
JAKARTA, NUSANTARA INFO: Kualitas sistem pendidikan menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur daya saing suatu negara. Pendidikan yang baik tidak hanya menentukan kualitas sumber daya manusia, tetapi juga berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, inovasi, hingga kesejahteraan masyarakat.
Laporan tahunan US News bersama data World Top 20 (WT20) kembali memotret kualitas sistem pendidikan di berbagai negara. Penilaian tersebut disusun berdasarkan sejumlah indikator, mulai dari kualitas pendidikan publik, akses terhadap pendidikan tinggi, hingga persepsi global mengenai kemampuan suatu negara dalam menyediakan pendidikan berkualitas.
Meski menggunakan metodologi yang berbeda, kedua lembaga tersebut sama-sama menunjukkan masih adanya kesenjangan kualitas pendidikan di berbagai belahan dunia. Beberapa negara bahkan masih menghadapi tantangan serius akibat konflik, kemiskinan, hingga terbatasnya infrastruktur pendidikan.
Indikator Penilaian Sistem Pendidikan
Dalam laporannya, US News menyusun peringkat berdasarkan kombinasi data objektif dan survei global. Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa aspek utama, yaitu:
- Kualitas sistem pendidikan publik.
- Akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi.
- Persepsi global mengenai kualitas pendidikan yang diberikan suatu negara.
Pendekatan tersebut bertujuan memberikan gambaran menyeluruh mengenai kemampuan suatu negara dalam membangun sistem pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan.
10 Negara dengan Sistem Pendidikan Terburuk Versi US News
Berdasarkan skor dalam skala 0–100, berikut daftar negara dengan sistem pendidikan terendah menurut US News:
- Honduras (0,6)
- Myanmar (0,8)
- Kamboja (1,0)
- El Salvador (1,0)
- Lebanon (1,1)
- Tunisia (1,1)
- Kolombia (1,1)
- Maroko (1,3)
- Brasil (1,4)
- Bangladesh (1,5)
Negara-negara tersebut memperoleh skor rendah karena berbagai faktor, mulai dari keterbatasan akses pendidikan, kualitas pembelajaran yang belum merata, hingga tantangan sosial dan ekonomi yang memengaruhi sektor pendidikan.
Versi WT20: Didominasi Negara Berkonflik
Sementara itu, World Top 20 (WT20), organisasi nirlaba yang mengelola World Best Education Systems International Education Database, merilis daftar yang berbeda.
Menurut WT20, sepuluh negara dengan sistem pendidikan paling rendah adalah:
- Somalia
- Sudan Selatan
- Andorra
- Republik Demokratik Kongo
- Zambia
- Suriah
- Angola
- Guinea-Bissau
- Gabon
- Haiti
Sebagian besar negara dalam daftar tersebut menghadapi tantangan besar seperti konflik berkepanjangan, ketidakstabilan politik, krisis ekonomi, hingga keterbatasan akses terhadap layanan pendidikan dasar.
Perbedaan daftar antara US News dan WT20 dipengaruhi oleh metodologi penilaian yang digunakan masing-masing lembaga. Meski demikian, keduanya sama-sama menyoroti pentingnya investasi pada sektor pendidikan sebagai fondasi pembangunan jangka panjang.
Bagaimana Posisi Indonesia?
Indonesia memang tidak masuk dalam 10 negara dengan sistem pendidikan terburuk versi US News. Namun, capaian Indonesia masih menunjukkan adanya pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan.
Dalam laporan tersebut, Indonesia memperoleh skor 1,8 dari skala 100. Nilai ini hanya sedikit lebih tinggi dibanding negara-negara yang masuk dalam kelompok terbawah.
Jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara, posisi Indonesia juga masih tertinggal.
Singapura memperoleh skor 49,6, jauh meninggalkan negara-negara lain di kawasan. Malaysia mencatat 8,4, Vietnam 4,1, sedangkan Filipina memperoleh 3,4.
Adapun menurut data WT20, Indonesia berada di peringkat ke-67 dari 203 negara. Posisi tersebut menunjukkan bahwa kualitas pendidikan nasional masih berada pada kelompok menengah dan memerlukan peningkatan agar mampu bersaing di tingkat global.
Tantangan Pendidikan Nasional
Peringkat internasional tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran kualitas pendidikan suatu negara. Namun, hasil tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki berbagai aspek, mulai dari pemerataan akses pendidikan, peningkatan kualitas guru, penyediaan sarana dan prasarana, hingga penguatan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus menjalankan berbagai program reformasi pendidikan, termasuk transformasi pembelajaran, digitalisasi sekolah, peningkatan kompetensi tenaga pendidik, serta perluasan akses pendidikan tinggi.
Di sisi lain, pemerataan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil masih menjadi tantangan yang membutuhkan perhatian berkelanjutan.
Dengan peningkatan kualitas pendidikan yang konsisten, Indonesia diharapkan dapat memperbaiki posisinya dalam berbagai indeks pendidikan global sekaligus mencetak sumber daya manusia yang mampu bersaing di tingkat internasional. (*)






