Netanyahu Sesumbar Menang, Israel Justru Diserang dari Tiga Arah

Bagikan

Netanyahu Sesumbar Menang, Israel Justru Diserang dari Tiga Arah
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terus mengeklaim negaranya berada di atas angin. (Foto: Istimewa)

Jakarta, Nusantara Info: Konflik antara Israel dan Iran kian memanas setelah memasuki satu bulan terakhir, dengan dinamika di lapangan menunjukkan tekanan yang semakin kompleks bagi Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terus mengeklaim negaranya berada di atas angin, namun klaim tersebut mulai dipertanyakan oleh kalangan oposisi di dalam negeri.

Netanyahu bahkan menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran akan terus berlanjut, termasuk dengan dukungan Amerika Serikat. Pernyataan ini menandai eskalasi yang semakin terbuka dalam konflik yang kini tidak hanya terbatas pada satu wilayah, melainkan telah meluas ke berbagai front.

Namun demikian, laporan sejumlah media internasional, termasuk Al Jazeera, menunjukkan adanya perbedaan antara klaim pemerintah dan realitas di lapangan. Tokoh-tokoh oposisi Israel menilai Netanyahu tidak memiliki strategi keluar yang jelas dari konflik berkepanjangan ini.

Mereka juga menuduh sang perdana menteri kerap melebih-lebihkan capaian militer Israel, sementara situasi keamanan justru menunjukkan tekanan yang meningkat.

Dalam beberapa pekan terakhir, Israel menghadapi serangan beruntun dari berbagai arah. Iran secara langsung meluncurkan drone dan rudal balistik ke wilayah Israel, sementara sekutunya seperti Hizbullah di Lebanon terus menembakkan roket dari perbatasan utara.

Tekanan semakin meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman—yang juga bersekutu dengan Iran—mulai terlibat dalam serangan, membuka front baru bagi Israel. Kondisi ini membuat sistem pertahanan udara Israel bekerja di bawah tekanan tinggi.

“Israel mulai melakukan rasionalisasi penggunaan sistem pertahanan udaranya karena tekanan yang berlebihan, harus menghadapi ancaman rudal dan serangan dari berbagai arah sekaligus,” demikian laporan Al Jazeera.

Pada Sabtu (28/3/2026) malam, militer Israel mengumumkan telah mencegat sebuah drone di atas kota pelabuhan Eilat. Drone tersebut diduga berasal dari Yaman, menambah daftar ancaman lintas wilayah yang harus dihadapi Israel.

Baca Juga :  Alasan Keamanan, Israel Larang Umat Islam Salat Id di Masjid Al Aqsa

Meski demikian, ancaman paling signifikan tetap berasal dari Iran, khususnya melalui serangan rudal balistik yang terus diluncurkan secara berkala. Dalam satu jam terakhir, sirene peringatan kembali berbunyi di wilayah selatan Israel, termasuk kawasan Negev, menyusul potensi serangan baru.

Salah satu serangan paling serius terjadi pada hari yang sama ketika rudal Iran menghantam kota Beit Shemesh di Israel bagian tengah. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan signifikan dan melukai sedikitnya 11 orang.

Di sisi lain, pertempuran paling intens berlangsung di wilayah utara Israel, terutama di sepanjang perbatasan dengan Lebanon. Militer Israel terus melakukan operasi darat ke Lebanon selatan dalam upaya membentuk zona penyangga, sembari menghadapi perlawanan dari Hizbullah.

Upaya ini bertujuan untuk mendorong kelompok tersebut menjauh dari perbatasan Israel, namun justru meningkatkan risiko konflik yang lebih luas di kawasan.

Situasi ini menggambarkan kompleksitas konflik yang kini dihadapi Israel. Dengan ancaman datang dari Iran secara langsung serta dari sekutu-sekutunya di Lebanon dan Yaman, Israel berada dalam tekanan multi-front yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Di tengah kondisi tersebut, kritik terhadap kepemimpinan Netanyahu diperkirakan akan terus menguat, terutama jika tidak ada strategi yang jelas untuk mengakhiri konflik.

Perang yang awalnya dipandang sebagai operasi militer terbatas kini berkembang menjadi konfrontasi regional yang berpotensi berkepanjangan, dengan dampak yang semakin luas terhadap stabilitas Timur Tengah. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait