
NTT, NUSANTARA INFO: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah menjadi 72 orang. Data tersebut merupakan pembaruan Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan (Pusdatinkom) BNPB per Kamis (20/8/2026) pukul 09.00 WIB.
Selain korban meninggal dunia, BNPB mencatat 900 orang mengalami luka-luka dan sebanyak 82.691 orang mengungsi akibat bencana tersebut.
Pusdatinkom BNPB juga mencatat sebanyak 18.019 kepala keluarga (KK) terdampak. Angka tersebut menunjukkan luasnya dampak gempa terhadap masyarakat di sejumlah wilayah NTT.
“72 orang meninggal dunia,” demikian keterangan dalam data Pusdatinkom BNPB yang diperbarui Kamis (20/8/2026).
Puluhan Ribu Rumah Rusak
Dampak gempa tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menyebabkan kerusakan besar pada rumah warga dan berbagai fasilitas publik.
BNPB mencatat total 29.001 rumah mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 11.699 rumah rusak berat, 6.542 rumah rusak sedang, dan 10.760 rumah rusak ringan.
Kerusakan tersebut menjadi salah satu tantangan utama dalam penanganan pascabencana, terutama untuk memastikan masyarakat yang kehilangan atau tidak dapat menempati rumahnya tetap memperoleh tempat tinggal, makanan, layanan kesehatan, serta kebutuhan dasar lainnya.
Selain rumah warga, gempa juga berdampak terhadap berbagai fasilitas pelayanan masyarakat.
Tercatat 804 fasilitas pendidikan terdampak, disusul 237 fasilitas kesehatan, 195 rumah ibadah, dan 257 unit kantor.
Satu gudang Bulog juga dilaporkan terdampak akibat gempa.
Pada sektor infrastruktur, BNPB mencatat sembilan fasilitas irigasi, 116 fasilitas umum, 45 titik jalan, satu pasar, serta 16 jembatan terdampak.
Kerusakan pada infrastruktur tersebut berpotensi memengaruhi mobilitas warga sekaligus distribusi bantuan dan pelayanan dasar kepada masyarakat di wilayah terdampak.
Gempa M7,7 Guncang NTT pada 15 Agustus
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8/2026).
Pusat gempa dilaporkan berada di wilayah Kabupaten Nagekeo. Guncangan gempa kemudian dirasakan di sejumlah wilayah NTT dan memicu kepanikan masyarakat.
Besarnya kekuatan gempa menyebabkan kerusakan pada rumah, fasilitas umum, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, hingga infrastruktur lainnya.
Pemerintah Provinsi NTT kemudian menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari, terhitung sejak 15 hingga 28 Agustus 2026.
Penetapan status tersebut menjadi dasar bagi pemerintah bersama unsur terkait untuk mempercepat penanganan darurat, evakuasi, pelayanan terhadap korban, pendataan kerusakan, serta pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak.
BNPB: Gempa Susulan Masih Berpotensi Terjadi
Kepala BNPB Letjen Suharyanto sebelumnya mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak agar tetap waspada karena gempa susulan masih berpotensi terjadi.
Menurut Suharyanto, berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), aktivitas gempa susulan diperkirakan masih dapat berlangsung dalam dua hingga tiga minggu setelah gempa utama.
Meski demikian, masyarakat diminta tidak panik. Gempa susulan yang terjadi berdasarkan pemantauan BMKG cenderung memiliki kekuatan lebih kecil dibandingkan gempa utama.
“Jangan panik, tetapi tetap waspada. Selama 2-3 minggu ke depan menurut BMKG gempa susulan itu mungkin masih terjadi. Tetapi gempa-gempa itu tidak sebesar gempa utama,” kata Suharyanto saat menemui penyintas di Desa Peozaka Ramba, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Rabu (19/8/2026), sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis BNPB.
Suharyanto juga menyampaikan bahwa masyarakat tidak perlu mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan mengenai potensi tsunami.
“Bahkan jika ada isu akan terjadi tsunami menurut BMKG itu tidak mungkin. Ini menurut riset ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Warga Diminta Tetap Waspada
Dengan masih adanya potensi gempa susulan, masyarakat di wilayah terdampak diimbau mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan BMKG serta tidak mudah terpengaruh kabar yang belum terverifikasi.
Kewaspadaan terutama diperlukan bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan. Bangunan yang telah rusak atau mengalami perubahan struktur dapat menjadi lebih berisiko apabila kembali diguncang gempa.
Pemerintah dan tim penanganan bencana juga terus melakukan pendataan terhadap korban, kerusakan bangunan, kebutuhan pengungsi, serta kondisi fasilitas publik di wilayah terdampak.
Jumlah korban dan kerusakan masih dapat berubah seiring proses pendataan dan verifikasi di lapangan. Karena itu, pembaruan informasi resmi dari BNPB, pemerintah daerah, dan instansi teknis menjadi rujukan penting bagi masyarakat.
Fokus Penanganan: Keselamatan dan Pemulihan Warga
Dengan lebih dari 82 ribu warga mengungsi dan puluhan ribu rumah mengalami kerusakan, penanganan gempa NTT tidak hanya berfokus pada masa tanggap darurat.
Kebutuhan pengungsi, layanan kesehatan, pendidikan, akses transportasi, perbaikan infrastruktur, hingga pemulihan tempat tinggal menjadi pekerjaan besar yang harus dilakukan secara bertahap.
Pemerintah daerah bersama BNPB, BPBD, TNI, Polri, tenaga kesehatan, relawan, dan berbagai unsur lainnya dituntut memastikan bantuan dapat menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat juga diharapkan tetap tenang, mengikuti arahan petugas, dan memastikan informasi mengenai gempa maupun potensi bencana lainnya berasal dari sumber resmi.
Data BNPB per 20 Agustus 2026 pukul 09.00 WIB menunjukkan bahwa gempa NTT telah menimbulkan dampak kemanusiaan dan kerusakan yang signifikan. Dengan status tanggap darurat masih berlangsung hingga 28 Agustus, penanganan korban dan pemulihan wilayah terdampak menjadi prioritas pemerintah dalam beberapa hari ke depan. (*)






