Sumber Air Menyusut, BNPB Ungkap Kendala Pemadaman Karhutla di Enam Provinsi

Bagikan

Sumber Air Menyusut, BNPB Ungkap Kendala Pemadaman Karhutla di Enam Provinsi
Petugas melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kepungan asap di kawasan hutan. Kondisi medan dan tebalnya asap menjadi tantangan dalam upaya penanganan karhutla. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, NUSANTARA INFO: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap sejumlah kendala yang dihadapi petugas dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi prioritas. Menyusutnya sumber air hingga angin kencang di sekitar titik kebakaran menjadi tantangan yang dapat menghambat operasi pemadaman, baik melalui jalur darat maupun udara.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan kondisi di lapangan semakin menantang karena sejumlah sumber air yang menjadi penunjang operasi pemadaman mulai menyusut dan jaraknya semakin jauh dari titik api.

“Kendala di lapangan untuk operasi darat tidak ada akses jalan menuju titik api sehingga medan sulit ditembus. Sumber-sumber air mulai surut dan semakin jauh dari titik api,” kata Berton dalam keterangannya, Minggu (23/8/2026).

Persoalan tersebut tidak hanya berdampak pada operasi pemadaman dari darat. Penyusutan sumber air juga mulai memengaruhi operasi udara menggunakan helikopter water bombing.

Sumber Air untuk Water Bombing Ikut Menyusut

Dalam operasi water bombing, helikopter membutuhkan sumber air yang memadai untuk mengisi bucket sebelum menjatuhkan air ke area yang terbakar.

Namun, BNPB menyebut sumber air yang digunakan untuk pengisian bucket tersebut mulai menyusut. Jarak antara sumber air dan titik kebakaran juga semakin jauh.

“Untuk operasi udara, sumber air untuk pengambilan air dari bucket water bombing mulai surut dan semakin jauh dari fire spot,” ujar Berton.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan waktu yang dibutuhkan dalam satu siklus penerbangan water bombing. Helikopter harus menempuh jarak lebih jauh untuk mengambil air sebelum kembali menuju lokasi kebakaran.

Efektivitas operasi udara pun sangat bergantung pada kondisi di lapangan, termasuk ketersediaan sumber air, jarak menuju titik api, kondisi cuaca, serta keamanan penerbangan.

Angin Kencang Hambat Manuver Helikopter

Selain keterbatasan sumber air, faktor cuaca juga menjadi tantangan bagi operasi pemadaman karhutla.

BNPB mencatat angin kencang di sekitar titik kebakaran menyulitkan pilot helikopter melakukan manuver ketika menjalankan operasi water bombing. Kondisi jarak pandang yang terbatas turut menjadi faktor yang harus diperhitungkan dalam operasi udara.

“Angin di sekitar fire spot bertiup kencang sehingga menyulitkan untuk manuver helikopter. Kondisi jarak pandang yang terbatas,” terang Berton.

Situasi tersebut membuat operasi pemadaman dari udara membutuhkan pertimbangan keselamatan yang ketat. Helikopter tidak dapat beroperasi secara optimal apabila kondisi meteorologis tidak memungkinkan untuk melakukan manuver secara aman.

Karena itu, operasi water bombing dilakukan sebagai bagian dari strategi penanganan yang terintegrasi dengan operasi darat, bukan sebagai satu-satunya metode pemadaman.

Enam Provinsi Jadi Prioritas Penanganan

BNPB saat ini mengoptimalkan operasi penanganan karhutla di enam provinsi prioritas. Wilayah tersebut meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.

Penanganan dilakukan melalui Satgas Darat dan Satgas Udara. Sejumlah kegiatan dilaksanakan secara terpadu, mulai dari patroli udara, pemadaman melalui water bombing hingga operasi modifikasi cuaca (OMC), dengan mempertimbangkan kondisi meteorologis dan kebutuhan di lapangan.

Berton menegaskan bahwa operasi water bombing memiliki posisi sebagai pendukung dalam keseluruhan strategi pemadaman.

Baca Juga :  Tito Karnavian Akui Pemulihan Bencana di Sumatra Tak Mungkin Rampung dalam Setahun

“Heli water bombing bukan merupakan operasi utama, hanya merupakan pendukung operasi darat,” ujarnya.

Penegasan tersebut menunjukkan bahwa pengendalian karhutla tetap membutuhkan penanganan langsung di lokasi kebakaran. Operasi darat menjadi bagian penting untuk mencari dan memadamkan sumber api, terutama pada wilayah yang tidak dapat dijangkau secara efektif hanya dengan operasi udara.

Sementara itu, dukungan udara digunakan untuk membantu mempercepat penanganan di lokasi yang membutuhkan tambahan kapasitas pemadaman.

BNPB Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca

Selain patroli dan pemadaman, BNPB juga menyiagakan armada operasi modifikasi cuaca beserta stok bahan semai di setiap wilayah prioritas.

OMC tidak dilakukan secara otomatis setiap saat. Operasi tersebut akan dilaksanakan apabila terdapat informasi mengenai ketersediaan awan hujan yang memungkinkan untuk dilakukan intervensi berdasarkan kondisi meteorologis.

Dengan demikian, pelaksanaan OMC sangat bergantung pada perkembangan cuaca dan keberadaan awan yang memenuhi kondisi untuk operasi.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memanfaatkan berbagai metode dalam mengendalikan karhutla, terutama ketika kondisi di lapangan membuat pemadaman konvensional menghadapi kendala.

Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan

Di tengah upaya pemerintah memperkuat operasi penanganan, BNPB juga mengingatkan masyarakat agar turut mencegah muncul dan meluasnya karhutla.

Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar. Warga juga diimbau tidak membakar sampah sembarangan dan memastikan puntung rokok benar-benar padam sebelum dibuang.

Pencegahan menjadi penting karena pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada kemampuan petugas memadamkan api setelah kebakaran terjadi. Upaya mengurangi sumber api sejak awal juga diperlukan untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih luas.

BNPB juga mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kondisi asap karhutla memburuk.

Bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker dianjurkan untuk mengantisipasi dampak paparan asap.

Pemadaman Karhutla Hadapi Tantangan Berlapis

Kondisi yang diungkap BNPB memperlihatkan bahwa penanganan karhutla di enam provinsi prioritas menghadapi tantangan yang saling berkaitan. Akses menuju titik api yang sulit, sumber air yang menyusut, jarak sumber air yang semakin jauh, angin kencang, serta jarak pandang terbatas menjadi faktor yang dapat memengaruhi efektivitas operasi.

Di sisi lain, operasi pemadaman tetap harus memperhitungkan keselamatan personel dan penerbang. Karena itu, kombinasi operasi darat, patroli udara, water bombing, dan OMC dilakukan sesuai kondisi masing-masing wilayah.

Keberhasilan pengendalian karhutla pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh banyaknya armada dan personel yang dikerahkan. Pencegahan kebakaran, respons cepat ketika api muncul, ketersediaan sumber air, akses menuju lokasi, serta koordinasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi faktor penting untuk mencegah api meluas.

BNPB mengajak masyarakat ikut menjadi bagian dari upaya pencegahan dengan tidak melakukan pembakaran yang berpotensi memicu karhutla serta tetap memperhatikan kesehatan ketika kualitas udara terdampak asap.

Masyarakat juga diharapkan mengikuti informasi resmi pemerintah terkait perkembangan karhutla dan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait