
JAKARTA, NUSANTARA INFO: DPRD Provinsi DKI Jakarta mendorong optimalisasi fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan agar mampu mengolah sampah sesuai kapasitas yang direncanakan. Fasilitas ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.
Eks Ketua Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta, Judistira Hermawan, mengatakan peningkatan kapasitas RDF Rorotan perlu dipersiapkan secara bertahap. Terlebih, proses serah terima fasilitas dari pihak pengembang kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta ditargetkan berlangsung pada Desember 2026.
Menurut Judistira, transisi pengelolaan tersebut harus diikuti dengan kesiapan operasional dan strategi peningkatan kapasitas pengolahan sampah. DPRD juga merekomendasikan agar pengelolaan RDF Rorotan ke depan dapat melibatkan pihak swasta nasional yang memiliki kompetensi dan profesionalisme dalam mengoperasikan fasilitas pengolahan sampah.
Kesiapan DLH, termasuk rencana pengelolaan setelah serah terima, akan menjadi salah satu hal yang didalami DPRD melalui rapat kerja bersama instansi terkait.
“Persiapan-persiapan itu yang nanti dalam rapat kerja akan kita mulai tanyakan kepada Dinas Lingkungan Hidup. Khususnya, bagaimana langkah ke depan agar jumlah sampah Jakarta yang mencapai 9.000 ton per hari ini bisa dikelola dengan baik di Rorotan,” ujar Judistira, Jumat (6/11/2026).
DPRD Bidik Kapasitas RDF Rorotan 2.000 Ton per Hari
Judistira menjelaskan, optimalisasi RDF Rorotan perlu memiliki target jangka pendek dan menengah agar peningkatan kapasitas pengolahan dapat berjalan terukur.
Pada tahap awal, tanggung jawab optimalisasi fasilitas berada di tangan DLH DKI Jakarta. Selanjutnya, ketika pengelolaan diserahkan kepada pihak swasta, operator profesional diharapkan mampu meningkatkan kapasitas pengolahan secara konsisten.
DPRD DKI Jakarta menargetkan fasilitas RDF Rorotan setidaknya mampu mengolah 2.000 ton sampah per hari. Target tersebut diharapkan dapat dicapai secara bertahap dalam kurun waktu 2027 hingga 2028.
“Ya, saya sih minimal 2.000 ton per hari. Konsisten. Maksimalnya, 2027 sampai dengan 2028. Bertahap,” tegasnya.
Target tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas pengolahan sampah di Jakarta, mengingat volume sampah Ibu Kota mencapai sekitar 9.000 ton setiap hari.
RDF Rorotan Diharapkan Kurangi Beban TPST Bantargebang
Optimalisasi RDF Plant Rorotan dinilai memiliki peran strategis dalam pembenahan sistem pengelolaan sampah Jakarta. Peningkatan kapasitas fasilitas tersebut diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang selama ini harus dikirim ke TPST Bantargebang.
Selain mengurangi beban tempat pembuangan akhir, teknologi Refuse Derived Fuel memungkinkan sampah yang memenuhi kriteria pengolahan diolah menjadi bahan bakar alternatif. Pemanfaatan ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan sampah yang lebih produktif sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular.
Namun, pencapaian target tersebut membutuhkan kesiapan infrastruktur, sistem operasional, kompetensi tenaga pengelola, serta kepastian skema kerja sama dengan operator.
Melalui fungsi pengawasan, DPRD DKI Jakarta akan terus mendorong DLH memastikan proses transisi pengelolaan RDF Rorotan berjalan sesuai perencanaan. Evaluasi terhadap kesiapan operator dan peningkatan kapasitas juga akan menjadi perhatian dalam pembahasan bersama pemerintah daerah.
Dengan optimalisasi yang dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan, RDF Rorotan diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah Jakarta, mengurangi ketergantungan terhadap TPST Bantargebang, serta meningkatkan pemanfaatan sampah menjadi sumber energi alternatif. (ADV)






