Bandara Soekarno-Hatta Turun ke Peringkat 3 Bandara Tersibuk di Asia Tenggara

Bagikan

Bandara Soekarno-Hatta Turun ke Peringkat 3 Bandara Tersibuk di Asia Tenggara
Aktivitas penumpang di area keberangkatan domestik Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. (Foto: Istimewa)

BANTEN, NUSANTARA INFO: Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, mengalami penurunan peringkat dalam daftar 10 bandara tersibuk di Asia Tenggara pada Oktober 2026. Bandara yang menjadi gerbang utama penerbangan internasional Indonesia tersebut kini berada di posisi ketiga, setelah sebelumnya menempati peringkat kedua selama Agustus dan September 2026.

Berdasarkan data lembaga analisis penerbangan asal Inggris, Official Airline Guide (OAG), posisi Soekarno-Hatta berhasil disalip Bandara Suvarnabhumi di Bangkok, Thailand, yang naik ke peringkat kedua.

Penurunan peringkat ini terjadi meskipun kapasitas kursi penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta justru mengalami pertumbuhan sebesar 3,8 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY), menjadi 3,29 juta kursi pada Oktober 2026.

Sementara itu, Bandara Changi Singapura masih mempertahankan posisinya sebagai bandara tersibuk di Asia Tenggara dengan kapasitas 3,66 juta kursi keberangkatan terjadwal. Angka tersebut meningkat 1,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di posisi kedua, Bandara Suvarnabhumi Bangkok mencatatkan kapasitas 3,3 juta kursi atau tumbuh 3,9 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini membuat bandara utama Thailand tersebut berhasil menggeser Soekarno-Hatta dari posisi kedua.

“Bandara Internasional Kuala Lumpur berada di peringkat keempat setelah kapasitas kursinya turun 5,2 persen menjadi 3,22 juta,” tulis laporan OAG.

Daftar 10 Bandara Tersibuk Asia Tenggara Oktober 2026

Persaingan kapasitas penerbangan di kawasan Asia Tenggara menunjukkan dinamika yang cukup ketat. Pertumbuhan kapasitas kursi di sejumlah bandara utama membuat posisi dalam daftar bandara tersibuk mengalami perubahan.

Berdasarkan data OAG yang dikutip dalam laporan tersebut, tiga besar bandara tersibuk Asia Tenggara pada Oktober 2026 ditempati Changi Singapura, Suvarnabhumi Bangkok, dan Soekarno-Hatta Indonesia.

Berikut perbandingan kapasitas kursi empat bandara teratas:

  1. Bandara Changi Singapura: 3,66 juta kursi.
  2. Bandara Suvarnabhumi Bangkok: 3,30 juta kursi.
  3. Bandara Soekarno-Hatta Indonesia: 3,29 juta kursi.
  4. Bandara Internasional Kuala Lumpur Malaysia: 3,22 juta kursi.

Selisih kapasitas antara Suvarnabhumi dan Soekarno-Hatta relatif tipis, yakni sekitar 10 ribu kursi. Namun, pertumbuhan kapasitas yang lebih tinggi membuat bandara Bangkok tersebut berhasil menempati posisi kedua.

Baca Juga :  Fokus Zero Odol Tahun 2023, Dirjen Hubdat Lakukan Normalisasi Truk dan Sosialisasi PM 75/2021 di Sumut

Soekarno-Hatta Tetap Jadi Pintu Utama Penerbangan Indonesia

Meski turun satu peringkat, Bandara Internasional Soekarno-Hatta masih menjadi salah satu pusat aktivitas penerbangan terbesar di Asia Tenggara.

Bandara yang berada di Tangerang, Banten, tersebut merupakan pintu utama transportasi udara untuk kawasan metropolitan Jakarta dan sekitarnya. Perannya sangat penting dalam mendukung mobilitas penumpang, aktivitas bisnis, pariwisata, hingga konektivitas penerbangan domestik dan internasional.

Soekarno-Hatta juga menghadapi berbagai tantangan operasional, terutama ketika memasuki musim penghujan. Cuaca ekstrem berpotensi memengaruhi kelancaran penerbangan, termasuk aktivitas lepas landas dan pendaratan pesawat.

Dari sisi infrastruktur, bandara ini memiliki luas area sekitar 1.800 hektare. Berdasarkan data yang dikutip dalam laporan tersebut, Soekarno-Hatta tercatat sebagai bandara terbesar keempat di Asia Tenggara berdasarkan luas lahan.

Posisi tersebut berada di bawah Bandara Internasional Kuala Lumpur di Malaysia, Bandara Suvarnabhumi di Thailand, dan Bandara Internasional Clark di Filipina.

Kapasitas Penerbangan Asia Tenggara Tumbuh Jadi 50,9 Juta Kursi

Di tengah perubahan peringkat sejumlah bandara utama, pasar penerbangan Asia Tenggara secara keseluruhan masih menunjukkan tren pertumbuhan positif.

OAG mencatat total kapasitas kursi penerbangan di kawasan Asia Tenggara mencapai 50,9 juta kursi pada Oktober 2026. Jumlah tersebut meningkat 1,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ini mencerminkan aktivitas penerbangan regional yang terus berkembang seiring meningkatnya konektivitas antarnegara dan mobilitas masyarakat.

Bagi Indonesia, posisi Soekarno-Hatta dalam persaingan bandara tersibuk Asia Tenggara menjadi salah satu indikator penting perkembangan sektor transportasi udara nasional.

Ke depan, peningkatan kapasitas penerbangan perlu diimbangi dengan penguatan infrastruktur, efisiensi operasional, kualitas pelayanan, serta kesiapan menghadapi tantangan cuaca dan lonjakan penumpang.

Dengan kapasitas yang masih berada di jajaran tiga besar Asia Tenggara, Bandara Soekarno-Hatta tetap memiliki peran strategis dalam memperkuat konektivitas Indonesia dengan kawasan regional maupun dunia. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait