Jakarta Masuk 10 Kota dengan Kualitas Udara Terburuk, AQI Capai 124

Bagikan

Jakarta Masuk 10 Kota dengan Kualitas Udara Terburuk, AQI Capai 124
Kabut polusi menyelimuti langit Jakarta dan mengurangi jarak pandang kawasan perkotaan. Kondisi ini terjadi saat kualitas udara Jakarta berada dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif dengan indeks kualitas udara (AQI) mencapai 124, Kamis (10/9/2026). (Foto: Istimewa)

JAKARTA, NUSANTARA INFO: Kualitas udara Jakarta pada Kamis (10/9/2026) pagi berada dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Berdasarkan pemantauan kualitas udara terkini, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Jakarta tercatat berada di angka 124, dengan konsentrasi polutan utama PM2.5 mencapai 47,3 mikrogram per meter kubik.

Kondisi tersebut menempatkan Jakarta di peringkat ke-10 dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk di dunia berdasarkan pemantauan yang menjadi acuan data tersebut.

Posisi Jakarta berada di bawah sejumlah kota yang mencatat tingkat polusi lebih tinggi. Lahore, Pakistan, berada di peringkat pertama dengan AQI 177, disusul Kuching, Malaysia, dengan AQI 172 dan Delhi, India, dengan AQI 169.

Selanjutnya, Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, tercatat memiliki AQI 164, sedangkan Kolkata, India, berada di angka 153.

Polusi Jakarta Berpotensi Meningkat

Kondisi udara Jakarta perlu mendapat perhatian karena kualitas udara dapat berubah sepanjang hari. Berdasarkan tren per jam dalam pemantauan tersebut, tingkat polusi berpotensi meningkat hingga sore dan malam hari.

AQI Jakarta bahkan diperkirakan dapat mencapai 169.

Jika kondisi tersebut terjadi, tingkat paparan polusi udara bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan perlu menjadi perhatian, terutama bagi kelompok yang lebih rentan terhadap dampak kualitas udara buruk.

Kelompok sensitif mencakup anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan. Mereka disarankan mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Aktivitas fisik di luar ruangan dapat meningkatkan jumlah udara yang dihirup sehingga paparan terhadap polutan juga berpotensi meningkat.

PM2.5 Jadi Perhatian

Salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam kondisi kualitas udara Jakarta adalah konsentrasi PM2.5.

PM2.5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil yang dapat terhirup hingga masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Karena ukurannya yang kecil, paparan partikel tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam pemantauan kualitas udara.

Dalam pemantauan Kamis pagi, konsentrasi PM2.5 Jakarta tercatat mencapai 47,3 mikrogram per meter kubik.

Baca Juga :  Sampah Jakarta Capai 7.700 Ton per Hari, Pramono: Kini Jadi ‘Harta Karun’

Kondisi tersebut menunjukkan perlunya masyarakat memperhatikan perkembangan kualitas udara secara berkala, khususnya sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.

Jakarta di Antara Kota dengan Polusi Tinggi

Selain Lahore, Kuching, Delhi, Kinshasa, dan Kolkata, sejumlah kota lain yang berada di atas Jakarta dalam daftar tersebut antara lain Dhaka, Bangladesh, dengan AQI 152, serta Addis Ababa, Etiopia, dengan AQI 134.

Yerusalem dan Kuala Lumpur masing-masing tercatat memiliki AQI 124.

Dengan angka AQI 124, Jakarta masuk dalam kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus, terutama bagi masyarakat yang sensitif terhadap polusi udara.

Kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa kualitas udara di kota besar dapat berubah dalam waktu relatif singkat. Karena itu, posisi Jakarta dalam pemeringkatan kualitas udara tidak bersifat tetap dan dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer serta konsentrasi polutan.

Warga Diminta Perhatikan Aktivitas di Luar Ruangan

Masyarakat, terutama kelompok sensitif, disarankan mempertimbangkan kondisi kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.

Ketika kualitas udara memburuk, warga dapat mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan. Langkah tersebut terutama penting bagi anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki gangguan pernapasan.

Warga juga dapat mengurangi masuknya udara luar ke dalam ruangan dengan menutup jendela ketika kualitas udara di luar sedang buruk.

Sementara bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker dapat menjadi salah satu langkah perlindungan terhadap paparan polusi, terutama bagi kelompok yang rentan.

Pemantauan kualitas udara secara berkala juga penting dilakukan karena kondisi dapat berubah dari pagi hingga malam hari.

Dengan AQI Jakarta yang tercatat 124 pada Kamis pagi dan adanya potensi peningkatan hingga 169, kewaspadaan terhadap kualitas udara perlu ditingkatkan. Masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas luar ruang berdasarkan perkembangan indeks kualitas udara terkini, terutama pada waktu ketika polusi diperkirakan meningkat. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait