisi tersebut.
Paparan kabut asap dapat memperburuk gejala pada orang yang memiliki penyakit pernapasan sebelumnya. Partikel halus dalam asap juga dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan, terutama ketika konsentrasi polusi udara meningkat.
Meski demikian, tidak semua keluhan kesehatan saat kabut asap terjadi otomatis disebabkan oleh paparan asap. Pemeriksaan tenaga medis diperlukan untuk menentukan diagnosis dan penanganan yang sesuai.
Obat-obatan yang diberikan melalui skema subsidi akan diresepkan sesuai kebutuhan selama periode perawatan. Artinya, pemberian obat tetap mengikuti penilaian medis dan tidak dimaksudkan sebagai persediaan tanpa batas.
Kualitas Udara Memburuk, Kunjungan ke Unit Gawat Darurat Meningkat
Menteri Kesehatan Ong Ye Kung mengatakan, otoritas kesehatan Singapura telah memantau peningkatan jumlah pasien yang mendatangi unit gawat darurat karena masalah pernapasan.
Menurut Ong, peningkatan tersebut kemungkinan tidak hanya berkaitan dengan kabut asap. Musim kabut asap tahun ini juga bertepatan dengan periode meningkatnya kasus Influenza A, sehingga kedua kondisi tersebut dapat memperberat persoalan kesehatan masyarakat.
“Saya rasa hal ini bukan hanya disebabkan oleh kabut asap, melainkan juga karena musim kabut asap tahun ini bertepatan dengan musim Influenza A (dan) saling memperberat satu sama lain,” kata Ong, sebagaimana dikutip dalam laporan yang menjadi sumber berita.
Ia mengimbau masyarakat agar memilih fasilitas kesehatan sesuai tingkat keparahan gejala. Warga yang mengalami keluhan pernapasan dan tidak berada dalam kondisi darurat dapat mendatangi dokter keluarga atau klinik untuk memperoleh pemeriksaan dan pengobatan.
“Pergilah ke klinik – dokter keluarga Anda dapat merawat Anda,” ujarnya.
Ong juga mengingatkan agar unit gawat darurat diprioritaskan bagi pasien dengan kondisi yang sangat mendesak dan serius.
“Biarkan fasilitas unit gawat darurat diperuntukkan bagi mereka yang memiliki kondisi yang sangat mendesak dan sangat serius,” katanya.
Meski demikian, pasien yang mengalami sesak napas berat, nyeri dada, penurunan kesadaran, atau gejala darurat lainnya tetap perlu segera mencari pertolongan medis. Imbauan untuk mengunjungi klinik tidak berlaku bagi pasien yang membutuhkan penanganan darurat.
Cara Menemukan Klinik yang Memberikan Subsidi
Masyarakat Singapura dapat memeriksa daftar PHPC yang berpartisipasi melalui situs resmi Kementerian Kesehatan Singapura. Klinik yang mengikuti program juga dapat dikenali melalui stiker, stempel, atau poster penanda di lokasi.
Sebelum berobat, warga sebaiknya memastikan klinik yang dituju mengikuti program subsidi serta memeriksa persyaratan yang berlaku bagi kategori pasien masing-masing. Informasi mengenai jenis perawatan yang ditanggung dan biaya yang harus dibayar juga perlu dikonfirmasi kepada fasilitas kesehatan.
Pengaktifan kembali skema subsidi ini menjadi langkah pemerintah Singapura untuk membantu warga mendapatkan perawatan lebih mudah ketika kabut asap memicu atau memperburuk gangguan kesehatan.
Di tengah memburuknya kualitas udara dan kemungkinan meningkatnya keluhan pernapasan, masyarakat diimbau mengurangi paparan asap, mengikuti informasi kualitas udara resmi, dan mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala yang mengkhawatirkan. (*)






