
Jakarta, Nusantara Info: Krisis geopolitik di Selat Hormuz memicu guncangan besar pada pasar energi global. Gangguan distribusi minyak dalam skala masif diperkirakan telah menyebabkan kerugian ekonomi dunia hingga 50 miliar euro atau setara sekitar Rp1.000 triliun.
Berdasarkan laporan penyedia analitik komoditas Kpler, dalam waktu kurang dari dua bulan, pasar global kehilangan lebih dari 500 juta barel minyak akibat terhentinya jalur distribusi utama energi dunia tersebut.
“Ekonomi dunia kehilangan pasokan minyak senilai lebih dari 50 miliar euro,” tulis laporan Kpler yang dikutip dari kantor berita Rusia RIA Novosti, Jumat (24/4/2026).
Dari Surplus ke Krisis Terbesar
Situasi ini berbalik tajam dari proyeksi sebelumnya. Badan Energi Internasional (IEA) sempat memperkirakan pasar minyak global akan mengalami surplus pasokan sepanjang 2026. Namun, blokade di Selat Hormuz justru mengubah kondisi menjadi defisit pasokan terbesar dalam sejarah modern.
Selat Hormuz selama ini merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan 35 persen distribusi gas global. Ketika jalur ini terganggu, efek domino langsung terasa di seluruh rantai pasok energi.
Volume transit minyak yang biasanya mencapai sekitar 20 juta barel per hari kini anjlok drastis menjadi hanya sekitar 500 ribu barel per hari. Dampaknya, cadangan minyak global turut menyusut hingga sekitar 45 juta barel.
Produksi Negara Teluk Anjlok
Negara-negara produsen di kawasan Teluk menjadi pihak yang paling terpukul. Kpler mencatat produksi minyak negara-negara Arab pada Maret turun hingga 8 juta barel per hari akibat hambatan distribusi dan kerusakan infrastruktur energi.
Penurunan paling tajam terjadi di Qatar. Produksi minyak dan kondensat negara tersebut anjlok hampir 80 persen menjadi hanya 370 ribu barel per hari. Bahkan, perusahaan energi nasional QatarEnergy terpaksa menghentikan produksi gas alam cair (LNG) dan menyatakan force majeure atas kontrak jangka panjangnya.
Irak juga memangkas produksi hingga dua pertiga, sementara Kuwait dan Uni Emirat Arab mengurangi sekitar setengah kapasitas produksinya. Arab Saudi pun mencatat penurunan produksi sebesar 23 persen.
Asia Paling Terdampak, Beralih ke Rusia
Krisis ini memberikan tekanan besar bagi negara-negara Asia yang selama ini menjadi tujuan utama ekspor energi dari kawasan Teluk. Sebelum krisis, sekitar 84 persen minyak mentah dan 83 persen LNG dari Selat Hormuz dikirim ke Asia.
Untuk menutup kekurangan pasokan, sejumlah negara mulai mencari alternatif. India, misalnya, meningkatkan impor minyak dari Rusia hingga hampir dua kali lipat menjadi mendekati 2 juta barel per hari pada Maret.
Korea Selatan dan Filipina juga mulai menerima pasokan tambahan, sementara negara seperti Thailand, Indonesia, Vietnam, dan Sri Lanka mengandalkan cadangan strategis serta menjajaki kontrak baru.
Eropa Hadapi Lonjakan Harga Energi
Di Eropa, krisis ini mendorong lonjakan tajam harga energi. Harga gas melonjak lebih dari US$600 per 1.000 meter kubik pada Maret, atau meningkat sekitar 50 persen.
Uni Eropa merespons dengan meningkatkan impor LNG, termasuk dari Rusia, yang mencapai 5 juta ton atau naik 17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Komisi Eropa memperkirakan tambahan biaya energi akibat krisis ini mencapai 24 miliar euro, atau sekitar 500 juta euro per hari.
Rusia dan Iran Petik Keuntungan
Di tengah tekanan global, Rusia justru mencatat lonjakan pendapatan dari sektor energi. Pendapatan ekspor minyak negara tersebut mencapai US$19,04 miliar pada Maret, meningkat signifikan dibandingkan bulan sebelumnya maupun tahun lalu.
Sementara itu, Iran mulai memanfaatkan posisinya di Selat Hormuz. Wakil Ketua Parlemen Iran Hamidreza Hajibabaei menyatakan bahwa pendapatan dari tarif transit kapal yang melintas di selat tersebut telah mulai masuk ke kas negara.
“Iran menganggap Selat Hormuz sebagai miliknya, dan semua kapal yang melintas harus membayar biaya transit dalam mata uang rial,” ujarnya, dikutip dari Tasnim News, Kamis (23/4/2026).
Ia menegaskan, penguasaan jalur strategis ini memberikan Iran pengaruh besar terhadap ekonomi global. Selain itu, Garda Revolusi Iran juga mengklaim telah menyita dua kapal yang dianggap melanggar aturan pelayaran, dan tidak menutup kemungkinan tindakan serupa akan kembali dilakukan.
Dengan posisi Selat Hormuz sebagai jalur vital energi dunia, gangguan yang terjadi saat ini belum menunjukkan tanda mereda. Ketidakpastian geopolitik berpotensi terus menekan pasokan, mendorong kenaikan harga, dan memperbesar risiko perlambatan ekonomi global.
Krisis ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan dunia terhadap jalur energi strategis masih sangat tinggi—dan rentan terhadap gejolak geopolitik. (*)





